7. Perang adalah Wahana Ujian dan Kemajuan

Aturan penciptaan ketujuh perang adalah bahwa kaum mukminin dan orang-orang yang mengesakan Tuhan, dengan penuh kesabaran menghadapi kegetiran dan kesusahan perang ia mendapatkan kesempurnaan mental dan maknawi; dan hal ini merupakan efek positif yang lain dari perang yang menyebabkan Tuhan berdasarkan kehendak bijak-Nya meletakkan aturan ini pada sistem penciptaan (takwini) dan pengaturan (tasyri'i) kehidupan manusia.

Bahkan dapat dikatakan bahwa perang merupakan salah satu arena-arena terpenting yang dapat mendekatkan manusia kepada tujuan utama penciptaannya dan kesempurnaan pamungkas.

Lebih jelasnya, tujuan utama penciptaan manusia adalah manusia dapat mengakses kepada kesempurnaan maknawi dan mental dan kedekatan diri kepada Allah. Apabila seseorang hendak melakukan sair dan suluk untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka ia hanya akan sampai ketika mampu menyambut segala kesusahan dan kepayahan serta kepahitan dan menyerahkan jiwa untuk menanggung segala problema dan boikot.

Sampai pada kesempurnaan maknawi dan kematangan jiwa hanya dapat tercapai ketika manusia meninggalkan hawa nafsunya dan hanya ikut kepada dustur dan kehendak Ilahi serta senantiasa bersikap sabar dan istiqamah.

Manusia dapat mencapai ketinggian derajat kesempurnaan sehingga ia tidak tertawan oleh kehendak-kehendak hawa nafsunya dan terhempas oleh taufan nalurinya. Dan hanya menginginkan keridhaan Allah Swt, meskipun bertolak belakang dengan keinginan hawa nafsunya sendiri.

Rahasia dideranya kaum mukminn dan orang-orang shaleh dengan selaksa petaka dan musibah duniawi tidak lain supaya mereka mendapatkan kematangan dan kesempurnaan.

Allah Swt dapat mencegah datangnya pelbagai musibah dan petaka seperti; kemiskinan, penyakit, chaos, kelaparan dan lain sebagainya dari kaum mukminin dan orang-orang shaleh; akan tetapi Allah Swt lantaran kemurahan dan kasih-Nya tidak melakukan hal ini. Dia menghendaki kaum mukminin sanggup menghadapi pelbagai kesulitan dan kesusahan sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan dan semakin banyak mendapatkan rahmat dan kemurahan Ilahi. Datangnya perang dalam kehidupan orang-orang yang menyembah Tuhan dan yang mengesakan-Nya juga untuk maksud ini.

Perang dengan memperhatikan segala musibah dan kesulitan serta kesusahan yang beragam merupakan medan yang baik bagi manusia untuk menimba pengalaman dan mengeluarkan segala kenistaan yang dimilikinya.

Perang merupakan arena yang sangat tepat supaya manusia-manusia mukmin berada dalam pelbagai musibah yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Dan dengan sukses serta meraih kemenangan di dalam musiba tersebut kemudian melintasi satu demi satu derajat "qurb ilaLlah" dan kesempurnaan, mendapatkan kelayakan untuk sampai kepada tingkatan tertinggi dari kesempurnaan dan kedekatan kepada Tuhan.

Orang-orang mukmin dengan penguasaan diri, sabar dan istiqamah dalam medan tempur menunjukkan, dengan melebur pada peristiwa-peristiwa perang, ia meluruskan dan mensucikan dirinya. Allah Swt berkenaan dengan masalah ini berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami adalah Allah" kemudian meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kalian merasa takut dan janganlah merasa sedih dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS. Fushilat [41]: 30)

Ayat suci ini dengan redaksi "tsummastaq‚mŻ" (kemudian meneguhkan pendirian mereka) sembari menunjukkan kepada kesusahan dan kesulitan yang membentang di antara jalan seorang salik (orang yang meniti jalan suluk), memberikan berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa apabila ia teguh dan kokoh menghadapi segala kesusahan dan berjuang menyingkirkannya, pada akhirnya ia akan memasuki surga dan meraih kebahagiaan selamanya.

Oleh karena itu, al-Quranul Karim dalam ayat-ayat yang beragam, terjadinya perang dan resiko-resiko serta kesusahan dan kehancuran yang didapatkan sebagai hasilnya, memandangnya sebagai berdasarkan kehendak bijaksana Ilahi, dan media ujian dan cobaan bagi manusia.

Allah Swt menimpakan perang dan konsekuensi-konsekuensinya sehingga potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia dapat dituai dan bersemi, dan melalui kanal perang manusia dapat mengaktualkan segala potensinya untuk menjadi sempurna serta melintasi tingkatan tanpa batas kesempurnaan kemanusiaan satu demi satu dan mendaki puncak-puncak tertinggi kesempurnaan hakiki manusia.

Allah Swt melalui perang menguji orang-orang beriman sehingga menjadi ketahuan hingga batas mana ia siap menanggung segala kesusahan dan mengamalkan taklifnya:

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengatakan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. Albaqarah [2]: 155-157)

Ayat suci ini berkaitan dengan jihad dan Allah Swt mempersiapkan semangat dan jiwa orang-orang beriman untuk ikut serta dalam perang; akan tetapi bukan dalam bentuk propaganda yang tak bernilai dan jauh dari realitas, melainkan dengan penjelasan silsilah realitas-realitas, kenyataan-kenyataan dan nilai-nilai insani.

Secara asasi, sunnah dan kebiasaan Sy‚ri' muqaddas Islam (yang memberikan syariat, Allah Swt) sekali-kali tidak pernah menggiring manusia - apakah ia seorang mukmin atau non-mukmin - dengan tipuan dan kelicikan untuk mencapai tujuan-Nya.

Di sini Allah Swt sembari menyinggung pelbagai kesulitan yang biasanya menyertai perang - seperti, ketidakamanan, kelangkaan dan kemahalan bahan-bahan makanan, kerugian finansial dan harta, bunuh dan membunuh, menjadi tawanan dan sebagainya - juga memperkenalkan kesemuanya ini sebagai media ujian dan medan cobaan bagi orang-orang beriman untuk mencapai kesempurnaan-kesempurnaan maknawi. Dan Allah Swt memberikan janji kemenangan bagi orang-orang mukmin yang bersabar dan istiqamah.

Orang-orang mukmin yang sabar adalah orang-orang yang beriman kepada mabda dan ma'ad. Dan memiliki iman paripurna; dan kami sebagai kelanjutan akan menjelaskan bahwa salah satu faktor kemenangan kaum mukminin atau musuh-musuhnya adalah tauhid dan makrifat yang mengakar secara kuat.

Keyakinan dan iman komunitas muslim merupakan kunci kemenangan mereka atas musuh-musuh dan keluar sebagai pemenang dalam medan ujian. Keuntungan gemilang yang dicapai oleh orang-orang sabar dalam peperangan adalah cinta dan kasih Tuhan dan mendapatkan hidayah dimana Tuhan pada penghujung ayat yang disebutkan di atas mengabarkan dan berfirman bahwa mereka akan mendapatkan rahmat dan salam dari para malaikat. "..Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." Hasil yang dijelaskan oleh ayat ini adalah bahwa Allah Swt memandang perang sebagai media ujian manusia dan wahana untuk kemajuan dan kesempurnaan orang-orang beriman.

Dan orang-orang yang tidak berbalik dari musuh dan tidak meninggalkan medan perang diperkenalkan bahwa mereka mencapai derajat kesempurnaan yang tertinggi, dan mendapatkan perhatian dan kasih cinta Tuhan.


Pada ayat yang lain ihwal perang, kita membaca:

"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejadian dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara umat manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan suoaya sebagia kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan supaya Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yangberjihad dan belum nyata orang-orang yang sabar.Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya, (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya.(QS. ?li Imran [3]: 140-143)


Pada ayat-ayat ini terdapat beberapa poin penting yang layak untuk disebutkan, kami akan menyebutkan beberapa bagian dari poin tersebut:

Pertama dan sebelum segala sesuatu, telah disinggung bahwa kekuasaan-kekeuasaan dan pemerintahan-pemerintahan tidak tersentral hanya pada beberapa orang atau kelompok; akan tetapi di samping di bagi pada satu tataran di antara orang-orang dan kelompok-kelompok yang beragam, juga sepanjang perjalanan sejarah kekuasan dan pemerintahan terbagi-bagi di antara orang-orang atau kelompok-kelompok.

Sebelum ini juga, kami telah menyinggung bahwa kehendak Ilahi yang berlaku dalam hal ini bahwa tidak ada satu pun kekuasaan selamanya berada pada seseorang, kelompok, bangsa; akan tetapi hikmat Ilahi menuntut kekuasaan itu terbagi-bagi. Suatu waktu berada di tangan satu orang dan pada waktu yang lain berada pada kekuasaan orang lainnya. Realitas ini telah ditimbang dan dimasukkan dalam desain universal penciptaan dan pengaturan Ilahi untuk kehidupan umat manusia.

Poin kedua yang disebutkan pada ayat di atas, tatkala kekuasaan terbagi-bagi sebagai hasil dari perang dan adu jotos, terkadang perang tersebut merupakan media untuk menguji kaum mukmin, sehingga Allah Swt memperkenalkan orang-orang yang benar-benar beriman dan memilih di antara mereka.

Kesimpulannya Allah Swt yang memiliki tujuan dalam menyeret kaum mukminin ke medan perang dan salah satu dari tujuan tersebut adalah bahwa kaum mukminin diuji dalam medan pertempuran tersebut.

Poin ini terdapat pada ayat pertama, pada ayat berikutnya juga dengan bahasa yang sama telah mendapat penegasan; Ketika Allah Swt berfirman: "wa liyumahhisha All‚hu alladzina ‚manŻ",(Dan supaya Allah membersihkan orang-orang yang beriman).

Tamhish yang tersebut pada ayat tersebut bermakna membersihkan dari aib dan cela. Membersihkan ini dapat bermakna sosial dan juga bermakna personal. Tamhish pada tataran sosial ketika pada satu masyarakat Islam dimana seluruh orang, lebih-kurangnya, mengamalkan syariat secara lahir, akan tetapi kebanyakan dari mereka terkontaminasi dengan pelbagai noda dan nista.

Dalam keadaan seperti ini, perang merupakan media dan wahana paling jitu untuk mengetahui sesiapa orang yang benar-benar muslim dan muwahhid (orang yang mengesakan Tuhan) dan pada setiap keadaan dan situasi senantiasa mengedepankan keridhaan Tuhan. Dan sesiapa yang tidak mendapatkan manfaat dari Islam dan tauhid hakiki dan mental kafir, syirik, zalim dan maksiat wujud dalam dirinya. Perang, dengan akurasi yang tinggi, memisahkan barisan pecinta yang benar dan pengklaim yang dusta:

"Liyamiz All‚hu al-khabÓts min ath-thayyib" (Sehingga Allah memisahkan antara yang nista dan kudus).

Tamhish juga memiliki dimensi personal. Boleh jadi seseorang adalah muslim secara original, akan tetapi imannya bercampur dengan kekurangan, kelemahan seperti: hedonis, suka santai, pemalas, haus akan kedudukan, zalim dan perusak. Untuk mensucikan orang dari noda-noda ruh dan jiwa ini dan mencerabut noda-noda ini dari akarnya, harus tersedia keadaan dan situasi sehingga perhatian batin orang ini tertuju pada sesuatu yang lain.

Sepanjang kehidupan seseorang berada dalam keadaan aman dan tentram dan menikmat berbagai jenis nikmat dan pemberian Tuhan, biasanya kecendrungan-kecendrungan hewani, nafsani dan syaitani menguat pada diri manusia dan mendapatkan kesempatan ke manapun dan apapun yang ia kehendaki ia bebas melakukannya.

Tanpa ragu, apabila manusia melewati hidupnya dengan kecendrungan-kecendrungan ini, sedikit demi sedikit iman seseorang akan menjadi lemah dan pada akhirnya akan hilang.

Dengan munculnya pelbagai problema dan ketidakamanan pada kehidupan personal dan sosial manusia, proses kehidupan normal seseorang menjadi berantakan. Dan dalam keadaan seperti ini, peluang untuk mensucikan dan membersihkan jiwa manusia tersedia, dimana hal ini merupakan hasil yang ideal dalam kehidupan manusia.

Perang merupakan salah satu contoh ketidakamanan dan peristiwa pahit dimana manusia berada dalam keadaan membangun diri yang sangat pelik dan pada saat yang sama sangat bermanfaat bagi dirinya.

Dalam perang, karena manusia berada dalam keadaan mempertaruhkan jiwa dan raganya dan manusia terpaksa harus menyerahkan harta, istri dan anak-anak dan keterikatan-keterikatan duniawi yang lain, merupakan peluang yang sangat tepat untuk menyingkirkan segala sesuatu selain Tuhan dan hanya memfokuskan hatinya hanya kepada-Nya.

Perang dapat memutuskan segala sesuatu yang tidak pantas bagi iman tulus manusia dalam batinnya, menghias ruh dan jiwanya dan menyampaikan maknawiyahnya kepada kesempurnaan; dan hal ini adalah tamhish dan membersihkan seseorang untuk manusia.

Kesimpulannya, salah satu hasil penting dan bernilai perang adalah tersedianya peluang yang tepat sehingga orang-orang yang memiliki potensi yang melimpah dapat mengaktualkannya dan meraih kesempurnaan. Ia menghabiskan waktunya untuk membangun dirinya dalam medan tempur dan arena perang. Dan dalam tingkatan beragam perang, ia dapat menjauhkan segala keterikatan dan ketergantungan dari dirinya dan menggapai kesempurnaan ruh dan maknawi.

Kami mengalami makna ini dalam perang yang dipaksakan (imposed war) yang berlangsung lama, kami semua adalah saksi bahwa kebanyakan dari para pemuda dan pemuda-pemuda pada masa thagut yang terjerembab dalam akhlak-akhlak tercela - dan kebanyakan dari sifat-sifat tercela tersebut yang secara aktual terjangkiti perbuatan-perbuatan tercela tersebut - selama masa perang ini, mereka kembali kepada Allah Swt dan mendapatkan kesempurnaan hakiki dan kebanyakan dari mereka pada satu malam, melewati ratusan malam; hingga mereka menjadi teladan dan paragon bagi orang-orang yang mengesakan Tuhan dan para urafa. Mereka di samping menjadi hamba Tuhan yang saleh dan juga menjadikan orang-orang yang saleh. Apabila perang ini tidak berkecamuk, maka seluruh orang-orang saleh yang muslih (yang memperbaiki) juga tidak akan pernah ada.

Oleh karena itu, perang meskipun terdapat kesusahan, kepelikan dan kerugian yang mengikutinya, apabila ia tidak memiliki manfaat kecuali satu manfaat saja - dimana orang-orang beriman dan orang-orang shaleh dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah yang memberikan seluruh ketinggian maknawi dan mental; dan tentu saja kaum Materialis tidak dapat memahami manfaat ini - nikmat dan anugerah - yang tidak satu pun lisan yang dapat mensyukuri nikmat tersebut dengan sebenar-benar syukur.

Dari sudut pandang Islam, tujuan penciptaan adam dan alam semesta adalah mendekatnya manusia kepada Allah Swt, dan perang merupakan media yang paling baik yang dapat menjadi pendahuluan kedekatan dan mendapatkan kemenangan dan kedudukan yang tinggi kemanusiaan di hadapan Tuhan.