Perlunya Al-Qur'an dan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan yang merupakan bulan diturunkannya Al-Qur'an, memiliki hubungan kuat dengan Al-Qur'an. Untuk menjelaskan hubungan ini, kami perlu mengkaji sebagian ayat-ayat Al-Qur'an mulia secara global. Al-Qur'an menjelaskan pada surat Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban puasa. Mengingat pentingnya masalah itu, maka dikemukakanlah persoalan-persoalan.?

Puasa secara menyeluruh pada kaum yang lain. Allah Swt berfirman: "Diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian". Kemudian Al-Qur'an menilai takwa dan pendidikan ruhani sebagai hasil berpuasa. Kemudian ada tiga golongan manusia yang dikecualikan oleh Allah dari kewajiban berpuasa, sebagaimana terdapat pada ayat 184 dalam surat tersebut. Adapun golongan yang terakhir diwajibkan membayar kafarah sebanyak 750 gram gandum atau makanan lainnya. Pengecualian lainnya yang menafikan kewajiban puasa adalah para wanita (yang lemah fisiknya) yang baru saja mencapai usia baligh, karena mereka belum mencapai usia sepuluh tahun. Sesungguhnya baligh adalah salah satu syarat diwajibkannya berpuasa. Syarat lainnya adalah mampu melakukannya. Dengan demikian hilanglah problem para wanita tersebut. Karena puasa tidak diwajibkan atas para wanita yang baru baligh ketika mereka tidak mampu melakukannya karena lemahnya fisik dan kecilnya usia mereka.

Kemudian pada ayat 185 dalam surat tersebut, Al-Qur'an memberikan pengumuman bahwa bulan Ramadhan adalah bulan puasa. Al-Qur'an menjelaskan pentingnya bulan tersebut karena ia merupakan bulan diturunkannya Al-Qur'an. Allah Swt berfirman: "Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan menjelaskan petunjuk dan furqan (pembeda antara yang hak dan batil)".

Dari penjelasan ayat tersebut dapat dipahami bahwa turunnya Al-Qur'an pada malam Qadar ke dalam hati Rasulullah Saw tersebut merupakan kelebihan dan keistimewaan bulan mulia ini.


Hubungan bulan Ramadhan dengan Al-Qur'an

Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah, pendidikan, meninggalkan maksiat dan melakukan ketaatan. Untuk melakukan tugas penting ini, kita memerlukan pengajaran sekaligus pendidikan. Al-Qur'an memberikan pelajaran kepada manusia sementara puasa mendidiknya. Karena manusia tidak akan sampai kepada kesempurnaan kecuali dengan dua hal tersebut. Pada hakikatnya Al-Qur'an -tanpa diwajibkannya puasa- merupakan pengajaran yang tidak lengkap karena tidak disertai pendidikan. Sementara puasa tanpa Al-Qur'an, merupakan pendidikan yang kehilangan pengetahuan dan ma'rifah. Oleh karena itu setiap muslim diwajibkan berpuasa dan menghidupkan bulan Ramadhan ini agar mendapat pendidikan. Dan dengan merasa dekat dan akrab dengan Al-Qur'an mereka akan mendapatkan petunjuk. Hal itu karena Al-Qur'an merupakan petunjuk, penjelas dan pembeda. Kitab Al-Qur'an ini diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaiman pula ia mewajibkan kaum muslimin untuk berpuasa pada bulan mulia ini. Karenanya kedua bentuk hidayah tersebut perlu diperhatikan.


Tema Pembahasan

Membaca Al-Qur'an mengandung keutamaan yang sangat besar dan tak terhingga banyaknya, khususnya pada bulan Ramadhan yang penuh berkah. Keutamaan tersebut dapat diperoleh apabila bacaan tersebut disertai dengan tadabbur dan tafakkur yang dapat membersihkan jiwa dan menyediakan lahan untuk mengamalkannya. Dengan dasar itulah, pada bulan Ramadhan tahun ini 4 , kami mengadakan pengkajian tafsir Al-Qur'an. Tema yang kami pilih adalah "Perumpamaan-perumpamaan Al-Qur'an" sebagai langkah baru dalam tafsir dan agar semua kalangan dapat mengambil manfaatnya.


Menganapa Al-Qur'an membawakan perumpamaan-perumpamaan?

Lebih dari lima puluh perumpamaan dapat kita temukan di dalam Al-Qur'an 5 . Di dalam surat Al-Baqarah yang merupakan surat kedua, paling tidak terdapat sepuluh buah perumpamaan. Sebenarnya apa hikmah yang terkandung pada perumpamaan-perumpamaan tersebut sehingga Al-Qur'an menyebutkannya begitu banyak? Jawabnya adalah: Sesungguhnya matsal (perumpamaan) ialah menyerupakan realitas-realitas logis dengan hal-hal yang bersifat inderawi dan dapat disentuh. Dari satu sisi, banyak sekali terdapat hal-hal yang bersifat logis yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia. Dan dari sisi lain, manusia lebih akrab dengan hal-hal yang dapat diindera dan dapat disentuh. Oleh karena itu, terdapat pribahasa bahwa "akal pikiran masyarakat awam terdapat pada matanya", artinya bahwa pemahaman manusia terhadap hal-hal yang dapat dilihat dan disentuh itu lebih mudah bagi mereka. Dari sinilah Al-Qur'an memaparkan sebagian pahaman-pahaman akli yang tinggi melalui kulit berbagai perumpamaan agar manusia dapat memahaminya dengan mudah. Atas dsar itu, maka filsafat perumpamaan-perumpamaan Al-Qur'an ialah menurunkan persoalan-persoaaln yang mendalam dan tinggi kepada peringkat yang sesuai dengan ufuk pemikiran manusia.


Matsal-matsal praktis dan ucapan

Poin berikut ini perlu diperhatikan, yaitu bahwa sebagian perumpamaan itu berupa amal perbuatan dan dijelaskan melalui sikap. Sebagian lainnya berupa lafzhi yang dijelaskan melalui lisan dan ucapan.

Sesungguhnya perumpamaan-perumpamaan Al-Qur'an termasuk jenis yang kedua. Tetapi dapat kita saksikan sebagian matsal yang terdapat pada sirah Rasul Saw dan para Imam suci As berupa matsal-matsal praktis. Tentu, hal itu mempunyai pengaruh yang besar 6 . Berikut ini kami bawakan dua contoh.


1. Ketika Dosa-dosa Kecil Bertumpuk

Suatu ketika Rasulullah Saw turun di daerah yang tandus dan kering, beliau berkata kepada para sahabatnya: "Kumpulkanlah kayu-kayu" (tujuan beliau itu, bukan ingin membakarnya). Mereka berkata: "Ya Rasulallah, kita berada di daerah yang tandus yang tidak terdapat kayu-kayu".Beliau berkata: "Hendaklah setiap orang mengambil sekedar kemampuannya". Beberapa saat kemudian mereka membawa kayu-kayu iyu dan menumpuknya di hadapan beliau. Rasulullah Saw bersabda: "Beginilah dosa-dosa bertumpuk", kemudian melanjutkan sabdanya: "Hendaklah kalian jangan sampai meremehkan dosa-dosa kecil, karena segala sesuatu itu dituntut. Ketahuilah, bahwa yang menuntutnya mencatat segala apa yang mereka kerjakan. Dan segala sesuatu kami catat di dalam kitab yang nyata" 7 .

Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu bagaikan kayu bakar, ia bertumpuk sedikit-sedikit hingga akhirnya mencapai setinggi gunung api. Sesungguhnya bahaya dosa-dosa kecil itu akibat sikap tidak peduli terhadapnya sebagaimana yang diingatkan oleh Rasul Saw dalam matsal praktisnya.


2. Gambaran Panasnya Neraka Jahanam

Ketika Imam Ali As menjabat sebagai khalifah muslimin dan baitul mal berada pada kekuasaaanya. Beliau mempunyai saudara yang bernama Aqil yang telah berkeluarga dan mempunyai beberapa orang anak. Uang yang dia terima dari baitul mal tidak mencukupi untuk biaya hidupnya. Pada suatu hari ia minta kepada Imam Ali As bagian dari baitul mal yang lebih banyak lagi. Untuk menunjukkan buruknya permintaannya tersebut dan azab akibat tidak adil, beliau As mengambil sepotong besi yang telah dipanaskan. Besi panas tersebut beliau arahkan ke tangan Aqil. Dengan serentak Aqil berteriak, karena ia menduga bahwa Imam Ali akan melukainya dengan besi panas tersebut. Ketika itu Imam Ali As berkata kepada Aqil:"Saudaraku, jika dengan api yang tidak seberapa ini saja kamu tidak sanggup menanggungnya, bagaimana mungkin kamu menyeretku ke api neraka jahanam yang tidak mungkin dapat dibandingkan panasnya dengan api dunia ini? 8 Apabila kamu tidak mampu melihat panasnya api dunia ini, bagaimana mungkin kamu mengajakku kepada kemurkaan Allah demi menyenangkan hati hamba-Nya yang pada akhirnya terjerumus ke dalam api jahanam? Apabila panasnya api yang sedikit ini saja kamu tidak kuat, mengapa kamu bisa menarikku untuk menjauhi ketaatan kepada Allah, hak dan kedilan yang pada akhirnya berujung ke neraka jahanam?

Perumpamaan-perumpamaan seperti ini sangat memudahkan dalam memahami dan mencerna berbagai pengetahuan. Dan matsal seperti ini memiliki pengaruh yang jauh melebihi nasihat dan wejangan. Matsal tersebut tidak hanya khusus berlaku buat Aqil saja dan pada masa itu saja. Bahkan matsal tersebut berlaku untuk semua manusia dan pada setiap masa dan zaman. Untuk tujuan itulah Al-Qur'an menggunakan berbagai perumpamaan.


Tujuan Matsal di dalam Al-Qur'an

Tujuan adanya perumpamaan-perumpamaan telah dijelaskan di dalam sebagian ayat-ayat Al-Qur'an. Berikut ini kami bawakan tiga contoh:

1. Di dalam surat Ibrahim ayat: 25 -setelah kata "al-Kalimah al-Thayyibah" diserupakan dengan "al-Syajarah al-Thayyibah", pembahasannya akan datang- Allah Swt berfirman pada bagian akhir ayat tersebut:"…dan Allah menjadikan perumpamaan-perumpamaan tersebut bagi manusia agar mereka mendapat peringatan". Berdasarkan hal ini maka memberikan peringatan termasuk tujuan dibawakannya berbagai perumpamaan dalam Al-Qur'an.

2. Di dalam surat Al-Hasyr ayat: 21 -setelah Allah Swt menyerupakan sebagian hati dengan gunung dan kemungkinan adanya pengaruh pada gunung itu lebih banyak daripada kemungkinan adanya pengaruh pada hati manusia- Allah berfirman pada bagian akhir ayat tersebut:"…perumpamaan-perumpamaan tersebut Kami jadikan buat manusia agar mereka berpikir". Atas dasar ini maka berpikir itu termasuk tujuan dibawakannya berbagai perumpamaan di dalam Al-Qur'an.

3. Di dalam surat Al-Ankabut ayat: 40-43 -setelah Allah Swt menyerupakan orang yang menjadikan para pemimpin mereka dari musuh-musuh Allah dengan laba-laba yang membuat rumahnya sangat lemah- Allah berfirman pada bagian akhir ayat tersebut:"…dan berbagai perumpamaan tersebut Kami jadikan bagi manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu". Berdasarkan penjelasan ayat ini bahwa pemahaman para ulama itu termasuk tujuan dibawakannya berbagai perumpamaan di dalam Al-Qur'an. Dari uraian di atas dapat kita simpulkan terdapat tiga peringkat pengaruh berbagai perumpamaan terhadap hati manusia, yaitu:

Pertama: Peringkat pemberian peringatan, yaitu peringkat lewatnya hakikat khitab Ilahi di dalam benak manusia.

Kedua: Peringkat tafakur (berpikir), yaitu peringkat anjuran untuk berpikir terhadap subjek matsal dan hikmahnya.

Ketiga: Peringkat memahami, yaitu peringkat seruan memahami dan mencerna berbagai hakikat. 9


Perlunya Khitab Matsal

Sesungguhnya manusia pada sebagian besar persoalan yang mereka hadapi menganggap sesuatu yang besar sebagai dalil bahwa itu penting dan menganggap sesuatu yang kecil sebagai dalil bahwa hal itu kurang penting. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Yang penting adalah khitab yang dikandung oleh sesuatu tersebut keterangan yang dikehendaki oleh si mutakalim. Demikian pula yang terdapat didalam Al-Qur'an al-karim bahwa yang penting adalah khitab yang ditujukan dan diarahkannya melalui matsal-matsal, dan bukan besar atau kecilnya suatu matsal.

Allah Swt berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat: 26: "Sesungguhnya Allah tidak segan-segan untuk membuat perumpamaan sebuah nyamuk atau yang lebih rendah darinya. Adapun orang-orang yang beriman mereka mengetahui bahwa hal itu hak dari Tuhan mereka. Adapun orang-orang kafir mereka berkata: 'Apakah yang dikehendaki oleh Allah dengan perumpamaan ini? Dengan perumpamaan tersebut Dia menyesatkan orang banyak dan memberi petunjuk orang banyak'. Dan tidak ada yang disesatkan allah dengan perumpamaan tersebut, kecuali orang-orang yang fasik".


Merenungkan Ayat-ayat Al-Qur'an

Merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an akan mengantarkan kita kepada poin-poin berikut ini:

1. Sesungguhnya Allah Swt menjadikan tujuan adanya berbagai perumpamaan untuk memberikan hidayah kepada manusia.

2. Pentingnya perumpamaan dan kandungannya melebihi pentingnya kandungan lahiriah dan segala yang maujud di dalam perumpamaan tersebut.

3. Sesungguhnya seluruh makhluk, meskipun sekecil nyamuk, akan mengungkap keagungan Allah Swt.


Syarah dan Tafsir

Sebelum kami mulai menafsirkan ayat dan untuk mempersiapkan konsentrasi agar dapat memahami lebih dalam lagi, sekilas akan kami sebutkan sya'ni nuzul ayat tersebut.

Sesungguhnya rewel dan mencari-cari berbagai alasan termasuk cirri-ciri orang munafik. Orang munafik senantiasa mencari-cari alasan, menunda-nunda dan rewel dengan berbagai alasan yang batil dalam setiap masalah. Mereka tidak peduli dengan arahan-arahan yang ditujukan kepada mereka. Karena mereka mamandang kepada masalah dengan sikap menentang dan beramal atas dasar pandangan ini. Contohnya ialah seperti seseorang atau beberapa orang membangun satu pusat pengkajian Islam yang terdiri dari masjid, perpustakaan, mushalla, rumah sakit dan rumah untuk para jompo dan lain sebagainya. Pada kondisi seperti ini si munafik akan berkata begini: "Apakah dibenarkan membangun pusat Islam sebesar dan semegah ini dan dengan biaya yang besar di kota ini, sementara masih banyak orang fakir miskin dan orang-orang yang lapar? Bukankah lebih baik jika dana yang besar itu digunakan untuk mengenyangkan dan menyelamatkan nyawa para fakir miskin? Alangkah baiknya jika dana tersebut digunakan untuk mengawinkan para pemuda yang masih bujang? Bukankah lebih utama lagi jika dana sebesar itu digunakan untuk membiayai orang-orang sakit dari orang-orang miskin? Bukankah lebih baik jika dana tersebut digunakan untuk tujuan mengajarkan dan mendidik para pemuda?

Sesungguhnya orang ini atau orang-orang yang baik seperti ini, kalau saja mereka keluarkan uangnya itu untuk memberi makan fakir miskin, membantu para pemuda, mengobati orang-orang yang sakit, dan lain sebagainya, maka si munafik tersebut akan beralasan dengan alasan-alasan lainnya seperti: Islam apakah ini? Muslimin macam apakah mereka ini? Kami tidak mendapatkan sebuah masjid pun di kota ini. Sementara Anda telah menyisihkan uang untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Anda telah menyia-nyiakan Islam dengan perbuatan Anda seperti ini. Belajarlah dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka membangun dan mendirikan sinagog-sinagog dan gereja-gereja yang megah dan indah yang menarik perhatian orang-orang. Belajarlah dari orang-orang Hindu, mereka membangun dan mendirikan vihara-vihara besar dan megah untuk patung-patung dan berhala-berhala mereka yang bisu.

Pendek kata, bahwa tujuan orang munafik adalah menentang, menyalahi dan menebarkan bibit-bibit keraguan dan pertikaian, dan menyakiti orang lain. Dengan memperhatikan mukadimah trsebut, kami akan menjelaskan ayat berikut ini.

Ketika turun sebagian perumpaman Al-Qur'an, mulailah orang-orang munafik merasa ragu, melakukan kritikan dan berkata: "Perumpamaan macam apakah yang dibawakan AL-Qur'an ini? Karena Allah Swt -dengan keagungan dan kemuliaan-Nya- tidak layak membawakan perumpamaan yang lemah seperi nyamuk 10 dan laba-laba, atau perumpamaan yang berupa benda mati seperti guruh dan kilat. 11 Tujuan mereka melontarkan ucapan semacam itu adalah untuk menyebarkan keraguan bahwa Al-Qur'an bersumber dari Allah Swt, dan bahwa Al-Qur'an itu bukan wahyu Ilahi.

Sudah pasti, apabila Alalh Swt tidak menurunkan ayat-ayat dan perumpaman semacam ini, atau Dia menurunkan kalimat-kalimat dan ungkapan yang rumit, pasti orang-orang munafik akan beralaan dengan lainnya dan mengatakan: "Mana mungkin ucapan semacam ini merupaka Kalam Ilahi, sementara kita tidak dapat memahaminya sama sekali? Atau mereka akan berkata: "Mengapa Allah tiak menurunkan persoalan-persoaaln dan berbagai hakikat dengan bahaa yang mudah dipahami oleh semua orang? Sebagaimana hal ini terjadi pada nabi Syuaib As dan dikisahkan di dalam surat Hud ayat: 91, Allah Swt berfirman:

"Mereka berkata :"Wahai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakana itu, sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami."

Dari penjelasan ayat tersebut dapat dipahami bahwa berpegang kepada berbagai alasan sebagai logika mereka. Dari satu sisi mereka berkata: "Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakana itu". Artinya : Kami tidak paham apa yang engkau ucapkan. Sementara dari sisi lain mereka berkata: "Kalau saja tidak karena keluargamu, temtu kami telah merajammu". Artinya: Kalau bukan karena sukumu, pasti kami telah membunuhmu. Syu'aib As menjawab: "Wahai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah?" 12

Mengingat bahwa orang-orang munafik yang membangkang itu membuat keragu-raguan dan berhujjah (beralaan) atas perumpaman tersebut dengan benda-benda mati atau sesuatu yang lemah, maka surat Al-Baqarah ayat: 26 menjawab dan mematahkan hujjah mereka. Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak segan untuk membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu…"

Sesungguhnya kefasihan suatu perkataan terkadang menuntut perumpamaan dengan sesuatu yang besar dan terkadang pula dengan sesuatu yang kecil. Jika perumpamaan itu ditujukan untuk menjelaskan sesuaut yang agung, maka ia diserupakan dengan sesuatu yang besar. Dan jika ditujukan untuk menjelaskan kecil dan lemahnya sesuatu, maka ia diserupakan dengan benda atau binatang yang kecil dan lemah. Atas dasar itu, maka sesungguhnya perumpamaan sesuatu yang besar tidak selamanya menunjukkan atas ketinggian dan fasihnya suatu perkataan. Dengan demikian, tidak ada problem alal qaran ketika mengumpamakan dengan sesuatu yang sesuai dengan subjek matsal dan tujuannya, meskipun kecil atau besar.

Sesungguhnya orang-orang mukmin dan saleh, ketika mereka mengetahui hakikat dan kandungan perumpamaan tersebut, mereka tahu bahwa hal itu adalah hak dan datang dari Tuhan mereka dan mereka tidak mengingkarinya. Tetapi bagi orang-orang munafik dan kafir, karena fanatic dan pembangkangan mereka, mereka berkata: "Apa sebenarnya yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini, Dengan perumpamaan terebut banyak orang yang dibiarkannya sesat, dan dengan itu banyhak pula orang yang diberi hidayah."


Kekeliruan kaum munafik

Sesungguhnya kekeliruan besar orang-orang munafik tidak pedulinya atau tidak ada perhatian mereka kepada balaghah dan kefasihan Al-Qur'an yang merupakan salah satu bentuk i'jaz Al-Qur'an al-Karim dan Rasulullah Saw.13

Kefasihan dan balaghah merupakan bagian dari ilmu-ilmju ke-Islaman yang dipelajari di hauzah-hauzah Ilmiah. Suatu uangkapan itu disebut fashih, apabila ia dijelaskah dengan kata-kata yang indah. Dan apabila ia memiliki makna yang tinggi dan dalam, maka ia disebut baligh. Atas daar itulah, fashahah dan balaghah -yang merupakan bagian dari I'jaz Al-Qur'an- diartikan sebagai keindahan lahiriah yng mengandung ungkapan yang tinggi.

Jelas, bahwa Al-Qur'an al-Karim itu fasih dan baligh. Artinya bahwa lahiriahnya indah, memiliki gaya tarik untuk didengar dan diperhatikan dan kandungan maknanya mulia dan tinggi.

Sesungguhnya Al-Qur'an telah mencapai puncak balagah dan kafasihan, sehingga musuh-musuh Islam menamakannya sebagai sihir. Hal itu karena Al-Qur'an membuat pendengarnya pasrah dan tunduk kepadanya. Hal itu sebenarnya merupakan klaim dan pengakuan mereka terhadap gaya tarik Al-Qur'an yang luar biasa yang keluar dari kewajaran secara umum, sehingga banyak manusia yang beriman karena mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an.


Gaya tarik Al-Qur'an dan menyelamatkan muslimin

Banyak orang-orang Islam pada masa permulaan Islam yang pergi hijrah ke Habasyah akibat tekanan yang semakin kuat yang dilakukan oleh kaum musyrikin Makkah. Ketika mereka disambut dan diterima dengan baik oleh raja Habasyah, kaum musyrikin segera mengirimkan beberapa orang delegasinya untuk menjumpai Najasyi (raja Habasyah) dengan membawa hadiah yang melimpah agar orang-orang Islam itu dikembalikan ke Makkah. Pada awalnya delegasi-delegasi itu sangat berambisi untuk mendekati raja Habasyah. Sesampainya mereka dihadapan raja, mereka berkata: "Wahai raja, sekelompok orang-orang bodoh dari kalangan kami ini telah berlindung (mohon suaka politik) di negaramu. Mereka mengangkat agamanya dan tidak mau mengikuti agamamu. Mereka membawa agama baru yang mereka buat, kami dan juga kamu tidak mengenalnya. Kami telah mengutus kepadamu para pembesar kaum mereka, yaitu ayah-ayah, paman dan suku mereka, agar engkau mengembalikan orang-orang ini kepada mereka. Karena mereka lebih berhak untuk memantaunya, dan lebih mengetahui bagaimana membuat mereka jera dan melakukan sangsi.

Dari semua sisi, pertemuan tersebut menguntungkan orang-orang kafir, karena mereka telah menyiapkan berbagai mukadimah agar dapat mengambil sikap yang menguntungkan mereka. Tetapi berkat kebaikan dan kemuliaan Najasyi, dia meminta kepada kaum muslimin untuk menjelaskan sikap mereka. Mulailah Ja'far bin Abi Thalib Ra angkat bicara dengan memperkenalkan Islam, Rasulullah Saw dan Al-Qur'an. Najasyi minta agar ia membacakan sebagian ayat-ayat Al-Qur'an.

Memperhatikan situasi dan kondisi, waktu, tempat dan orang-orang yang hadir pada waktu itu memeluk agama masehi, maka Ja'far membacakan ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang kelahiran Isa As. Seketika itu, pertemuan yang tadinya dan sejak awal menguntungkan orang-orang kafir dan membahayakan orang-orang Islam, berbalik menjadikan kaum muslimin beruntung. Mendengar ayat-ayat Al-Qur'an tersebut, mulailah Najasyi dan pemuka-pemuka agamanya meneteskan air matanya. Kefasihan Al-Qur'an, balagah dan gaya tariknya, sedemikian kuatnya mempengaruhi Najasyi sehingga ia menolak dan mengembalikan hadiah-hadiah orang-orang kafir yang diberikan kepadanya. Sementara itu, ja'far dan kaum muslimin diizinkan untuk tinggal di Habasyah sampai kapan saja yang mereka inginkan.14


Contoh lain pengaruh Al-Qur'an

Contoh lainnya dari pengaruh kefasihan Al-Qur'an dan balagahnya adalah: Kisah As'ad bin Zurarah. Kabilah As'ad sudah semenjak lama selalu berseteru dengan kabilah lainnya. Pada suatu hari As'ad pergi dari Madinah menuju ke kota Makkah untuk menziarahi Ka'bah dan patung-patung yang berada di sekitarnya. Di tengah jalan ia berjumpa dengan seorang musyrikin. Orang itu memperingatkannya agar tidak mendengarkan ucapan seorang penyihir yang duduk dekat Hijir Ismail. Mulailah As'ad sibuk melakukan tawaf. Ketika ia memandang wajah Rasulullah Saw yang bercahaya, sejenak ia berpikir. Akhirnya ia memutuskan untuk mendengarkan dan memperhatikan apa yang diucapkan oleh Rasulullah Saw, dan ia siap mengkritiknya manakala ia dapat ucapan beliau itu tidak logis.15 Ketika ia mendekati Rasul dan mendengarkan beberapa ayat Al-Qur'an, ia merasa tertarik hingga mohon kepda beliau Saw agar membacakan ayat-ayat yang lainnya. Rasul pun membacakannya, kemudian ia menyatakan ke-Islamannya. As'ad menceritakan ikhtilaf yang terjadi antara kabilah-kabiblah di Madinah dan mengundang Rasul agar datang ke Madinah untuk menyelesaikan pertikaian tersebut. 16


Khithab-khithab ayat


Nyamuk bukan hewan yang hina

Banyak para mufasir terkenal, di antaranya adalah al-Marhum al-thabarsi. Di dalam kitab tafsirnya yang berharga; Majma'ul Bayan, beliau menukil sebuah hadis dari Imam As-Shadiq As. Beliau As bersabda -sehubungan dengan perumpamaan Al-Qur'an- :"Allah Swt menjadikan perumpamaan seekor nyamuk, karena nyamuk dengan bentuknya yang kecil itu, telah Allah ciptakan di dalamnya seluruh apa yang dia ciptakan di dalam gajah dengan bentuknya yang besr dan dua anggota tambahan lainnya. Dengan hal itu, Allah Swt ingin memberi peringatan kepda orang-orang beriman mengenai keindahan dan kaajaiban ciptaan-Nya. 17

Sesungguhnya Allah Swt dengan perumpamaan tersebut pada hakikatnya ingin menjelaskan keunikan ciptaan-Nya. Dan berpikir mengenai lemahnya hewan tersebut secara lahiriah -yang telah Allah ciptakan mirip dengan hewan darat yang paling besar- dapat menuntun manusia kepada keagungan penciptanya.


Penjelasan

Di dalam badan nyamuk yang lemah itu terdapat anggota badan gajah yang bentuknya besar. Terdapat di dalamnya alat pencernaan, belalai yang unik yang memiliki lubang yang dalam, anggota untuk bergerak dan alat kelamin dan lain sebagainya. Bahkan nyamuk memiliki dua buah tanduk yang mirip dengan antenna. Gunanya untuk berkomunikasi di antara mereka dan dengan lingkungan di sekitarnya. Hali ini tidak terdapt pada gajah.


2. Dua hijab besar: melimpahnya kenikmatan dan kebiasan atasnya

Ada dua perkara yang membuat manusia lalai dari nikmat-nikmat Allah yang besar dan tidak peduli untuk memikirkan keunikan dan keindahan ciptaan-Nya.


Pertama: Hijab melimpahnya nikmat

Sesungguhnya melimpahnya kenikmatan dapat membuat manusia meremehkan, tidak menganggap dan tidak berpikir tentangnya. Sebagai contoh misalnya: Seekor nyamuk jika langka di alam ini, lalu jatuh ke tangan para ilmuan, pasti mereka akan menilai bahwa nyamuk itu memiliki nilai yang tinggi. Kemudian mereka pasti akan mengadakan penelitian dan penyelidikan tentangnya.


Kedua: Hijab kebiasan

Mata manusia -misalnya- termasuk tanda-tanda ciptaan Allah yang besar. Hanya saja kita tidak memikirkan dan tidak memperhatikan penciptaannya. Demikian halnya dengan telinga. Telinga merupakan penerima suarua yang kokoh, unik dan menakjubkan. Karena kita telah terbiasa mendengar dengannya, maka kita tidak mengetahui kadar dan nilainya yang tinggi. Padahal jika kita amati secara teliti, bukan hanya dua anggota tersebut, bahkan setiap sesuatu yang ada di alam dunia ini, kita dapati menakjubkan dan penuh dnegan keajaiban yang dapat menyingkap berbagai rahasia penciptaan, keagungan dan ketahuhidan.


3.Petunjuk dan kesesatan dalam Al-Qur'an

Pada bagian akhir ayat tersebut, Allah Swt menjawab uapan orang-orang munafik yang mengatakan: "Apa sebenarnya yang Allah kehendaki dengan mengadakan perumpamaan seperti ini? Sementara banyak orang yang tersesat dan banyak pula yang mendapat pentujuk?". Allah Swt menjawab mereka: "Dengan perumpamaan tersebut Allah tidak menyesatkan, kecuali orang-orang yang fasik". Pada ayat ini dan ayat-ayat yang serupa dengannya 18, kesesatan dinisbahkan kepada Allah Swt sebagaimana petunjuk -pada ayat-ayat lainnya- dinisbahkan juga kepada-Nya. 19

Jika petunjuk dan kesesatan dari Allah Swt dan kita ini terpaksa atasnya dan tidak memilii kehendak sama sekali, tetapi mengapa Allah Swt memberi ganjaran pahala kepada orang-orang yang mendapat petunjuk dan menyiksa orang-orng yangsesat meskipun mereka itu terpaksa?

Terdapat banyak pandangan dalam menafsirkan ayat tersebut dan yang sesrupa dengannya. Sebagian ulama berkata: "Maksud dari "menyesatkan" ialah: "menguji". Artinya Allah Swt ingin menguji manusia melalui perumpaman-perumpamaan tersebut." 20

Ulama lain berkata: "Maksud dari petunjuk dan kesesatan ialah menyiapkan mukadimah-mukadimah keduanya dan bukan menyiapkan keduanya. Sedang keputusan akhir kembali kepada kehendak manusia itu sendiri. Seakan-akan Allah Swt mencabut keberhasilan dari orang-orang yang membangkang. Dengan demikian maksud dari kesesatan adalah: mencabut keberhasilan (taufik). 21

Sebab adanya ikhtilaf di antara mufassirin adalah karena rumit dan sulitnya mengartikan dua kosa kata (Al-Dhalal dan al-Hidayah). Oleh karena itu, kita harus menjelaskan kedua kosa kata tersebut, kemudian berusaha memecahkan problema ikhtilaf dalam menafsirkan kata terseut.


Arti hidayah

Perhatikan contoh ini baik-baik. Sesungguhnya tetes-tetes air hujan yang lembut dan bersih sera dapat memberikan kehidupan turun di atas seluruh permukaan bumi. Sebagaimana juga matahari memancarkan dinarnya ke atas bola bumi dan memberikan cahaya penerangan dan energi. Hujan dan matahari merupakan rahmat Allah Swt. Tetapi hasil pertanian yang diperoleh dari tanah berkat kedua nikmat hujan dan sinar matahari ini berbeda-beda. Di tanah yang kering tumbuh pohon-pohon berduri. Sementara di tanah yang subur tumbuh bunga-bunga dan berbagai tumbuhan yang bermanfaat. Apakah sebab perbedaan tersebut karena air hujan dan sinar matahari, ataukah karena tanahnya yang kering?

Tidak diragukan lagi, bahwa sumber perbedan tersebut adalah tanah. Sekiranya bibit-bibit pohon bunga ditebarkan di tempat bibit-bibit pohon berduri pada tanah tersebut, pasti tanah itu akan berganti menjadi sebidang kebun bunga. Atas dasar itulah, jika dikatakan bahwa air hujan turun kepada kita dengan membawa pohon-pohon berduri, hal itu tidak berarti bahwa hujan merupakan penyebabnya. Tetapi karena tanah itulah yang tidak subur.

Sesungguhnya masalah hidayah dan kesesatan berlaku seperti itu. Karena curahan rahmat Ilahi itu turun kepada hati seluruh umat manusia dengan perantara Rasul Saw. Dan mereka semua telah mendengarkan wahyu Al-Qur'an. Orang-orang yang sebelumnya telah menyiapkan lahan hatinya, pasti akan mendapat hidayah. Adapun mereka yang tidak menyirami hatinya dengan pancaran iman dan tidak menyiapkan diri mereka, pasti akan tersesat.

Sesungguhnya ayat-ayat Al-Qur'an mendukung klaim tersebut.
Ayat yang kedua dari surat Al-Baqarah berbunyi: "Itulah kitab Al-Qur'an yang tidak terdapat keraguan sedikit pun di dalamnya". Artinya bahwa hidayah itu akan dilimpahkan kepda orang-orang yang menyingkirkan tirai fanatic dan pembangkangan dari hati mereka, dan mereka memiliki kesadaran penuh.

Pada ayat yang sedang dibahas di sini (Surat Al-Baqarah ayat: 26) Allah Swt berfirman: "Tidak disesatkan melainkan orang-orang yangfasik". Artinya mereka itu rang-orang yang fasik dan lahan hati mereka gersang. Oleh karena itu mereka disesatkan Allah. Kemudian tumbuhlah di dalam hati mereka -dengan turunnya hujan rahmat dan iman- duri-duri kekufuran.

Di dalam surat Ar-Rum ayat: 10 Allah Swt berfirman:" Kemudian kesudahan bagi orang-orang yang berbuat kejahatan adalah azab yang buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah". Artinya bahwa mendustakan ayat-ayat Allah Swt dan kesesatan merupakan hasil dan akibat perbuatan orang-orang yang zalim terhadap diri mereka sendiri. 22 Atas dasar itu, maka hidayah dan kesesatan sebagai akibat dari perbuatan manusia. Karena Allah Swt -Yang Mahabijak secara mutlak- telah menetapkan ketentuan-ketentuan-Nya atas hamba-hamba-Nya sesuai dengan kebijakan-Nya. Apabila aku melangkahkan kaki untuk meraih rahmat Ilahi, maka aku pasti akan memperoleh hidayah-Nya. Tetapi jika aku menapakkan kakiku pada jalan selain hak, maka aku akan menjadi mishdaq bagi ayat yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah menyesatkan orang yang dikehedaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang kembali kepada-Nya". Maka akhir perjalananku adalah kesesatan.

Berdasarkan penjelasan ayat tersebut dapat dipahami bahwa hidayah itu bukan tanpa usaha. Bahkan seseorang itu akan mendapatkan curahan hidayah jika ia melangkahkan kakinya menuju jalan hak dan kembali kepada Allah Swt. Sementara orang-orang yang memusuhi Allah Swt, maka akhir perjalanannya hanyalah kesesatan.

Pendek kata, tidak ada keterpaksan kepada keduanya. Karena hidayah dan kesesatan merupakan hasil dan akibat amal perbuatan manusia itu sendiri.

Kesesatan merupaka racun yang dapat membunuh seseorang. Oleh karena itu, jika seseorang berani meneggak racun itu dengan kehendaknya sendiri, maka janganlah menyalahkan orang lain.

Sebenarnya ayat-ayat hidayah dan kesesatan, tidak serumit yang dibayangkan. Karena ayat-ayat itu ditafsirkan oleh ayat-ayat lainnya di dalam Al-Qur'an.

Akhirnya taklif dan tugas seorang muslim adalah beramal dan berusaha sebatas kemampuannya untuk menyiapkan lahan hati agar dapat menerima hujan rahmat Ilahi. Dan mohon kepada Allah Swt bantuan dan ampunan atas segala kesalahan yang dikerjakannya.