Perumpamaan Ketujuhbelas:


Dunia yang Sementara

Allah Swt berfirman dalam surat Yunus ayat ke 24 sebgai berikut; "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir".


Pengantar

Ayat tersebut berbicara tentang perumpamana kehidupan dunia yang sementara. Upaya mengingatkannya karena dikhawatirkan seseorang akan tertipu dengan tampilan lahirnya yang menyesatkan dan dari bergantung kepadanya. Seseorang sebenarnya telah kehilangan segala sesuatu ketika ia mendewakan dan berkorban untuk meraihnya. Pada penghujung ayat tersebut Allah Swt menyeru manusia untuk berfikir mencari dan menemukan jalan keluar untuk dirinya.


Syarah dan Tafsir

Allah Swt berfirman; "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu", istilah "kehidupan dunia" telah dipergunakan hampir tujuh puluh kali dalam al-Qur`an. Dunia di sini memiliki dua pengertian sebagaimana berikut;

a. Ia berarti yang dekat. Dunia merupakan bentuk muannas dari adna (rendah). Karena itu, kehidupan dunia adalah kiasan paling dekat untuk kehidupan akhirat yang secara relatif ia jauh.

b. Yang dimaksud dengannya adalah s‚filah; yang kotor, hina dan rendah. Karena itu kata danÓ (rendah) diberikan kepada seseorang yang terperosok dan rendah. Artinya bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang rendah dan tidak memiliki nilai yang sempurna. Itulah kehidupan dunia sebagai lawan dari kehidupan akhirat yang tinggi dan penuh nilai-nilai agung.

Demikian ini sesuai dengan kesimpulan dari beberapa ayat al-Qur`an, seperti ayat berikut ini; "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui"129 . Kehidupan yang sesungguhnya hanyalah kehidupan akhirat saja, adapun kehidupan dunia hanyalah kehidupan semu dan hanya sekedar nama saja, padahal sebenarnya ia adalah kematian bertahap.

Al-hasil, sesungguhnya kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak bernilai, atau ia sebenarnya bukanlah kehidupan secara penuh. Ia "adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi". Yakni kehidupan sementara seperti air hujan yang turun ke bumi dengan tetesan rintik-rintik, dan dengan turunnya ke bumi tumbulah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan berbagai macam buah.

Adapun tumbuh-tumbuhan terbagi menjadi tiga macam;

1. Tumbuh-tumbuhan yang menyediakan makakan seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan biji-bijian bagi manusia "di antara yang dimakan manusia".

2. Tumbuh-tumbuhan yang menyediakan makanan bagi binatang "di antara yang dimakan manusia dan binatang ternak". Pada keduanya terjadi persamaan pada makanan tertentu seperti pohon yang dimanfaatkan buahnya oleh manusia dan daun-daunnya oleh binatang. Ada juga yang khusus untuk binatang saja seperti alaf (makanan khusus binatang).

3. Ketiga adalah tumbuh-tumbuhan dan pohon yang menjadi penghias alam seperti bunga-bunga "Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya".

Yakni pada saat hujan turun, pohon-pohon berbuah dan tiba saatnya memanen, lalu terjadilah sebuah peristiwa yang menghancurkan semua usaha manusia selama ini sehingga tidak mendapatkan hasil tanamannya. Inilah sisi menyakitkan yang berkaitan dengan dunia.

Allah Swt berfirman; "tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami (amran‚) di waktu malam atau siang". Memang benar ketika seseorang melihat dunia berpihak kepadanya, menampakkan wajahnya yang menggiurkan dan elok, ia menyimpulkan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai harapannya. Pada saat seperti ini tiba-tiba datang ketentuan Allah berupa adzab di siang dan malam hari untuk menghancurkan seluruh harapan dan angan-angan tadi, di mana dunia tidak hadir sebagaiman yang diharapkan.

Kata "amran‚" pada ayat tersebut mengajak kita untuk perhatian dan merenungkan lebih serius dimana ia mengandung berbagai sumber dan bukti, mencakup segala bentuk adzab dari Allah Swt. Di sini akan kami coba sebutkan diantar bukti-bukti tersebut;

1. Sekelompok binatang yang nampaknya lemah seperti belalang diperintahkan untuk menghancurkan lahan pertanian secara total sehingga tidak tersisa apapun darinya karena telah dimakan dan dihancurkan seluruhnya, sebagaimana terjadi dari waktu kewaktu di sejumlah negara.

2. Adzab ini terkadang juga terjadi dalam bentuk cuaca panas melalui angin yang diperintah menghancurkan sebagai adzab ilahi. Yaitu ketika ia bergerak maka yang dilewatinya akan keracunan dan mengering. Dan ketika ia melewati sebuah lahan pertanian, ia akan menghancurkan hingga berubah menjadi debu yang menghilang tertiup angin.

3. Adzab ilahi lain yang lebih berbahaya lagi dari angin panas ialah petir atau kilat yang menghancurkan segala sesuatu seperti gunung-gunung, pohon, binatang dan manusia. Atau wujud-wujud lain yang akan kita bicarakan pada pembahasan-pembahasan berikutnya.

Di sana ada poin penting yang terkandung dalam istilah ayat "siang dan malam". Artinya bahwa manusia tidak mempunyai pilihan lain selain tunduk dan menerima terhadap adzab ilahi, tidak ada beda antara siang dan malam hari. Tidak bisa dilukiskan bahwa seseorang pada malam hari saja akan terperdaya oleh adzab, karena pada malam hari ia tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal adzab akan tetap menghancurkan manusia kapan pun datangnya, baik datang pada siang maupun malam hari.

Allah Swt berfirman: "lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin". Yakni ketika adzab terjadi menghacurkan kekayaan-kekayaan manusia dan lahan-lahan pertaniannya. Ia seakan-akan lahan pertanian yang belum digarap, bahkan berubah menjadi kepulan-kepulan debu.

Allah Swt berfirman; "Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir". Artinya bahwa tujuan-tujuan perumpamaan ini tidak dapat dimengerti kecuali oleh orang-orang yang mau berfikir. Kedalaman ayat-ayat ilahi ini pun tidak dapat dipahami kecuali dengan berfikir dan merenung, dimana tidak ada ibadah lain yang paling tinggi dari selainnya.130


Falsafah perumpamaan

Untuk menyingkap falsafah perumpamaan tersebut, di sini kami akan tunjukkan tiga karakteristik kehidupan dunia;

1. Kehidupan dunia adalah sementara, tidak tetap dan tidak ada keabadian di dalamnya.

2. Kehidupan dunia adalah berlubang. Luarnya nampak menggiurkan hati, sementara dalamnya kosong tidak berisi. Secara jelas ia telah mengkristal dalam kehidupan sebagian orang dimana kehidupan mereka menarik kita dari jauh, membuat kita menyesalkan kehidupan kita dan kita meratapi kehidupan mereka.

Namun ketika kita mendekatkan kehidupan kita -kami banyak bersyukur kepada Allah- kepada mereka yang tidak sama seperti kehidupannya dari sisi banyaknya bencana.

3. Kehidupan dunia menipu manusia.

Sebuah hadis dari Rosulullah Saw menjelaskan ketiga karakteristik ini, beliau bersabda: "Dunia adalah menipu, membahayakan dan musnah".131

Dari sini kita dapat memahami falsafah perumpamana tersebut, yang tanpanya kita akan kesulitan memahami hakekat kehidupan dunia. Melalui merumpamaan tersebut seseorang dapat memahami lebih baik hakekat dan esensi dunia. Karena itu, Allah menjelaskannya melalui perumpamaan tersebut.


Tafsir ayat

Pada ayat tersebut manusia dan kehidupan dunianya diumpamakan seperti air hujan. Dengan perumpamaan itu al-Qur`an menunjukkan potensi dan kemampuannya yang tinggi. Apabila kemampuan ini dapat diaktualkan maka akan melahirkan berbagai macam penemuan, ciptaan dan ivovasi, menggunakan potensi-potensinya dalam kehidupan yang lebih baik dalam berbagai macam bidang dan aktivitas, memaksimalkannya sebanyak mungkin untuk menggapai tujuan-tujuan khusus. Hanya saja sebuah kejadian tiba-tiba terjadi menghancurkan seluruh harapan dan apapun yang ia miliki dalam hidupnya. Bahkan mereka sampai pada titik sekan-akan belum pernah berbuat apa-apa terhadap kehidupannya, belum pernah berbuat untuk jaminan masa depannya.

Kejadian-kejaidan ini merupakan azab ilahi. Ia telah mengkristal dalam internal badan manusia dan ia pun tunduk kepadanya. Sebagai contoh, kebekuan darah seseorang yang menjalar pada pembulu-pembulu darah hingga sampai ke jantung akan menyebabkan kematian jeringan-jaringan di dalamnya. Atau jika ia sampai pada otak, ia juga akan menyebabkan kematian syaraf-syaraf di dalamnya. Semuanya itu menyebabkan kelumpuhan sebagian anggota tubuh, atau bahkan mematikannya.

Yang paling sederhana dari itu ialah Allah Swt memerintahkan sel di antara sel-sel dalam tubuh manusia untuk berkembang biak dengan bentuk yang tidak diketahui. Dengan proses penambahan menakjubkan satu sel bisa berkembang menjadi dua sel, dua sel menjadi empat, empat menjadi delapan, delapan menjadi enam belas, dan demikian seterusnya yang berubah terus secara sekejap hingga batasan tidak tentu yang menyebar di seluruh tubuh sedikit demi sedikit sehingga membuat seseorang lumpuh. "lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin". Ia nampak seakan-akan telah mati semenjak beberapa tahunan, dan seluruh angan-angannya telah musnah semenjak saat itu.

Adzab lahi pun terkadang berupa kejadian diluar kendali manusia, seperti gempa bumi, angin topan, tabrakan meteor, badai dan lain sebgainya. Inilah perumpamaan di antara berbagai pristiwa yang kita saksikan sepanjang usia kita yang mengingatkan kita berhati-hati agar dunai tidak menipu kita dan agar kita tidak bergantung kepadanya, dan apalagi melakukan berbagai tindak kriminal untuk menggapai tujuan-tujuan duniawi yang sesaat.

Sudah selayaknya apabila kita merenungkan kembali lebih serius ayat mulia ini berserta perumpamaan-perumpamaannya dan kita jadikan sebagai lentera dalam menempuh perjalanan.


Sasaran-sasaran ayat


1. Ma`rifatullah

Sesungguhnya Allah dengan mengumpamakan kehidupan dengan tetesan-tetesan air hujan telah mengajarkan kita pelajaran-pelajaran makrifat (pengetahuan). Ia menanamkan keimanan kepada-Nya pada hati-hati kita. Ayat tersebut mengajarkan kepada kita sesungguhnya Allah dengan pelantara air yang jernih ini, air yang tidak berwarna dapat menciptakan berbagai macam warna berbeda.

Sesungguhnya bumi disirami dengan air yang sama (disirami dengan air yang sama 132), namun buah-buahan dan pohon tumbuh berbeda-beda. Dari air ini muculah buah-buahan yang paling manis, biasa-biasa, yang sangat pahit, serta bunga-bunga yang paling cantik dan lain sebgainya. Ini semua muncul dari air yang sama dan tanah yang sama. Sesungguhnya kekuasaan Allah sungguh sangat menakjibkan, namun sayangnya karena sudah terbiasa, kebiasaan itu mencegah dan menghalangi kita memikirkan kitab Allah yang berbicara ini.


2. Semua yang ada di alam adalah tercipta berdasarkan sebuah sistem tertentu

Sesungguhnya Allah Swt telah menjadikan air hujan sebagai sebab keberkahan dan perkembangan manusia. Ia dengan sendirinya apabila bertambah dari volume biasanya akan menyebabkan petaka dan bencana, dan apabila ia berkurang dari biasanya, ia akan menyebabkan kemarau dan kekeringan.

Hal ini merupakan pelajaran lain bagi manusia agar ia berlaku seimbang dan adil dalam berbagai dimensi hidupnya, dan menjauh dari sikap berlebihan.

Seseorang hendaknya tidak berlebihan (ekstrim) dalam permusuhan dan pertentangan. Untuk itu Islam mengajaran etika dalam berperang, sebuah ajaran berupa perintah-perintah lembut dan indah yang mencegah kaum muslimin berlaku berlebihan dalam permusuhan. Karena itu, seorang muslim adalah orang yang seluruh kehidupannya tersusun, tertata dan terperogram.


3. Perubahan nikmat menjadi bencana

Terkadang sesuatu yang pada mulaya memberikan kehidupan baik bagi seseorang (nikmat) berubah menjadi bencana dan kematian baginya, dan demikian itu atas perintah Allah Swt. Sesungguhnya air memberi seseorang kehidupan di dunia ini, namun terkadang ia berubah menjadi banjir yang menghanyutkan dan mematikan.


4. Air yang mengalir adalah air yang sehat, bersih dan enak

Adapun air yang diam, mengendap dan tercemar tidak akan layak diminum. Dalam kondisi seperti ini, air tidah hanya tidak memberikan kehidupan saja, bahkan menjadi penyebab pencemaran itu sendiri. Harta dan berbagai kekayaan pada dasarnya dihasilkan dari air, maka berarti air bisa menumbuhkan perkembangan perekonomian suatu negri apabila ia mengalir dan dimanfaatkan oleh orang-orang. Namun bila ia diam, terkonsentrasi dan mengendap di satu tempat, maka ia dapat menyebabkan kelesuan perekonomian suatu negri.


5. Tumbuhan beracun yang indah

Sejumlah tumbuh-tumbuhan nampak indah dan cantik seperti terlihat pada beberapa macam bunga, namun sebenarnya ia beracun dan membunuh. Untuk ini kita jangan sampai terpesona dengan tampilan luar sesuatu sekalipun itu indah, bahkan kita harus berfikir dan memperhatikan apa yang ada di dalamnya guna menyingkap hakekat sebenarnya, lalu menjatuhkan pilihan yang sesuai.

Penghujung ayat tersebut merupakan nasehat untuk bertafakkur, pujian kepada para ilmuan (ulama) dan para pemikir. Rosulullah Saw bersabda; gunakan kebahagiaan (hadhdh) mata-mata kalian dalam ibadah. Mereka bertanya; apa kebahagiaannya dalam beribadah wahai Rosulullah Saw? Beliau menjawab; memandangi mushhaf, memikirkan kandungannya dan mengambil pelajaran atas keajaiban-keajaibannya. 133

Maka fikirkanlah ayat-ayat al-Qur`an agar kalian tidak tertinpa bencana seperti bencana yang menimpa orang-orang seperti Namrud, Fir`aun dan Abu Lahab, sebagaimana juga kalian harus memikirkan sisi lain seperti kisah Sulaiman, Musa, Dawud dan lain-lain. Renungkan dan fikrikanlah keajabian-keajaiban ayat-ayat al-Qur`an.

Jangan kalian hanya mencukupkan diri dengan membacanya saja meskipun ini ada pahala dan balasannya, terutama pada bulan Ramadhan yang berkah, melainkan juga merenungkan dan memikirkannya.