Perumpamaan Keempatbelas:


Negri Yang Baik

Allah Swt berfirman dalam surat al-`Araf ayat ke 58 sebagai berikut; "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur".


Pengantar pembahasan

Ayat ini adalah kelanjutan langsung dari ayat pada perumpamaan keempatbelas, dan ini pada hakikatnya kelanjutan dari pembahasan Ma`ad dan menjawab sejumlah pertanyaan yang ada pada benak sebagian orang.


Isyarat kepada perumpamaan sebelumnya

Pada perumpamaan keempatbelas, pada ayat ke 57 dari surat al-A`raf, al-Qur`an memberikan penjelasan indah bukti atas mabda dan tauhid, sebagaimana juga berargumentasi terhadap ma`ad dan alam akhirat.

Sesungguhnya gerakan angin, berkumpulnya awan berat, turunnya hujan, hidup kembali tanah yang sudah mati, buah-buahan dan bunga bermunculan, dan tumbunya berbagai macam tumbuhan dan pohon semuanya secara pasti menunjukkan atas tauhid. Itulah dalil yang andai tidak ada dalil lain selainnya, niscaya itu pun sudah mencukupi untuk menetapkan tauhid.

Tidak diragukan lagi bahwa bekas-bekas kematian nampak di sebuah kebun, semuanya berkat kedatangan musim dingin pohon-pohon berubah menjadi gandul dari ruh, dan selang beberapa waktu, yakni setelah datang musim semi kehidupan baru mulai muncul di kebun tersebut. Pohon-pohon kembali menghijau, bunga-bunga kembali mekar, dan berbagai tumbuhan mulai kembali tumbuh, dan pepohona nmulai kembali berbuah dengan berbagai macam warna yang dapat memberi kelembutan kepada ruh seseorang.

Alam yang menakjubkan ini merupakan argumen kuat terhadap keberadaan Allah Yang Maha Kuasa secara mutlak. Apabila seseorang hanya memikirkan daun yang hijau saja, niscaya ini cukup untuk mengenal kebenaran.

Sebuah daun -sebagaimana dikatakan para ilmuan tumbuhan- apabila daun terlepas dari pohonnya maka akan melalui tujuh tahap perkembangan. Setiap tahapnya menunjukkan struktur dan fungsi tersendiri. Apabila kita analisa sedikit maka kita akan menemukan langkah-langkah besar pada duan yang indah ini, seakan-akan ia seperti saluran pipa air di sebuah kota yang akan menyalurkan air dan makanan ke seluruh bagiannya yang berbeda-beda. Siapakah yang telah menciptakn langkah-langkah indah dan cantik ini? Tentu Dia adalah Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana yang telah mendesain jaringan agung dan teliti ini. Sebuah daun dan jaringan di dalamnya dapat dikategorikan sebagai sebuah buku pengetahuan untuk mengenal Sang Pencipta bagi mereka yang mencari ilmu dan pengetahuan.

Dengan demikian, permulaan ayat ke 57 surat al-A`raf tersebut menunjukkan pada tauhid, sementara bagian akhirnya "Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran" menunjuk dan menjelaskan masalah ma`ad.


Syarah dan Tafsir

Sebagaimana telah kami katakan sebelumnya, ayat tersebut merupakan jawaban terhadap pertanyaan tersembunyi yang mungkin akan terlintas pada benak orang yang kembali memperhatikan ayat sebelumnya. Pertanyaan tersebut; apabila air, udara dan tanahnya sama dan satu, maka kenapa tumbuh bunga-bungan dan tumbuhan di sebagian bidang tanah saja, sementara bagian tanah lainnya ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon berduri? Apabila curahan rahmat ilahi itu turun ke setiap hari manusia dalam kadar yang sama, maka kenapa sebagian hati manusia menjadi seperti negri yang subur yang mendapatkan hidayah dan indah, sementara sebagian lain menjadi seperti negri gersang sehingga tersesat dan tidak mendapatkan hidayah?

Ayat tersebut merupakan jawaban terhadap pertanyaan di atas, dimana ia mengatakan: "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah". Sesungguhnya tanah yang bersih dan tidak tercemar atas seizin Allah Swt akan cocok dan sesuai untuk ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang bagus. Demikian juga hati yang dipersiapkan dan bersih akan tumbuh di dalamnya buah yang manis dari keikhlasan dan kebersihan, dan itu semua berkat wahyu dari Allah Swt.

Ia Swt berfirman; "dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana". Adapun tanah yang tidak cocok tidak akan ditumbuhi kecuali tumbuhan buruk (an-nakd). An-nakd artinya seseorang yang kikir. Tanah-tanah yang tidak bagus hanya akan ditumbuhi tumbuh-tumbuhan yang tidak bermanfaat. Sebagaimana seorang kikir tidak akan memberi manfaat kepada orang lain, demikian pula tanah-tanah tidak subur tidak akan mengeluarkan sesuatu yang bermanfaat dan tidak akan ada seorang pun yang dapat mengambil manfaat darinya.

Ia Swt berfirman; "Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur". Yakni Kami menjelaskan tanda-tanda kepada orang-orang dengan berbagai pelajaran dan contoh sederhana agar mereka mudah mengambil manfaat darinya dan bersyukur kepada Tuhan-Nya atas nikmat-nikmat tersebut. Atas dasar ini, tidaklah ada problem pada curhaan rahmat ilahi dan tidak pula pada wahyu langit, karena keduanya turun kepada semua hati dalam bentuk dan ukuran yang sama. Dan apabila terdapat kekurangan atau pengurangan, maka itu berasal dari hati itu sendiri. Sesungguhnya sebagian tanah ada yang tidak siap dan tidak cocok ditumbuhi tumbuh-tumbuhan sehingga hanya tumbuh di sana ilalang dan pohon-pohon berduri saja. Demikian juga sebagian mati manusia ada yang tidak siap menerima hidayah dan menganggap dirinya tidak butuh kepada wahyu ilahi.


Untuk siapakah perumpamaan ini?

Terdapat pembahasan di antara para mufassir untuk siapa perumpamaan tersebut ditunjukkan. Mayoritas mereka berpendapat bahwa ayat tersebut ditunjukkan untuk orang-orang kafir dan mukmin. Yakni di sini wahyu diumpamakan seperti air hujan, dengan pengertian ia turun kepada semua hati manusia, namun tidak semuanya bisa mendapat manfaatnya kecuali kecuali sebagiannya saja yang menjadi referentatif negara yang subur (baladun thayyib), yakni hati yang bersih. Buah tanah-tanah suci ini adalah akhlak yang baik, iman, takwa, kerinduan kepada para wali Allah, ikhlas dalam beramal, perbuatan yang sesuai dengan tuntutan, dan lain sebagainya. Lawan dari mereka adalah orang-orang kafir yang hati-hatinya serupa seperti tanah-tanah tercemar yang tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari air hujan.


Sasaran ayat


1. Kesanggupan pemberi dan penerima sama-sama penting

Ayat tersebut dan juga ayat -ayat lainnya ditujukan untuk sasaran penting, yaitu untuk sampai kepada kesempurnaan ada dua hal penting yang harus terpenuhi secara bersamaan; kesanggupan pemberi (qâbiliyyatul fâ`ila) dan kesiapan penerima (qâbiliyyatul qâbil).

Untuk sampai pada sebuah kesempurnaan, dua hal tadi harus terpenuhi secara bersamaan sebagaimana harus terpenuhi pada tanah. Atas dasar ini, kemampuan atau potensi pemberi (qâbiliyyatul fâ`il) yakni air hujan tidaklah cukup, melainkan juga harus ada kesiapan atau potensi menerima penerimanya (qâbiliyyatul qâbil) yakni kesediaan tanah tersebut menerima hujan. Sekalipun air hujan jatuh selama seratus tahun ke sebuah tanah yang tidak subur, selamanya ia tidak akan ditumbuhi satu pun tumbuhan dan bunga.

Sebagaimana Rosulullah Saw telah menyeru Salman, Abu Dar dan kaum muslimn lainnya kepada Islam, demikian pula beliau Saw pun telah menyeru Abu Jahal dan Abu Lahab serta orang-orang kafir lainnya. kebersihatan hati Salman telah menumbuhkan keimanan, sementara ia tidak tumbuh pada hati Abu Jahal atau Abu Lahab kecuali kebencian dan sifat kikir saja.


2. Qur`an dan wahyu berfungi menyesatkan orang-orang kafir

Sesungguhnya ayat-ayat al-Qur`an tidaklah selamanya menjadi hidayah, bahkan ia pun telah berfungsi menyesatkan orang-orang kafir yang ladangnya tidak baik. Setiap kali mereka mendengar ayat-ayat al-Qur`an maka mereka pun semakin bertambah kesesatannya.

Hal ini telah dijelaskan al-Quran sendiri seperti dalam surat at-Taubah ayat 124-125; "Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir".

Pertanyaan; bagaimana mungkin ayat-ayat al-Qur`an, pemberi cahaya itu dapat berperan menyesatkan sebagian orang?

Jawabanya; Al-Qur`an seumpama lampu tempel yang apabila ada di tangan para ulama ia akan digunakan untuk ilmu, penelitian, penggalian dan kemajuan. Namuan jika ia berada di tangan seorang pencuri, ia akan dipergunakan untuk mencuri sesuatu yang berharga.

Permasalahannya di sini tidaklah ada pada lampu itu sendiri, melainkan ada pada kesanggupan menerimanya. Demikian juga halnya air hujan dimana perannya akan berfungsi sesuai jensi tanahnya. Apabila tanahnya bagus maka akan tumbuh bunga dan tumbuh-tumbuhan yang baik, dan apabila tanahnya tidak baik makan akan tumbuh pohon-pohon duri dan ilalang.

"maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada)". Ayat ini menunjukkan bahwa ketika ayat turun, maka mereka semakin bertingkah menentang, memusuhi dan melawan. Karena itu jangan heran jika kami katakan bahwa ayat-ayat al-Qur`an telah menyebabkan banyak orang tersesat.


Tiga kelompok manusia

Untuk menjelaskan topik ini (yang muncul karena perbedaan potensi manusia), kita akan awali dengan perkataan Amirulmukminin a.s yang di dalamnya beliau berbicara kepada Kumail bin Ziyad setelah beliau memanggilnya ke kuburan. Ketika keduanya sampai di sebuah sahara, Imam berkata kepadanya: "Wahai Kumai bin Ziyad, sesungguhnya hati-hati ini adalah bejana, dan hati yang terbaik adalah hati yang benar-benar dapat menampung isinya".

Sebagai contoh kita katakan; sesungguhnya orang-orang berbeda-berda dalam memanfaatkan air hujan. Diantara mereka ada yang mengambilnya seukuran danau karena ia memiliki tempat penampungan luas, sementara yang lain hanya dapat mengambil satu gelas kecil saja karena memang tidak bisa lagi mendapatkan lebih banyak dari itu. Ada juga sekelompok orang yang sama sekali tidak dapat mengambilnya, karena ia telah menutup dan membalikkan bejana hatinya. Contoh ini menjelaskan bahwa kesalahan bukanlah ada pada Allah, melainkan ada pada wadah yang disipakan untuk menerima air hujan. Lalu Imam Ali a.s berbicara kepada Kumail; "Jagalah dariku apa yang akan aku katakan kepadamu bahwa orang itu terdiri dari tiga macam; seorang alim rabbani (berilmu), orang yang belajar (muta`allim) untuk menuju kesuksesannya, dan dugu yang tidak berharga". Artinya bahwa manusia terbagi kepada tiga kelompok;

1. Kelompok pertama adalah para ulama/sarjana yang menelusuri jalan hakikat dan kebenaran, dan mau membimbing serta mendidik orang-orang.

2. Kelompok kedua adalah mereka yang tidak mempunyai ilmu namun mau belajar kepada orang alim sehingga menjadi tahu dan mengerti.

3. Kelompk ketiga adalah orang-orang dugu yang tidak mengerti dan tidak mau berusaha belajar atau bertanya kepada orang-orang mengerti untuk membimbingnya menuju jalan yang benar.

Selanjutnya Imam Ali juga menjelaskan kelompk ketiga ini dengan tiga ciri;

a. Mengikuti setiap teriakan. Yakni mengikuti berbagai macam pandangan orang lain tanpa pengetahuan dan filter.

b. Mengikuti setiap arah angin bertiup kemanapun. Mereka seperti angin yang akan kepincut dan ikut begitu saja pada berbagai macam ajakan. Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang berperang di bawah bendera Rosulullah Saw di zamannya, lalu setelah wafat beliau mereka berperang di bawah bendera Mu`awiyah. Bahkan seandainya mereka berumur panjang mereka akan juga berperang di bawah bendera Yazid bin Mu`awiyah. Demikian itu karena ia bergerak sesuai arah mata angin.

c. Tidak bernaung di bawah cahaya ilmu. Mereka adalah orang-orang lemah yang terhalang dari ilmu.

d. Mereka tidak berlindung kepada tiang yang kuat. Yakni mereka tidak hanya kehilangan ilmu saja, bahkan tidak bersandar pada sandaran yang dipegang oleh mahkamah .117

Kelompok ketiga adalah orang-orang yang memiliki bejanan kecil, orang-orang yang berbahaya. Mereka adalah perwujudan ayat "dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana", sementara kelompok kedua dan ketiga adalah perwujudan dari ayat "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah".


Apakah kemampuan bersifat pilihan (ikhtiyari) atau ketentuan (jabariyah)?

Apakah kemampuan menerima penerima (qâbiliyyatul Fâ`il) yang merupakan syarat dari sebuah kesempurnaan bersifat ikhtiyari atau jabr? Atau dengan perkataan lain, Apakah Allah memberi sebagian orang kemampuan lebih dan memberi yang lain dengan kemampuan sedikit? Sesungguhnya kemampuan menerima adalah ikhtiyari dan bukan jabr. Demikian itu karena pandangan jabr berarti tidak adanya dosa bagi seseorang berbuat sesuatu seperti ria, dan karena itu jabr ia tidak berhak mendapatkan siska, sebagaimana tidak ada fungsinya dalam pengutusan para nabi.

Dari sini kami berpandangan bahwa setiap kali seseorang berusaha untuk mencari ketakwaan dan makrifat ilahiyah lebih besar, ia dapat mempersiapkan hatinya lebih banyak untuk menerima wahyu ilahi dan ayat-ayat al-Qur`an.

Sesungguhnya al-Qur`an menegaskan bentuk seseorang sebagai makhluk dalam bentuk dan gambar paling utama. Allah Swt perfirman; "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya"118 . Dan bersandar pada ayat ini, sesungguhnya manusia tidak diciptakan dalam potensi penciptaan yang berbeda-beda. Hidayah dan kesesatan benar-benar bergantung kepada manusia itu sendiri, sekalipun syetan tidak pernah diciptakan sebagai penyesat. Karena itu, ia berada dalam barisan para malaikat yang telah menyembah Allah selama enam ribu tahun.119

Memang benar bahwa manusia satu dan yang lainnya berbeda-beda, namun itu tidak berarti sebagian mereka diciptakan sebagai baik dan yang lainnya buruk, melainkan sebagian mereka tercipta dengan baik dan sebagian lain tercipta dengan lebih baik. Untuk itu Rosulullah Saw telah bersabda; "Manusia adalah tambang sebagaimana tambang emas dan perak".120

Kesimpulannya ialah manusia tidak pernah tercipta secara buruk, kemampuan menerima adalah ikhtiyari dan bukan jabr. Sesungguhnya hujan turun jernih, namun ia menjadi kotor ketika turun pada tanah yang kotor, dan tetap bersih jernih ketika jatuh pada tanah yang bersih dan tetap pada kesucian dan fitrahnya.

Sesungguhnya lingkungan yang tidak baik, buku-buku menyesatkan, pemahaman-pemahaman yang merusak, sahabat-sahabat yang tidak baik, dan keluarga yang tidak sehat semuanya bagaikan tanah yang tercemar. Hati seseorang yang suci dan fitri menjadi tercemari.

Wahai para pemuda yang baik, sesungguhnya Allah telah menciptakan kalian bagaikan tetesan air hujan yang bersih jernih. Maka berusahalah untuk menjaga kebersihan, dan hindarilah bergaul dengan teman yang tidak baik, karena teman seperti ini benar-benar akan merubah masa depan.

Dalam kaca mata Islam, yang dimaksud dengan maksiat tidaklah hanya terbatas pada melakukan maksiatnya saja, bahkan turut hadir di sebuah majlis dosa -yang di dalamnya perbuatan dosa dilakukan- juga dikategorikan haram dan maksiat. Artinya, jika seseorang menghadiri majlis yang digunakan untuk bermaksiat kepada Allah, maka kehadirannya di tempat tersebut juga dikategorikan sebagai maksiat, sekali pun ia tidak ikut melakukannya. Demikian itu karena sebuah lingkungan yang tercemar sedikit demi sedikit akan juga mencemari. Sekalipun saat itu ia tidak melakukannya, maka dosa tersebut sedikit-demi sedikit akan tertanam dan mendekat di masa depan. Sesungguhnya obat-obat terlarang atau narkoba akan menular sedikit demi sedikit dengan cara seperti ini.

Atas dasar ini, haruslah berusaha untuk menjaga kebersihan batin dan mempersiapkan wilayah hati untuk bisa menerima limpahan rahmat ilahi sebanyak mungkin.