Perumpamaan Keduapuluh Delapan:


Para Pemula Pemeluk Islam

Allah Swt berfirman dalam surat an-Nahl ayat ke 92 sebaagi berikut: "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu".


Pengantar

Pada mulanya orang-orang Islam adalah kelompok minoritas, sementara orang-orang musyrik adalah mayoritas. Sepertiga dari kelompok minoritas tersebut adalah para pemuda. Orang-orang yang merindukan dan beriman kepada Rosulullah Saw. Mereka menghadapi berbagai mancam tekanan dari kabilah-kabilah, teman dan dari masyarakat musyrikin secara umum 228.

Sebagian mereka seperti Abu Dar, Bilal dan Ammar melawan semua tekanan tersebut. Mereka tetap pada akidahnya, berkorban deminya, dan meninggal sebagai orang-orang muslim. Namun sebagian lainnya ada yang tidak tahan menghadapi tekanan-tekanan yang selalu mengitari mereka, dan ini adalah mayoritas dari kaum mukminin sat itu. Mereka bahkan keluar (murtad) setelah menjalani pase-pase Islam dna iman yang sulit. Nah ayat di atas memaparkan kondisi keimanan yang tidak stabil dari sepertiga kaum muslimin tadi.


Syarah dan tafsir

Allah Swt berfirman: "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali".

Allah berbicara kepada para pemula kaum muslimin yang memikul beban Islam dan iman yang berat. Mereka menjalani berbagai macam rintangan pada pase ini dan mereka tetap cendrung pada Islam sebagai agama langit yang terbaik. Allah Swt memperingatkan mereka agar tidak menjadi seperti seorang perempuan dungu yang mengurai kembali benang jahitannya sesudah memikul beban dan lelah dalam memintalnya. Maka perumpamaan mereka yang murtad dari Islam dan iman kepada syirik seperti orang-orang bodoh dan dungu itu.

Para ulama berbeda pendapat tentang nama perempuan dungu ini. Sebagiannya berkata namanya adalah R‚ithah. Sebagian lagi berkata nama adalah Rabathah, dan sebagian lainya lagi berkata namanya adalah R‚bithah. Tapi yang terpenting adalah ia seorang perempuan yang hidup pada masa Jahiliyah.

Dan karena kebodohan dan kedunguannya yang sangat, orang-orang menyebutnya dengan panggilan hamaq‚u (orang yang sangat dungu).

Aktivitas yang selalu dilakukan perempuan dungu ini adalah pada setiap pagi hari ia memintal wal dan menyuruh tetangga-tetangganya memintal wal. Lalu pada sore harinya ia memerintah kembali para tetangga itu untuk mengurai hasil pintalannya. Perbuatan seperti ini selalu ia ulang-ulang pada setiap hari.

Al-Qur`an mengingatkan para muslim pemula agar tidak berbuat dengan keislaman dan keimanannya sebagaimana dilakukan perempuan dungu ini terhadap hasil pintalannya.

Allah Swt berfirman: "kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu". Artinya, janganlah kalian menjadikan sumpah kalian itu sebagai alasan untuk berlaku khianat dan kerusakan, dan janganlah kalian mempermainkan baiat kalian kepada Allah Swt.

Allah Swt berfirman: "disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain". Artinya janganlah kalian menjadikan keminoritasan kalian dan kemayoritasan kelompok musyrikin sebagai alasan untuk membatalkan baiat kalian kepada Allah dan Rosul-Nya. Sesungguhnya jumlah besar dan kecil komunitas bukanlah apa-apa kecuali hanya rasionalisasi dan justifikasi saja.

Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu". Artinya bahwa jumlah komunitas yang hanya sedikit adalah ujian bagi kalian, dan yang harus kamu lakukan adalah berusaha terus untuk menuju sukses.

Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu". Tidaklah diragukan lagi bahwa Allah Swt akan menjelaskan kepada semua umat pada hari kiamat apa yang menjadi perselisihan di antara umat manusia. Pada saat itu orang-orang kafir dan musyrik akan menyesal karena ketidakberimanannya.

Perumpamaan ini sangatlah indah, mendalam dan menarik sekali. Ia mengingatkan kaum muslimin agar tidak mengurai kembali tali keimanannya setelah melewati berbagai tekakan dan kesulitan, dan kala lain juga ketakutan terjatuh lagi pada kesyirikan.


Sasaran-sasaran ayat

1. Kalau wal tidak dipintal maka tidak ada manfaatnya dan tidak pula bisa dijadikan sesuatu apapun. Namun setelah dipintal dengan baik dan teliti, maka ia dapat dijadikan baju atau sajadah, dan apabila tenunannya tabal, ia dapat dibuat menjadi tambang dan bahkan bisa dibuat menjadi kemah padang pasir.

Sesungguhnya masyarakat yang terpesah-pesah bagaikan wal terurai yang tidak bisa berfungsi apapun. Adapun jika ia dipintal dan disatukan, ia dapat memberikan berbagai manfaat dan berkah.

2. Sesungguhnya wal pada kondisi biasa adalah lemah, rapuh dan dapat terbang oleh terpaan angin sekalipun hanya dengan angin spoy-spoy, dan sama sekali tidak mampun untuk melawan terpaannya. Sementara telah dipintal dan disatukan dengan kuat maka kita dapat menjadikannya menjadi berbagai macam komoditas, bahkan bisa juga dijadikan layar kapal yang mampu menggerakkan kapal-kapal yang besar.

3. Satu-satunya cara untuk menguatkan wal ini adalah dengan menyatukan dan menggabungkannya menjadi satu kesatuan. Memang benar kesatuan dan pengaturan pintalan-pintalan ini, kesalingberhubungannya, menyatukan keceraiberaian di antara semua benang-benangnya, maka ia akan menjadi sumber segala macam manfaat. Hal ini mengajarkan kepada manusia bahwa pada dirinya terkandung banyak sekali potensi yang dapat digali dan diaktualkan. Berbagai potensi yang jika disusun dan dipintal secara baik, maka akan membuahkan hasil baru, seperti kehendak, kesatuan misi, iman dan tawakal kepada Allah Swt.

Dari sini al-Qur`an berkata kepada kaum muslimin bahwa mereka telah dirajut dengan iman, maka janganlah mencerai-beraikan kembali rajutan-rajutan iman ini.

Terdapat dalam khutbah Zainab a.s, ketika telah sampai di pintu-pintu masuk Kufah, beliau berceramah kepada orang-orang di sana: "Sesungguhnya perumpamaan kalian adalah seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembal" 229.

Kenyataannya memang demikian. Mereka telah membaiat Ali dan setelahnya mereka telah membaiat utusan al-Husein, muslim bin Aqil. Hal ini berarti mereka telah memperkuat pintalannya, namun kemudian mereka mengurainnya kembali. Artinya bahwa undangan mereka kepada al-Husein a.s dan pernyataan mereka untuk memberikan dukungan kepadanya hanyalah kebohongan saja, dan kini mereka menangis dan menyatakan bela sungkawa kepadanya.

Orang yang memahami dan memiliki rasa sastra yang tinggi terhadap sastra Arab ketika membaca khutbah Zainab a.s ini, ia akan menemukan nilai sastra yang tinggi dalam khutbah ini. Kami meyakini bahwa Zainab a.s dengan perbuatannya ini ia telah mengguncang arsy pemerintahan Syam, dan inilah awal mula keruntuhan pemerintahan Bani Umayyah dan awal mula muncul gerakan-gerakan revolusi yang terjadi saat itu.


Pentingnya menempati janji

Terdapat banyak sekali riwayat yang menekankan pentingnya menempati janji. Di sini kami hanya akan sebutkan tiga saja sebaagi contoh:

1. Dalam sebuah hadis pendek dari Rosulullah Saw, beliau bersabda: "Tidak ada agama bagi orang yang tidak menempati janji" . Hadis penting ini berarti orang yang tidak konsisten dengan janjinya sama dengan orang yang tidak beragama. Orang yang berjanji hari ini dan melangkar janjinya pada besok hari adalah orang yang tidak beragama. Seseorang yang melanggar janjinya di hadapan makhluk Allah akan juga melanggar janjinya di hadapan Allah Swt.

2. Imam Ali a.s berkata kepada Malik Al-Asytar. 230

"Dan bila kamu telah mengingat perjanjian dengan musuhmu atau mengikrarkan sesuatu atas dirimu, lingkungilah janjimu itu dengan keikhlasan dan peliharalah ikrarmu itu dengan amanah. Jadikanlah dirimu sndiri sebagai jaminan atas janji yang telah engkau berikan. Sebab, tidak ada sesuatu yang telah diwajibkan oleh Allah dan lebih patut dipegang teguh oleh manusia -betapapun beraneka aliran yang mereka percayai dan sedemikian berbeda kecendrungan hati mereka- lebih daripada memenuhi janji amanah".

Dunia sekarang dituntut menempati janji-janjinya dan banyak negara berusaha untuk konsisten dengan janji-janjinya. Demikian juga manusia pada masa jahiliyah dan masa penyembahan berhala-berhala juga selalu menempati janjinya. Menempati janji merupakan tradisi yang tidak hanya khusus pada kaum muslimin melalui al-Qur`an, bahkan ia berlaku secara umum. Yang harus bagi kaum muslimin adalah menempati janji-janjinya kepada Allah dan kepada makhluk-makhluk-Nya.

3. Imam al-Baqir a.s berkata dalam sebuah hadisnya yang indah: "Tiga hal yang tidak Allah Azza wa Jalla berikan keringanan (rukhshah) di dalamnya kepada seseorang; menunaikan amanah kepada orang baik dan fajir (buruk), memenuhi janji kepada orang baik dan buruk, dan berbakti kepada kedua orang tua, baik keduanya baik atau buruk "231.

Berdasarkan apa yang kita baca dalam al-Qur`an dan riwayat-riwayat hadis, sesungguhnya menempati janji berperan disetiap pelaksanakan perbuatan kita. Apabila seseorang hendak diterima do`a dan permohonan-permohonannya oleh Allah Swt, maka terlebh dahulu ia harus menempati janji-janjinya kepada Allah Swt.