IMAM HASAN AL-'ASKARI

Imam Abu Muhammad Hasan Al-'AskarÓ as. adalah imam kesebelas dari para imam Ahlul Bait as. yang telah bertugas mengemban risalah Islam dan menegakkan tujuan dan nilai-nilai luhurnya. Ia adalah sebuah anugerah Allah swt. untuk para hamba-Nya, dan juga salah satu tanda kekuasaan-Nya dalam segala karunia, nilai-nilai luhur, dan jihad yang telah ia lakukan. Ia telah mengadakan penentangan terhadap kekuasaan dinasti Bani Abb‚siyah yang menyeleweng dan berusaha untuk merealisasikan keadilan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Pada kesempatan ini, kami akan memaparkan sekilas tentang sejarah kehidupan dan biografi imam agung yang satu ini.

Silsilah Keturunan

Silsilah keturunan Imam Hasan Al-'AskarÓ as. berasal dari garis keturunan keluarga nabawi yang telah dijadikan oleh Allah swt. sebagai mata air kemuliaan muslimin. Keluarga ini telah diserahi tugas untuk menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, serta sekaligus menebarkannya di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Saya tidak yakin bahwa ada sebuah keluarga di dunia ini yang telah berkiprah untuk berkhidmat kepada kebenaran dan menebarkan nilai-nilai luhur di tengah-tengah kehidupan umat manusia seperti keluarga nabawi yang satu ini.
Sesungguhnya Imam Hasan Al-'AskarÓ as. memiliki hubungan nasab dengan Rasulullah saw. dan Kota Ilmunya, Imam Amirul Mukminin as. Ia adalah putra Imam Ali Al-H‚dÓ bin Imam Muhammad Al-Jaw‚d bin Imam Ali bin MŻs‚ Ar-Ridh‚ bin Imam MŻs‚ bin Ja'far bin Imam Ja'far Ash-Sh‚diq bin Imam Muhammad Al-B‚qir bin Imam Ali bin Husain bin Imam Husain bin Ali bin Ali bin Abi Thalib-semoga salam Allah senantiasa tercurahkan atas mereka. Mereka semua adalah para imam petunjuk, pelita kegelapan, dan bendera ketakwaan yang telah dijauhkan oleh Allah dari segala jenis kekotoran dan disucikan sesuci-sucinya. Di samping itu, Rasulullah saw. telah menjadikan mereka sebagai bahtera-bahtera keselamatan, tempat keamanan para hamba, dan pintu hiththah yang dapat menjamin keamanan bagi setiap orang yang memasukinya.

Kelahiran

Dunia Islam menjadi terang benderang kembali dengan kelahiran salah seorang keuturunan Nabi saw. dan penerus missi im‚mah ini. Para perawi hadis dan ahli sejarah berbeda pendapat berkenaan dengan daerah yang telah mendapatkan kemuliaan untuk menerima kelahirannya itu. Sebagian berpendapat bahwa daerah itu adalah Madinah Al-Munawarah dan menurut sebuah pendapat, ia dilahirkan di Samirra'. Tentang tanggal dan tahun kelahirannya, mereka juga tidak memiliki kesepakatan pendapat. Berikut ini adalah pendapat-pendapat mereka dalam masalah ini:
a. Ia dilahirkan pada bulan Rabi'ul Awal 230 Hijriah.
b. Ia dilahirkan pada tahun 231 Hijriah.
c. Ia dilahirkan pada tahun 232 Hijriah.
d. Ia dilahirkan pada tahun 233 Hijriah.

Acara Ritual Kelahiran

Ketika diberitahukan tentang kelahiran sang putra yang penuh berkah itu, Imam Al-H‚dÓ as. bergegas melaksanakan acara ritual kelahiran atas putranya itu. Ia mengumandangkan azan di telinga kanannya dan membacakan iqamah di telinga kirinya. Imam yang suci ini menyambut alam wujud ini dengan mengumandangkan kalimat-kalimat tauhid sebagai secercah sinar dari nur Allah swt. dan zikir muslimin di setiap tempat dan masa. Yaitu, Allahu Akbar, l‚ il‚ha illal‚h.
Pada hari ketujuh dari kelahiran sang putra, Imam Al-H‚dÓ as. mencukur rambutnya dan menyedekahkan emas atau perak kepada orang-orang miskin seberat rambut yang telah dicukur itu. Ia juga melaksanakan acara akikah dengan menyembelih seekor kambing untuk sang putra sebagai tindak mengamalkan sunah Islami yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Ia memberi nama Hasan kepada sang putra seperti nama pamannya yang tertinggi. Yaitu, Imam Hasan Al-Mujtab‚, penghulu pemuda surga. Ia juga memberi nama panggilan Abu Muhammad. Muhammad ini adalah nama imam yang sedang ditunggu-tunggu kedatangannya di mana ia adalah harapan orang-orang yang tertindas di muka bumi ini.

Pertumbuhan dan Perkembangan

Imam Abu Muhammad tumbuh berkembang di dalam sebuah rumah Allah yang termulia. Yaitu, rumah im‚mah yang telah dijauhkan oleh Allah dari segala kotoran dan disucikan sesuci-sucinya.
Tentang rumah yang agung ini, Asy-Syabr‚wÓ berkomentar: "Alangkah mulianya rumah dan silsilah keturunan yang agung ini. Alangkah kemuliaan yang sangat agung. Cukuplah bagimu ketinggian kedudukan yang dimiliki oleh rumah ini bahwa mereka semua memiliki nasab yang mulia dan pokok yang baik. Mereka sama rata bak gigi-gigi sisir dan sama-sama memiliki saham dalam seluruh kegungan. Aduhai rumah yang sangat agung. Rumah ini terjulang ke langit dan memiliki tempat di sisi bintang-gumintang, dan tenggelam dalam kemuliaan."

Takut kepada Allah swt.

Karakter yang sangat menonjol pada waktu Imam Al-'AskarÓ as. pada waktu masih kecil adalah rasa takut kepada Allah swt. Para ahli sejarah meriwayatkan bahwa seseorang pernah lewat melaluinya ketika sedang bermain bersama teman-teman sebayanya, sedangkan ia menangis terisak-isak. Orang itu menyangka bahwa ia menangis lantaran merasa iri terhadap mainan yang dimiliki teman-teman sebayanya dan ia tidak memilikinya. Orang itu bertanya kepada Imam Al-'AskarÓ: "Maukah kubelikan sebuah mainan yang dapat kau gunakan untuk bermain?"
Imam Al-'AskarÓ menjawab: "Tidak! Kita tidak diciptakan untuk bermain-main."
Orang itu terherean-heran seraya bertanya: "Untuk apa kita diciptakan?"
Imam Al-'AskarÓ menjawab: "Untuk ilmu pengetahuan dan ibadah."
Orang itu bertanya lagi: "Dari manakah kau dapatkan semua ini?"
Imam Al-'AskarÓ menjawab lebih lanjut: "Dari firman Allah yang berbunyi, 'Apakah kamu semua menyangka bahwa Kami ciptakan kamu sia-sia?'"
Orang itu diam seribu bahasa dan berdiri kebingungan seraya bertanya: "Apa yang telah terjadi pada dirimu, sedangkan engkau masih kecil begini?"
Imam Al-'AskarÓ menjawab: "Enyahlah dariku. Aku pernah melihat ibuku sedang menyalakan api dengan menggunakan kayu bakar yang besar, dan api itu tidak mau menyala kecuali dengan kayu bakar yang kecil. Aku takut apabila aku menjadi kayu bakar yang kecil bagi neraka Jahanam."
Anda perhatikan keimanan itu bereaksi aktif dalam diri Imam Hasan Al-'AskarÓ as. sedangkan ia masih berusia kanak-kanak. Lebih dari itu, keimanan adalah karakter dan subtansi sejati jiwanya.

Bersama Sang Ayah

Imam Abu Muhammad as. pernah mengalami hidup bersama sang ayah beberapa masa lamanya dan tidak pernah berpisah darinya, baik sang ayah berada di kediaman maupun dalam perjalanan. Imam Al-H‚dÓ as. mengumumkan keutamaan sang putra seraya berkata: "Abu Muhammad adalah salah seorang keturunan keluarga Muhammad saw. yang paling benar nalurinya dan yang paling kuat hujahnya. Ia adalah putraku yang terbesar. Ia adalah penggantiku dan kepadanya tali temali im‚mah dan hukum-hukum kami berakhir."
Ucapan ini mengungkapkan karakter dan sifat Imam Abu Muhammad as. yang tertinggi dan teragung. Ia adalah salah seorang keturunan keluarga Muhammad saw. yang paling benar naluri dan tabiatnya, serta yang paling kuat hujah dan dalilnya. Kepadanyalah kekhalifahan dan im‚mah berakhir. Dengan karakter-karakter tersebut, telah terkumpul dalam dirinya seluruh sifat keutamaan dan kesempurnaan.

Ibadah

Imam Hasan Al-'AskarÓ as. adalah figur paling 'abid pada masa ia hidup dan orang yang paling banyak bertobat dan taat kepada Allah swt. Pada siang hari, ia sering berpuasa dan pada malam hari, ia selalu mengerjakan salat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa.
Muhammad Asy-Sy‚kirÓ berkata: "Imam Abu Muhammad selalu duduk di mihrab dan bersujud. Aku tertidur dan ketika bangun, ia masih dalam kondisi sujud." Rohnya telah terikat dengan Allah swt. dan tidak pernah tergiur oleh gemerlap kehidupan dunia. Telah diriwayatkan banyak doa qunutnya yang mengungkapkan tobat kepada Allah swt., sebagaimana juga banyak doa diriwayatkan yang selalu ia baca setelah usai mengerjakan salat. Kami telah menyebutkan semua doa itu dalam buku kami yang berjudul Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as.

Kesabaran

Imam Hasan Al-'AskarÓ as. adalah figur yang tersabar dan paling mampu menahan amarah. Dinasti Bani Abb‚siyah pernah ingin menahan dan menjebloskannya ke dalam penjara. Tapi, ia menanggapi semua itu dengan pebuh kesabaran dan tak satu pun kata keluhan yang keluar dari mulutnya. Ia tidak pernah mengadukan kepada siapa pun mala petaka dan kepahitan penjara (yang akan menimpa dirinya).

Kedermawanan

Imam Abu Muhammad as. adalah orang yang paling dermawan dan banyak berbuat derma kepada kaum fakir-miskin. Ia memerintahkan para wakilnya yang telah ditunjuk sebagai pemungut zakat dan khumus untuk menginfakkan seluruh harta tersebut kepada kaum fakir-miskin dan tidak mampu, memperbaiki hubungan antara dua orang yang sedang berselisih, dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat.
Di antara manifestasi kedermawan Imam Hasan Al-'AskarÓ as. adalah riwayat berikut ini:
Para ahli sejarah meriwayatkan dari Muhammad bin Ali bin Ibrahim bin Imam MŻs‚ bin Ja'far as. Ia bercerita: "Kehidupan kami pernah mengalami kesulitan. Pada suatu hari, ayahku berkata, 'Marilah kita pergi menjumpai orang itu-yaitu, Imam Abu Muhammad. Kami sering mendengar kedermawanannya.'
Aku bertanya kepada ayahku, 'Apakah kamu mengenalnya?'
Ia menjawab, 'Aku tidak mengenalnya dan tidak pernah melihatnya sekejap pun.'
Kami pun berangkat. Di pertengahan jalan, ayahku berguman, 'Kali ini, betapa kita membutuhkan orang yang dapat memberikan lima ratus dirham: dua ratus dirham untuk membeli pakaian, dua ratus dirham untuk membeli tepung, dan seratus sisanya untuk modal.' Aku juga berguman dalam diriku, 'Oh, seandainya ia memberikan tiga ratus dirham: seratus dirham kugunakan untuk membeli keledai, seratus dirham kupergunakan untuk modal, dan seratus sisanya kumanfaatkan untuk membeli pakaian. Lalu, aku pergi ke daerah Jabul (untuk mencari mata pencarian hidup).'
Ketika kami tiba di depan pintu rumah Imam Hasan Al-'AskarÓ, pembantunya keluar menyongsong kedatangan kami seraya berkata, 'Ali bin Ibrahim dan putranya dipersilakan masuk.'
Ketika kami masuk dan mengucapkan salam, ia berkata kepada ayahku, 'Hai Ali, apa yang menyebabkan kamu terlambat menjumpai kami hingga saat ini?'
Ayahku menjawab, 'Wahai junjunganku, aku malu untuk berjumpa dengan Anda.'"
Ali dan sang putra berada di sisi Imam Abu Muhammad as. beberapa saat. Setelah itu, mereka memohon pamit. Tidak lama kemudian, pembantu Imam Al-'AskarÓ datang dan memberikan sebuah kantong uang yang berisi lima ratus dirham kepada Ali seraya berkata kepadanya: "Dua ratus dirham untuk membeli pakaian, dua ratus dirham untuk membeli tepung, dan seratus dirham untuk modal." Ia juga memberikan sebuah kantong uang kepada putranya, Muhammad, yang berisi tiga ratus dirham seraya berkata kepadanya: "Seratus dirham untuk membeli keledai, seratus dirham untuk membeli pakaian, dan seratus dirham sisanya untuk modal. Tetapi, jangan kamu pergi ke Jabul. Sebagai gantinya, pergilah ke daerah SŻr‚'( ).'
Muhammad pun pergi ke daerah SŻr‚' sesuai dengan perintah Imam Abu Muhammad as., dan kondisi kehidupannya pun terus membaik sehingga ia menjadi salah seorang Bani Ali yang terkaya.
Para ahli sejarah menyebutkan banyak contoh atas kedermawanan, kebajikan, dan usaha-usaha Imam Hasan Al-'AskarÓ as. untuk menyelamatkan kehidupan kaum fakir-miskin.

Ilmu Pengetahuan

Para penulis biografi Imam Abu Muhammad as. sepakat bahwa ia adalah figur yang paling 'alim dan paling utama pada masanya. Hal itu bukan hanya dalam bidang ilmu syariat dan hukum-hukum agama, tetapi dalam seluruh bidang ilmu pengetahuan.
BakhtisyŻ', seorang dokter yang menganut agama Kristen, pernah berkata kepada salah seorang muridnya: "Dia adalah figur yang paling 'alim pada masa kita dibandingkan dengan seluruh manusia yang hidup di jagad ini ...."
Dari ucapan sang dokter ini dapat dipahami bahwa Imam Hasan Al-'AskarÓ as. adalah figur yang paling 'alim di seluruh dunia dan ia memiliki kemampuan ilmiah yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh selainnya. Dan ini adalah keyakinan mazhab Syi'ah bahwa Allah swt. telah menganugerahi seluruh ilmu pengetahuan kepada para imam Ahlul Bait as.

Ketinggian Akhlak

Imam Abu Muhammad as. adalah salah satu tanda kekuasaan Allah swt. dalam ketinggian akhlak dan adab. Ia selalu menghadapi kawan dan lawan dengan keceriaan wajah. Banyak sekali kisah yang telah diriwayatkan berkenaan dengan ketinggian dan kemuliaan akhlaknya ketika menghadapi para lawan dan orang-orang yang membencinya. Dengan cara seperti ini, mereka berubah total menjadi pecintanya. Di antara orang-orang yang telah terpengaruh karena akhlaknya adalah Ali bin Awt‚nesy. Ia terkenal dengan permusuhannya yang dahsyat terhadap keluarga Nabi saw. Hanya saja, ketika ia berjumpa dengan Imam Al-'AskarÓ, sikapnya berubah total. Ia tidak pernah mengangkat kepalanya untuk melihat Imam Al-'AskarÓ karena menghormati dan takzim kepadanya. Dan ia adalah orang yang paling baik memuji Imam Al-'AskarÓ.
Dalam ketinggian dan kemuliaan akhlak ini, Imam Abu Muhammad as. adalah salah satu manifestasi hembusan risalah Islami dan buah segar dari sekian buah yang telah dihasilkan oleh Rasulullah saw.

Mutiara Hikmah Pendek

Telah diriwayatkan dari Imam Abu Muhammad Al-'AskarÓ as. banyak hadis yang memuat nasihat, petunjuk, dan penyucian jiwa menuju nilai-nilai insani yang luhur. Di antara hadis-hadis tersebut adalah sebagai berikut:
a. Ia berkata: "Sesungguhnya kalian berada dalam lingkaran ajal yang selalu berkurang dan dalam lingkup hari-hari yang terbatas. Kematian akan datang secara tiba-tiba. Barang siapa menanam kebaikan, niscaya ia akan memanen kebahagiaan dan barang siapa menanam keburukan, niscaya ia akan memanen penyesalan. Setiap penanam tanaman akan memperoleh apa yang telah ia tanam. Bagian orang yang lambat berjalan tidak akan didahului oleh orang lain dan orang yang tamak tidak akan mendapatkan apa yang tidak ditentukan baginya. Barang siapa diberi sebuah kebaikan, Allah-lah yang telah memberikannya dan barang siapa terjaga dari sebuah keburukan, Allah-lah yang telah menjaganya."
b. Ia berkata: "Orang yang paling wara' adalah orang yang menahan diri ketika menghadapi syubhah (hal-hal yang tidak pasti hukumnya-pen.). Orang yang paling 'abid adalah orang yang kontinyu menjalankan kewajiban. Orang yang paling zuhud adalah orang yang meninggalkan hal-hal yang haram. Orang yang paling banyak berusaha adalah orang yang meninggalkan dosa."
c. Ia berkata: "Sesungguhnya sampai kepada Allah 'Azza Wajalla adalah sebuah perjalanan (panjang) yang tidak akan dapat digapai kecuali dengan bangun malam."
d. Ia berkata: "Menderita kemiskinan bersama kami adalah lebih baik daripada bergelimang kekayaan bersama musuh kami."
e. Ia berkata: "Keberanian seorang anak kepada ayahnya pada saat ia masih kecil dapat menyebabkan ia berbuat durhaka kepadanya pada saat ia sudah besar."
f. Ia berkata: "Ibadah itu bukanlah sekadar memperbanyak puasa dan salat. Ibadah itu adalah merenungkan urusan (baca: ciptaan) Allah."

Bukti-Bukti Im‚mah

Allah swt. menganugerahkan mukjizat-mukjizat kepada para nabi dan washÓ-Nya yang tidak dapat didatangkan oleh umat manusia yang lain supaya mukjizat itu menjadi saksi atas kebenaran missi petunjuk dan kebaikan untuk umat manusia yang telah mereka terima dari Allah swt. Di antara mukjizat-mukjizat tersebut adalah mereka mengetahui segala sesuatu yang terpendam di dalam hati kecil orang lain, sebagaimana mereka juga mengetahui fitnah dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang.
Allah swt. telah menganugerahkan kemampuan ini kepada para imam Ahlul Bait as. Anda tidak membaca sejarah kehidupan salah seorang dari mereka kecuali Anda pasti menemukan banyak peristiwa dan kejadian yang telah diprediksikan oleh mereka sebelum peristiwa itu terjadi.
Pada kesempatan ini, kami akan menyebutkan sebagian hadis yang telah diriwayatkan dari Imam Abu Muhammad Al-'AskarÓ as. yang memprediksikan beberapa peristiwa sebelum terjadi. Di antara hadis-hadis tersebut adalah sebagai berikut:

a. Ismail bin Muhammad Al-Abb‚sÓ bercerita: "Aku pernah mengadukan sebuah hajat kepada Abu Muhammad dan aku bersumpah kepadanya bahwa aku tidak memiliki uang sedirham pun (untuk memenuhi itu). Ia berkata kepadaku, 'Apakah engkau bersumpah bohong karena Allah, padahal engkau masih memendam dua ratus dinar? Ucapanku ini bukanlah sebuah usaha penolakan untuk memberikan uang kepadamu. Hai pembantuku, berapakah uang yang kau miliki?'
Usai berkata demikian, ia memberikan dua ratus dinar kepadaku. Setalah itu, ia menoleh kepadaku sembari berkata, 'Sesungguhnya engkau akan kehilangan dinar-dinar yang telah kau pendam itu pada saat engkau lebih membutuhkannya.'
Beberapa saat setelah peristiwa ini, aku merasa membutuhkan uang. Aku mencari-cari uang tersebut dan tidak menemukannya. Tiba-tiba aku mendengar berita bahwa salah seorang anakku telah mengetahui tempat penyembunyiannya. Lalu ia mencurinya dan melarikan diri."

b. Abu H‚syim bercerita: "Aku pernah dipenjara. Aku mengadukan kesempitan dan kesengsaraan yang kualami selama berada di dalam penjara kepada Abu Muhammad. Ia menulis surat yang berisi, 'Kamu akan mengerjakan salat Zhuhur di rumahmu pada hari ini.' Dan hal itu betul-betul terjadi." Ia keluar dari penjara pada waktu Zhuhur dan mengerjakan salat Zhuhur di rumahnya.

c. Abu H‚syim meriwayatkan: "Aku pernah mendengar Abu Muhammad as. berkata, 'Surga memiliki sebuah pintu yang bernama pintu Al-Ma'rŻf dan pintu ini tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang ahli makruf.' Mendengar ucapannya ini, aku memuji Allah di dalam diriku dan gembira karena dapat membereskan hajat-hajat masyarakat. Ia melanjutkan, 'Kamu telah mengetahui posisimu (di surga). Sesungguhnya mereka yang ahli makruf di dunia ini adalah ahli Al-Ma'rŻf di akhirat. Semoga Allah menjadikan kamu termasuk dalam golongan mereka dan merahmatimu.'"

d. Muhammad bin Hamzah Ad-DawrÓ meriwayatkan: "Aku pernah menulis sepucuk surat kepada Imam Abu Muhammad as. sembari memohon supaya ia memohon kekayaan kepada Allah untukku. Aku telah ditimpa kemiskinan dan aku khawatir atas kesengsaraan hidup ini. Ia menjawab surat tersebut, 'Berbahagialah, karena Allah swt. telah menganugerahkan kekayaan kepadamu. Kemenakanmu, Yahy‚ bin Hamzah telah meninggal dunia dan meninggalkan harta peninggalan sebanyak seratus ribu dirham dan ia tidak memilik seorang pewaris pun kecuali kamu. Seluruh harta peninggalannya menjadi hak milikmu. Maka, bersyukurlah kepada Allah, pergunakanlah harta itu secara ekonomis, dan jauhilah penggunaan secara berlebih-lebihan ....' Aku menerima harta tersebut dan sekaligus berita kematian kemenakanku-seperti diberitakan oleh Imam Al-'AskarÓ-beberapa hari setelah itu. Kemiskinan pun hengkang dariku. Aku penuhi hak Allah dan kujauhi tindakan berhambur-hamburan."

e. Muhammad bin Hasan bin Maimun meriwayatkan: "Aku pernah menulis surat kepada junjunganku, Hasan Al-'AskarÓ as. mengadukan kemiskinan yang melilit kehidupanku. Setelah itu, aku berguman dalam diriku, 'Bukankah Abu Abdillah as. pernah berpesan, 'Derita kemiskinan bersama kami adalah lebih baik daripada gelimangan kekayaan bersama musuh kami dan terbunuh bersama kami adalah lebih baik daripada hidup bersama musuh kami.'
Tidak lama kemudian surat jawaban Imam Al-'AskarÓ datang, 'Sesungguhnya Allah 'Azza Wajalla membersihkan dosa-dosa para pengikut kami jika dosa-dosa itu bergesekan dengan kemiskinan, dan kadang-kadang juga Dia mengampuni dosa-dosa yang tak terhingga. Hal ini adalah seperti yang kau bisikkan dalam dirimu. Derita kemiskinan bersama kami adalah lebih baik daripada gelimangan kekayaan bersama musuh kami dan kami adalah goa bagi orang yang berlindung kepada kami, cahaya bagi orang yang mencari cahaya dengan perantara kami, dan perlindungan ('ishmah) bagi orang yang mencari perlindungan dengan perantara kami. Barang siapa mencintai kami, niscaya ia akan hidup bersama kami di dalam tingkat surga yang tertinggi dan barang siapa menyeleweng dari kami, niscaya ia terjerumus ke dalam dalam neraka.'"

f. Abu H‚syim bercerita: "Aku pernah bertamu ke rumah Abu Abdillah as. dan ingin meminta sebuah mata cincin kepadanya untuk kuletakkan di atas cincinku supaya aku mendapatan berkah darinya. Aku pun duduk dan lupa untuk keperluan apa aku bertamu ke rumahnya itu. Ketika aku memohon pamit dan hendak pergi, ia memberiku sebuah cincin sembari tersenyum. Ia berkata, 'Kamu menginginkan sebuah mata cincin dan kami memberikan sebuah cincin kepadamu. Dengan ini engkau telah untung mata cincin tersebut. Semoga Allah memberkahimu dengan cincin itu.'
Aku terheran-heran dengan peristiwa ini, dan lantas berkata, 'Wahai junjunganku, sesungguhnya Anda adalah wali Allah dan imamku yang aku menyembah Allah dengan karunia dan ketaatan kepadanya.' Ia menimpali, 'Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu H‚syim.'"
Ini adalah sebagian contoh peristiwa yang telah diberitahukan oleh Imam Abu Muhammad as. Semua itu dapat membuktikan kebenaran im‚mah-nya.
Layak disebutkan di sini bahwa telah banyak riwayat diriwayatkan dari para imam Ahlul Bait as. yang menceritakan peristiwa dan hal-hal yang disembunyikan oleh masyarakat di dalam hati mereka, (lalu para imam as. menyingkapnya tanpa mereka beritahukan). Allah swt. telah menganugerahkan semua itu kepada mereka untuk membuktikan kebenaran im‚mah mereka, sebagaiman Dia juga telah menganugerahkan mukjizat-mukjizat kepada para nabi dan rasul as. yang orang lain tidak dapat mendatangkan mukjizat yang serupa dengannya. Ini adalah akidah dan keyakinan mazhab Syi'ah tentang para imam mereka as., dan hal ini tidak sedikit pun mengandung ghuluw (keyakinan yang berlebih-lebihan) dan keluar dari jalur logika.

Surat Imam Al-'AskarÓ kepada Ali bin Husain

Imam Hasan Al-'AskarÓ as. pernah menulis sepucuk surat kepada seorang faqih 'alim dan agung yang bernama Abul Hasan Ali bin Husain bin MŻs‚ bin B‚bawaeh Al-QomÓ. Ia adalah seorang tokoh kenamaan Syi'ah dan bendera panutan yang selalu tegak berkibar dalam bidang ilmu Hadis, Fiqih, dan bidang-bidang ilmu Islam lainnya. Setelah basmalah, surat itu berisi berikut ini:
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Akibat segala sesuatu adalah untuk orang-orang yang bertakwa. Surga adalah untuk orang-orang yang mengesakan Allah dan neraka adalah nasib orang-orang yang mengingkari. Tiada permusuhan kecuali atas orang-orang yang zalim dan tiada tuhan selain Allah, sebaik-baik Pencipta. Semoga shalawat senantiasa tercurahkan atas sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad dan 'Itrahnya yang suci. Amma ba'du:
Aku berwasiat kepadamu wahai Syaikhku, orang kepercayaanku, dan faqihku, Abul Hasan Ali bin Husain Al-QomÓ-semoga Allah memberikan taufik kepadamu untuk menggapai keridaan-Nya dan menjadikan keturunan yang saleh dari sulbimu dengan rahmat-Nya-dengan takwa kepada Allah, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Aku berwasiat kepadamu supaya mengampuni dosa (orang lain), menahan amarah, bersilaturahmi, bertenggang-rasa terhadap saudara-saudara seiman dan berusaha untuk memenuhi hajat-hajat mereka, baik kamu berada dalam kondisi lapang maupun sulit, bersabar ketika (menghadapi) kebodohan (orang lain), memahami dan memperlajari agama, berdiri kokoh dalam segala urusan, berjanji kepada Al-Qur'an, berperangai yang baik, dan melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar; Allah 'Azza Wajalla berfirman: "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh [manusia] memberi sedekah, berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (QS. An-Nis‚' [4]:114) (Begitu juga aku wasiatkan kepadamu) untuk meninggalkan seluruh keburukan. Kerjakanlah salat malam. Karena, Nabi saw. pernah mewasiatkan hal ini kepada Ali seraya bersabda: "Wahai Ali, kerjakanlah salat malam-ia besabda demikian sebanyak tiga kali. Barang siapa meremehkan salat malam, maka ia bukan termasuk dalam golongan kami."
Kerjakanlah wasiatku ini dan perintahkanlah kepada Syi'ahku untuk melaksanakannya. Bersabarlah dan selalu bersiagalah untuk menanti faraj. Karena, Nabi saw. pernah bersabda: "Amal umatku yang paling utama adalah menunggu faraj."
Syi'ah kami senantiasa ditimpa kesedihan sehingga anakku yang telah dijanjikan oleh Nabi saw. akan memenuhi bumi ini dengan keadilan setelah bumi itu dipenuhi oleh kezaliman itu muncul. Maka, bersabarlah wahai Syaikhku dan perintahkanlah Syi'ahku untuk bersabar. "Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah. Dia akan mewariskannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari para hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-A'r‚f [7]:128)
Cukuplah Allah bagi kita semua dan Dia adalah sebaik-baik wakil. Dia adalah sebaik-baik Mawla dan sebaik-baik Penolong.
Surat ini mengindikasikan hal-hal berikut ini:
a. Penegasan atas ketinggian kedudukan yang dimiliki oleh sang faqih, Ali bin Husain. Imam Al-'AskarÓ as. telah menyematkan julukan-julukan mulia kepadanya yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisinya. Para penulis biografi kehidupannya menegaskan bahwa ia adalah salah seorang faqih yang agung, penunjuk jalan untuk mengenal keluarga Muhammad saw., fanatik dalam masalah agama, pembasmi pondasi-pondasi orang-orang pengingkar agama, dan salah seorang pondasi utama syariat. Ke-tsiqah-an dan ketinggian kedudukannya mendorong para fuqaha Imamiah untuk menerima dan bersandar kepada fatwa-fatwanya ketika mereka tidak menemukan dalil, seperti yang dilakukan oleh Syahid di dalam kitab Adz-Dzikr‚.
b. Dalam surat itu, Imam Al-'AskarÓ as. mendoakan keturunan yang saleh dan penuh berkah untuknya. Allah telah mengabulkan doanya ini dan menganugerahkan Abu Ja'far yang memiliki gelar Ash-ShadŻq kepadanya. Ash-ShadŻq adalah salah seorang ulama muslimin yang memiliki keutamaan khusus dengan peninggalan karya-karya tulisnya untuk umat ini. Ia telah berhasil menghidupkan syariat dan membukukan hadis-hadis yang telah diriwayatkan dari para imam suci as. Ia memiliki karya tulis yang berjumlah sekitar tiga ratus buku. Di antara karya-karya tulisnya yang paling menonjol adalah kita Man L‚ Yahdhuruh Al-FaqÓh. Kitab ini adalah salah satu buku referensi agung yang menjadi sandaran utama para fuqaha Imamiah.
c. Surat ini mengajak seluruh Syi'ah untuk berakhlak mulia, seperti silaturahmi, bertenggang rasa terhadap saudara yang lain, memenuhi hajat-hajat orang lain, mempelajari agama, berdiri kokoh dalam seluruh urusan, dan karakter-karakter positif yang lain.
d. Imam Al-'AskarÓ as. memerintahkan para pengikutnya untuk menanti faraj dan kemunculan Al-Q‚'im keluarga Muhammad saw. di mananya adalah harapan orang-orang tertindas. Dengan hukum Islam yang akannya jalankan, dunia akan bergemilang dan dengan pemertintahan yang akannya tegakkan sebagai penerus pemerintahan kakeknya, Rasulullah saw., kalimat Ilahi akan tegak berdiri.
Ini adalah sebagian isi dan kandungan surat tersebut. Imam Al-'AskarÓ as. juga memiliki surat-surat lain yang pernahnya kirimkan kepada para tokoh kenamaan Syi'ah. Kami telah menyebutkan surat-surat tersebut di dalam buku kami yang berjudul Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as.

Bersama Para Penguasa

Imam Al-'AskarÓ as. menjalani kehidupannya yang sangat pendek itu di bawah penindasan dan kelaliman para penguasa yang senantiasa berusaha untuk memerangi para imam Ahlul Bait as. Ia telah menghadapi aneka ragam pelecehan dan kezaliman yang paling pedih dari mereka. Di antara para penguasa tersebut adalah berikut ini:

1. Pemerintahan Mutawakkil

Mutawakkil memegang tampuk kekuasaan dan kerajaan pada tahun 232 Hijriah. Pada tahun ini juga Imam Abu Muhammad as. dilahirkan. Jiwa Mutawakkil dipenuhi oleh kebencian dan permusuhan yang dahsyat terhadap para Bani Ali as. Mereka mengalami berbagai ragam kezaliman dan kelaliman pada masa ia berkuasa yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Pada kesempatan ini, kami akan memaparkan sebagian sisi kehidupan Mutawakkil.

a. Hidup Berfoya-foya

Mutawakkil menjalani hidupnya dengan bergelimang kesia-siaan dan ia tidak sedikit pun pernah memiliki keinginan untuk hidup serius. Seluruh kehidupannya diwarnai oleh foya-foya dan pesta-pora. Para ahli sejarah menegaskan bahwa tak seorang pun dari para raja dinasti Bani Abb‚siyah yang melakukan foya-foya dan pesta pora seperti yang pernah dilakukan oleh Mutawakkil.
Di antara contoh-contoh kehidupannya yang tak berarti itu adalah peristiwa berikut ini:
Pada suatu hari ia pernah berkata kepada Abul 'Anb‚s: "Ceritakanlah kepadaku tentang keledaimu dan kematiannya, serta apakah syair yang telah ia senandungkan untukmu di alam mimpi?"
Abul 'Anb‚s berkata: "Ya, wahai Amirul Mukminin. Keledai itu adalah lebih berakal dari para hakim negara. Ia tidak pernah melakukan tindak kriminalitas dan tidak juga kesalahan. Pada suatu hari, ia tertimpa penyakit secara tiba-tiba dan mati. Setelah itu, aku melihatnya di alam mimpi, sebagaimana orang-orang lain bermimpi. Aku bertanya kepadanya, 'Aduhai keledai kesayanganku, bukankah aku telah menyediakan air yang sejuk untukmu, bukankah aku telah membersihkan untaian gandum bagimu, dan bukankah aku telah berusaha keras untuk keselamatanmu? Lalu, mengapa engkau mati secara tiba-tiba? Bagaimana kondisimu?'
Keledai itu menjawab, 'Ya. Pada suatu hari, ketika engkau sedang berbicara dengan seorang penjual obat di sebuah toko obat, seekor keledai betina lewat melintasiku. Aku melihatnya dan ia berhasil merenggut seluruh kalbuku. Aku pun mencintainya dan kerinduanku kepadanya tak tertahankan. Karena kerinduan (tak terpenuhi itu), aku mati gigit jari.'
Aku bertanya kepadanya, 'Apakah engkau melantunkan bait syair pada saat itu?'
'Ya,' jawabnya pendek.
Lalu ia membacakan syair berikut ini untukku:
Hatiku terjerat oleh seekor keledai betina di depan pintu toko penjual obat.
Ketika kita keluar, ia jebak kalbuku dengan susunan giginya yang indah.
Dan dengan kedua pahanya yang lembut dan panjang bak Syanqar‚nÓ.
Dengan itu aku mati; seandainya aku hidup, niscaya panjanglah hinaku.
Aku bertanya lagi, 'Aduhai keledai kesayanganku, apakah Syanqar‚nÓ itu?'
Ia menjawab, 'Syanqar‚nÓ adalah keledai yang ajaib.'"
Mendengar ini, Mutawakkil pun terbang melayang. Lantas, ia memerintahkan para penyanyi untuk melantunkan bait-bait syair keledai itu untuk dirinya. Ia sangat berbahagia pada saat itu tiada taranya, dan ia tidak pernah sebahagia hari itu. Ia menambahkan hadiah yang berlipat ganda kepada Abul 'Anb‚s.
Celakalah zaman dan berantakanlah masa! Apakah orang yang selalu beroya-foya seperti ini layak menjadi penguasa muslimin, sementara itu Abu Muhammad Hasan Al-'AskarÓ as. dihengkangkan dari kekuasaan?
Mutawakkil selalu hidup bergelimangan dalam foya-foya dan pesta-pora. Ia memiliki dua orang budak yang memiliki keahlian dalam bidang menyanyi dan bermain musik. Mereka tidak pernah berpisah darinya. Salah seorang dari kedua budak itu memetik kecapi dan yang lain meniup seruling untuknya. Ia tidak memasuki arena minum-minuman keras kecuali dengan mendengar permainan musik mereka berdua.
Mutawakkil memiliki lima ribu orang sahaya. Menurut sebuah riwayat, ia telah menyetubuhi mereka semua. Sebagian orang dekatnya pernah berkata: "Sumpah demi Allah, seandainya Mutawakkil tidak dibunuh, ia tidak akan hidup (lama) lantaran sering melakuan hubungan badan."
Orang-orang dekat Mutawakkil senantiasa berusaha mengadakan pendekatan dengannya dengan memberikan hadiah sahaya-sahaya yang menawan dan khamar-khamar yang murni. Fath bin Kh‚q‚n pernah menghadiahkan seorang sahaya yang sangat cantik dan menawan, dua buah periuk yang terbuat dari emas, dan mangkok besar yang terbuat dari kaca blour dan penuh berisi khamar murni yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Fath menghadiahkan semua itu ketika Mutawakkil baru sembuh dari sebuah penyakit yang dideritanya. Bersama hadiah-hadiah itu, Fath juga menulis sebuah bait syair berikut ini:
Jika imam keluar dari renggutan penyakit dan memperoleh keselamatan dan kesembuhan,
tiada obat penyembuh baginya kecuali khamar yang tertuang dalam periuk yang indah menawan,
dan mata cincin yang baginya dihadiahkan. Dan semua itu sangat jitu untuk setelah sakit menahan.
Mutawakkil tertarik dan tertambat hati kepada bait-bait syair itu. Pada waktu itu, Yuhann‚ bin M‚sŻyeh, dokter pribadinya sedang duduk di sampingnya. Yuhann‚ berkata kepadanya: "Demi Allah, Fath lebih mahir dalam ilmu kedokteran daripada aku. Oleh karena itu, jangan paduka tentang sarannya."
Kami telah menyebutkan foya-foya dan pesta fora Mutawakkil dalam buku kami yang berjudul Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as. Jika pembaca budiman berkenaan, silakan rujuk.

b. Melakukan Maksiat Secara Terang-Terangan

Mutawakkil selalu melakukan dosa dan maksiat secara terang-terangan, dan ia tidak pernah malu kepada masyarakat. Pada suatu hari, Hakim Ahmad bin D‚wŻd pernah meminta izin untuk berjumpa dengannya. Pada waktu itu, Mutawakkil sedang bermain judi. Fath bin Kh‚q‚n ingin untuk mengumpulkan alat permainan judi itu dan Mutawakkil melarangnya seraya berkata: "Apakah aku berbuat sesuatu terhadap Allah secara terang-terangan, lalu kututup-tutupi dari mata hamba-hamba-Nya?"
Tindak mengikuti hawa nafsu yang selalu dilakukannya itu telah melampaui batas sehingga para teman minumnya bermain catur di hadapannya dan ia tidak pernah melarang mereka. Di antara tindakan hewaninya ini adalah ia pernah meminta supaya istrinya, Rabthah bin Ghubais melepas kerudung dan menggelung rambutnya layaknya dayang-dayang istana. Sang istri menolak dan Mutawakkil menceraikannya. Ia tidak pernah berharap kewibawaan kepada Allah dan juga tidak pernah mengindahkan syiar-syiar Islam.

c. Tindakan Terhadap Bani Ali

Salah satu karakter yang bersifat substantif dalam diri Mutawakkil adalah kebenciannya yang dahsyat kepada Bani Ali as. Ia telah mengerahkan segala upaya dan usahanya untuk menzalimi dan menumpahkan darah mereka. Ia juga pernah memberlakukan embargo ekonomi atas mereka. Ia melarang segala jenis dan bentuk bantuan ekonomi dan kebajikan kepada mereka. Jika ia mendengar seseorang berbuat kebajikan kepada mereka, ia tidak segan-segan menyiksanya dan mewajibkan ia membayar denda yang sangat berat. Muslimin pun enggan untuk mengadakan segala jenis hubungan dengan mereka lantaran takut terhadap siksa yang telah ditentukan oleh sang lalim ini.
Dunia telah menjadi sempit bagi kaum Bani Ali as. Kesengsaraan dan kemiskinan mereka telah sampai pada suatu batas di mana satu gamis digunakan oleh kaum wanita mereka untuk mengerjakan salat secara bergantian. Setelah itu, mereka menambal pakaian-pakaian mereka yang robek dan duduk di atas alat-alat pemintal kain dalam kondisi telanjang menyedihkan. Padahal sang lalim itu mengeluarkan berjuta-juta dinar emas (untuk berfoya-foya) di malam-malam kelamnya dan memberikan uang yang tak terkira jumlahnya kepada para penyanyi dan penari. Sementara itu, ia mengharamkan sepoton roti untuk keturunan Rasulullah saw.

d. Kebencian Terhadap Amirul Mukminin

Mutawakkil sangat membenci Imam Amirul Mukminin Ali as., sang tokoh kebenaran dan keadilan di dalam dunia Islam itu. Sang lalim ini mengingkari keberadaannya. Pada suatu hari, ia menjadikan kera-kera piaraan dan kaki tangannya sebagai penari yang menari dengan gemulai, dan ia menyerupakan dirinya dengan Imam Amirul Mukminin as. yangnya sendiri adalah diri Rasulullah saw. dan pintu kota ilmunya. Tindakan ini membuat rasa ingin membela Muntashir-yang ia sendiri adalah salah seorang keturunan orang-orang berkemanusiaan-bangkit. Lalu, ia mengambil keputusan untuk membunuhnya.

e. Penghancuran Makan Suci Imam Husain

Salah satu kejahatan paling buruk yang pernah dilakukan oleh Mutawakkil adalah penghancuran makam suci sang junjungan pemuda penduduk, Imam Husain as. Makam suci ini sangat dihormati oleh seluruh muslimin dan selalu dipenuhi oleh para peziarah, meskipun haluan pemikiran mereka berbeda-beda. Sedangkan, kuburan para raja dinasti Bani Abb‚siyah terletak di sampah-sampah bumi dan menjadi tempat anjing dan binatang-binatang buas lainnya berlindung. Realita ini menceritakan kezaliman dan kelaliman yang pernah mereka lakukan.
Ketika muslimin sendiri menolak untuk menghancurkan makam suci itu, Mutawakkil menyuruh beberapa orang Yahudi yang kotor untuk menghancurkannya. Mereka menghancurkan seluruh bangunan yang terdapat di sekeliling makam suci itu. Setelah itu, mereka mengalirkan air ke makam suci tersebut. Hanya saja, air itu tidak melahapnya. Ia hanya tergenang di sekitarnya. Oleh karena itu, makam suci itu dinamakan Al-H‚'ir. Dari dalam makam suci itu keluar sebuah bau wangi yang masyarakat sekitar belum pernah mencium bebauan seharum itu ... Bau wangi itu adalah semerbak wangi risalah Islam, semerbak wangi kemuliaan dan kedermawanan.
Al-Jaw‚hirÓ menyenandungkan syair:
Kucium makam sucimu lalu semerbak mewangi bertebaran, semerbak mewangi kemuliaan dari tanah tak berair.
Muslimin marah besar terhadap Mutawakkil dan mencelanya pada setiap pertemuan dan majelis mereka, serta berdoa demi kebinasaannya setiap kali mereka usai mengerjakan salat. Lebih dari itu, mereka juga menulis plakat-plakat yang berisi celaan atasnya di dinding-dinding bangunan dan rumah. Bait-bait syair berikut ini tersebar luas di kalangan masyarakat kala itu:
Demi Allah, jika Bani Umaiyah telah membantai putra dari putri Nabi secara zalim,
Bani Abb‚siyah telah melakukan hal yang sama. Inilah makamnya dihancurkan,
karena menyesal mengapa tidak andil membantainya. Lalu, mereka mengganyangnya setelah dimakamkan.
Pemerintahan dan raja-raja pun datang silih berganti. Akan tetapi, makam suci Syayidus Syuhada' as. tetap tegar dan kokoh berdiri dan akan tetap menjadi simbol, kebanggaan, dan kemuliaan bagi umat Islam. Makam suci ini telah berhasil memiliki tempat di dalam hati sanubari muslimin dan para peziarahnya melebihi para peziarah Baitullah Al-Haram.

f. Bersama Imam Al-H‚dÓ

Pada pembahasan yang lalu, kami telah memaparkan peristiwa pemenjaraan dan penangkapan yang telah dialami oleh Imam Al-H‚dÓ as., serta pelarang harta zakat dan khumus para pengikut Syi'ah untuk sampai ke tangannya. Pada waktu itu, Imam Al-'AskarÓ as. masih berusia belia. Sanubari dan perasaannya tersiksa dan terluka oleh sikap-sikap keras yang telah diambil Mutawakkil untuk melawan Imam Al-H‚dÓ as. dan para pengikut Syi'ah. Hal itu berlanjut hingga Allah membebaskan masyarakat dari jeratan penguasa lalim ini, dan pucuk pemerintahan pun berpindah ke tangan Muntashir Al-Abb‚sÓ. Berikut ini penjelasan tentang penguasa yang satu ini.

2. Pemerintahan Muntashir

Muntashir memegang tampuk kekuasaan setelah revolusi yang dipeloporinya untuk melawan ayahnya sendiri. Kegembiraan dan kebahagiaan meliputi seluruh ruang kehidupan para pengikut Syi'ah. Mimpi buruk yang kelam itu telah sirna dari dunia mereka dan Muntashir melakukan tindakan kebajikan kepada Bani Ali dan pengikut mereka. Ia juga membatalkan larang untuk menziarahi makam Sayidus Syuhada' as. dan mengembalikan tanah Fadak kepada Bani Ali as. Dan masih banyak lagi kebajikan-kebajikan yang telah ia perbuat bagi mereka.
Sangat disayangkan sekali masa pemerintahan penegak kebajikan yang mulia ini tidak berlangsung lama. Menurut mayoritas buku referensi sejarah, ia meninggal dunia dengan diracun atas dasar inisiatif orang-orang Turki. Dengan ini, satu lembar cemerlang yang memuat kemuliaan dan kepahlawanan telah ditutup.

3. Pemerintahan Musta'Ón

Musta'Ón memegang tampuk kekuasaan pada hari Ahad, tanggal 5 Rabi'ul Akhir 248 Hijriah. Para ahli sejarah menegaskan bahwa ia adalah sosok yang senang berfoya-foya, memusuhi kebenaran, dan membenci para imam pembawa petunjuk as-sebagaimana nenek moyangnya. Ia juga sangat membenci Imam Abu Muhammad as. Hal itu lantaran ia memiliki kedudukan yang tinggi di dalam hati muslimin dan sangat banyak sekali dari kalangan mereka yang meyakini im‚mah-nya. Sedangkan ia sendiri dan nenek moyangnya tidak memiliki kedudukan sedikit pun di dalam hati mereka.
Sang lalim ini memerintahkan para kaki tangannya untuk menangkap Imam Abu Muhammad as., dan ia dijebloskan ke dalam penjara Awt‚mesy. Isa bin Fath bersamanya di dalam penjara. Imam Al-'AskarÓ berkata kepadanya: "Hai Isa, kamu sekarang berusia enam puluh lima tahun satu bulan dan dua hari."
Isa terheran-heran dan melihat buku yang dibawanya. Di dalam buku itu tercatat tanggal kelahiran dirinya. Usianya sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Imam Al-'AskarÓ itu.
Setelah itu, Imam Al-'AskarÓ bertanya lagi kepadanya: "Apakah kamu memiliki anak?"
"Tidak," jawab Isa pendek.
Imam Al-'AskarÓ berdoa untuknya seraya berkata: "Ya Allah, anugerahkanlah seorang anak baginya supaya anak itu menjadi tulang punggungnya. Sebaik-baik tulang punggung adalah seorang anak." Setelah berdoa demikian, ia membaca syair berikut ini:
Siapa memiliki tulang punggung, ia 'kan urusi hartanya yang terlalimi. Sungguh orang hina adalah orang yang tak bertulang punggung.
Isa kembali bertanya: "Wahai junjunganku, apakah Anda memiliki anak?"
Imam Al-'AskarÓ as. menjawab: "Demi Allah, aku akan memiliki seorang anak yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan. Untuk sekarang ini, saya masih belum memiliki anak ...."
Para pengikut Syi'ah khawatir atas penangkapan Imam Al-'AskarÓ tersebut dan kekhawatiran mereka ini bertambah ketika mereka mendengar berita bahwa Musta'Ón ingin membunuhnya. Imam Al-'AskarÓ as. menenangkan kekhawatiran mereka dan memberikan berita gembira kepada mereka bahwa dirinya akan selamat dan bahwa musuhnya yang lalim ini akan ditumbangkan setelah tiga hari. Berita yang telah diberikan olehnya itu terbukti dan sebelum tiga hari berlalu, Musta'Ón telah digulingkan oleh orang-orang berkebangsaan Turki.

4. Pemerintahan Mu'taz

Mu'taz adalah Zubair bin Ja'far Al-Mutawakkil. Ia memegang tampuk kekuasaan pada usia yang masih muda, sedangkan ia belum memiliki pengalaman yang cukup, belum ditempa oleh masa, dan belum memiliki keahlian yang mumpuni untuk menjalankan tugas-tugas politik dan manajemen negara. Oleh karena itu, ia menjadi alat permainan di tangan bangsa Turki dan mereka memperalat kekuasaannya sesuai dengan keinginan mereka.
Mu'taz sangat membenci Imam Abu Muhammad as. Ia menangkapnya dan menjebloskannya di balik jeruji-jeruji penjara. Ia sangat tersiksa oleh seluruh perilaku dan tindakan Mu'taz. Karena, Mu'taz sangat berlebih-lebihan dalam berbuat penganiyaan dan permusuhan terhadapnya. Imam Al-'AskarÓ berdoa kepada Allah supaya Mu'taz hancur. Dan Allah mengabulkan permohonannya dan membalas dendam terhadapnya dengan pembalasan yang sangat perih. Para pembesar bangsa Turki menuntut imbalan mereka. Baitul Mal kosong tak berisi uang sepeser pun. Ia merengek kepada ibunya yang menyimpan jutaan harta. Ia meminta uang itu kepada sang ibu dan ia enggan memberikannya. Kaum Turki itu menyerang Mu'taz dan menyeret kakinya. Mereka memukulnya dengan tongkat-tongkat berkepala dan menjemurnya di bawah terik sinar matahari pada musim panas yang menyengat, sedangkan mereka berseru: "Cabutlah dirimu dari kekuasaan ini." Mereka menghadirkan Hakim Baghdad dan beberapa tokoh, lalu mereka mencabutnya dari kekuasaan. Setelah lima hari berlalu dari masa pencabutan ini, mereka memasukkannya ke dalam sebuah kamar mandi. Ketika mandi, ia merada kehausan yang sangat. Mereka tidak memberikan air kepadanya. Setelah itu, mereka menenggakkan air es kepadanya, dan matilah dia.
Layak disebutkan di sini bahwa orang yang memimpin pmberontakan ini adalah Sh‚lih bin WashÓf. Ia menyerang ibu Mu'taz dan merampas seluruh harta miliknya. Seluruh hartanya berjumlah lima ratus ribu dinar. Di samping itu, ia juga berhasil menemukan harta-harta simpanannya yang sangat banyak berada di bawah. Mereka menemukan sebuah rumah miliknya di bawah tanah yang berisi satu juta tiga ratus ribu dinar. Di dalam sebuah tas perhiasannya ditemukan sebuah batu zamrud yang tak seorang pun pernah melihat batu zamrud semacam itu. Begitu juga dalam sebuah tas perhiasannya yang lain, mereka mendapatkan sebuah batu permata yang sangat besar dan dalam tas perhiasaan ketiga mereka juga menemukan beberapa butir batu yaqut merah yang tiada tandingannya. Seluruh harta itu dibawa ke hadapan Sh‚lih. Melihat semua itu, ia berkomentar: "Ia rela mengantarkan anaknya terbunuh hanya demi tuntutan harta sebanyak lima puluh ribu dinar, sedangkan dia sendiri memiliki harta sebanyak ini." Ibu Mu'taz meninggalkan Baghdad menuju ke Mekah dan selalu berdoa demi kecelakaan Sh‚lih. Begitulah, akibat orang-orang zalim adalah kerugian yang nyata.

5. Pemerintahan Mahdi

Mahdi Al-Abb‚sÓ memegang tampuk kekuasaan pemerintahan Islam pada saat ia telah berusia tiga puluh tujuh tahun. Ia memiliki permusuhan yang sangat dahsyat terhadap Ahlul Bait as. Ia telah mewarisi karakter ini dari nenek moyangnya yang telah menumpahkan segala bentuk amarah mereka atas Ahlul Bait as. dan menenggelamkan mereka ke dalam berbagai jenis cobaan dan kesengsaraan.
Sang lalim ini memerintahkan para kaki tangannya untuk menangkap Imam Abu Muhammad as. dan menjebloskannya ke dalam penjara selama beberapa hari. Di dalam penjara itu, seorang pengikut Syi'ah yang terpercaya (tsiqah) dan bersih bernama Abu H‚syim bersamanya. Ia adalah salah seorang tokoh kenamaan Syi'ah. Imam Al-'AskarÓ berkata kepadanya: "Hai Abu H‚syim, sesungguhnya sang lalim ini ingin membunuhku pada malam ini, dan Allah telah memendekkan usianya."
Sebagian pengikut Syi'ah pernah menulis surat kepada Imam Abu Muhammad yang isinya: "Kami mendapat berita bahwa MahdÓ (Al-Abb‚sÓ) mengancam Syi'ah Anda sembari berkata, 'Demi Allah, aku akan mengusir mereka ke sebuah tanah yang baru.'"
Imam Hasan Al-'AskarÓ as. menjawab surat tersebut yang isinya: "Hal itu adalah lebih penek dari usianya. Hitunglah lima hari dari sekarang. Ia akan dibunuh pada hari keenam setelah menderita kehinaan dan pelecehan."
Berita yang telah diprediksikan oleh Imam Abu Muhammad as. tersebut betul terjadi. Bangsa Turki menyerang MahdÓ dan menusuknya dengan pisau dan belati. Salah seorang pemimpin pemberontakan yang berkebangsaan Turki itu mengisap darah yang mengucur deras dari lukanya. Pada waktu itu, ia sedang mabuk sempoyongan. Setelah mengisap darah itu, ia berkata kepada para sahabatnya: "Aku telah kenyang dengan darah MahdÓ sebagaimana aku telang kenyang dengan khamar pada hari ini."
Dengan ini, berakhirlah kehidupan MahdÓ yang selalu memusuhi Imam Al-'AskarÓ as. itu.

6. Pemerintahan Mu'tamid

Mu'tamid berhasil memegang tampuk kekuasaan pada saat ia sedang berusia dua puluh lima tahun. Ia sangat suka berfoya-foya dan berpesta-pora. Ia selalu memantau dan memonitor seluruh gerak-gerik masyarakat, satu tindakan yang telah membangkitkan kebencian mereka kepadanya.
Pada masa kekuasaannya ini, Imam Al-'AskarÓ as. mengalami kesengsaraan yang amat mengerikan. Mu'tamid memerintahkan supaya ia ditangkap dan ditawan. Ia memerintahkan kepada kepala penjara untuk melaporkan setiap berita dan informasi baru tentang Imam Al-'AskarÓ. Kepada penjara ini melaporkan kepadanya bahwa Imam Al-'AskarÓ tidak pernah melakukan sebuah tindakan pun yang bertentangan dengan politik dinasti Bani Abb‚siyah. Lebih dari itu, ia telah memutuskan diri dari dunia dengan melakukan puasa di siang hari dan menghidupkan malam dengan ibadah. Pada kali yang lain, Mu'tamid pernah menanyakan informasi baru mengenai Imam Al-'AskarÓ, dan kepala penjara itu melaporkan hal yang sama. Setelah mendengar laporan itu, Mu'tamid membebaskannya dan memohon maaf kepadanya. Kepala penjara bergegas pergi untuk memberitahukan kebebasannya itu, dan ia mendapatkan Imam Al-'AskarÓ telah bersiap-siap untuk keluar dari penjara. Ia telah mengenakan pakaian dan memakai sepatu khuf-nya. Ia terheran-heran dengan itu seraya menyerahkan surat Mu'tamid kepadanya. Di dalam penjara itu, ia bersama Ja'far, saudaranya. Ia enggan keluar dari penjara sebelum Ja'far dikeluarkan.
Ala kulli hal, Imam Al-'AskarÓ as. masih saja menghadapi berbagai jenis kesengsaraan dan pelecehan dari sang lalim ini. Ia meletakkan prajurit-prajurit kerajaan yang tak terhitung jumlahnya untuk menghitung setiap tarikan napasnya dan mengusir setiap pengikut Syi'ah yang ingin berjumpa dengannya.

Imam Al-'AskarÓ Dibunuh

Keberadaan Imam Abu Muhammad as. sudah tidak tertahankan lagi oleh sang lalim Abbasi ini. Hal itu lantaran ia mendengar berita bahwa seluruh masyarakat menyucikan, mengagungkan, dan lebih mengutamakannya atas seluruh Bani Ali dan Bani Abb‚siyah. Akhirnya, Mu'tamid mengambil keputusan untuk membunuhnya, dan ia meracuninya dengan racun yang mematikan. Ketika Imam Al-'AskarÓ meminum racun tersebut, racun itu meracuni sekujur tubuh sucinya dan ia tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Karena kekerasan racun itu, ia menderita rasa sakit yang tak terperikan, sedangkan ia tetap bersabar sembari menyerahkan segala urusan kepada Allah swt.
Mu'tamid memerintahkan lima orang kepercayaannya untuk selalu mengawasi rumah Imam Al-'AskarÓ as. dan mencari tahu tentang seluruh gerak-beriknya, sebagaimana ia juga memerintahkan tim dokter untuk melakukan pemeriksaan atas tubuhnya siang dan sore. Ia juga memerintahkan mereka untuk tidak meninggalkan rumahnya. Tujuan perintah ini adalah untuk mencari tahu tentang putra Imam Al-'AskarÓ, sang reformis agung yang telah diberitagembirakan oleh Nabi saw.

Menuju Surga Abadi

Kondisi Imam Hasan Al-'AskarÓ semakin parah dan para dokter telah putus asa. Ajalnya pun mendekat dengan cepat. Dalam kondisi seperti ini, ia senantiasa membaca zikir dan ayat-ayat Al-Qur'an hingga rohnya yang agung naik menghadap Allah swt. dengan diiringi oleh para malaikat Rahman dan seraya disambut oleh para nabi Allah dan rasul-Nya.
Kepergiannya ini adalah sebuah malapetaka yang telah menimpa muslimin yang hidup kala itu. Mereka telah kehilangan seorang pemimpin, pendidik, penunjuk jalan, dan reformis yang senantiasa memperhatikan kemaslahatan diri mereka.

Persiapan Pemakaman

Jenazah Imam Hasan Al-'AskarÓ as. dimandikan. Setelah di-tahnÓth, tubuh suci itu dimasukkan ke dalam kafan. Jenazah suci itu digotong untuk disalati. Putranya, Hujah Allah di atas bumi ini, Imam Al-Muntazhar as. menyalati jenazah sang ayah. Setelah itu, Abu Isa bin Mutawakkil maju ke depan dan menyingkap wajah Imam Al-'AskarÓ as. seraya memperlihatannya kepada Bani H‚syim dari kalangan Bani Ali dan Bani Abb‚siyah, para petinggi militer, para sekretaris kerajaan, para kepala kantor-kantor pemerintah, para hakim, dan lain sebagainya sembari berkata kepada mereka: "Hasan bin Muhammad bin Ar-Ridh‚ meninggal dunia secara alamiah di atas tempat tidurnya. Di antara para pembantu Amirul Mukminin yang hadir pada saat itu adalah Polan dan Polan, di antara tim dokter adalah Polan dan Polan, dan di antara para hakim adalah Polan dan Polan." Setelah berkata demikian, ia menutupi kembali wajah Imam Al-'AskarÓ as. yang suci itu. Ia melakukan tindakan itu dengan tujuan menepis tuduhan yang telah tersebar di kalangan masyarakat bahwa Mu'tamid telah membunuh Imam Al-'AskarÓ.

Ke Liang Lahat

Seluruh lapisan masyarakat Samirra' keluar untuk mengantarkan jenazah Imam Al-'AskarÓ as. ke liang lahat. Seluruh kantor pemerintah, pusat-pusat perdagangan, dan pasar tutup. Kota Samirra' mirip dengan kondisi hari kiamat. Di sepanjang sejarahnya, kota ini tidak pernah menyaksikan ritual pengantaran jenazah yang dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat dengan perbedaan kasta dan alur pemikiran yang mereka miliki seperti ini. Mereka mengantarkan jenazahnya sembari menghitung-hitung keutamaannya dan menyebutkan malapetaka dan kerugian yang telah menimpa muslimin.

Di Persemayaman Terakhir

Tubuh suci Imam Hasan Al-'AskarÓ as. digotong dengan diiringi oleh gemuruh takbir dan takzim menuju persemayamannya yang terakhir. Tubuh suci itu dimakamkan di rumahnya di sisi sang ayah, Imam Al-H‚dÓ as. Dengan menguburkan sempalan hati Rasulullah saw. ini, mereka telah mengubur juga manifestasi kesabaran, ilmu, dan ketakwaan.
Dengan ini, kami menutup pembahasan tentang sejarah hidup Imam Abu Muhammad as. Jika pembaca budiman ingin mengetahui sejarah kehidupannya ini lebih dalam lagi, silakan Anda rujuk buku kami yang berjudul Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as.

Catatan Kaki:

Akhb‚r Ad-Duwal, hal. 117; Bahr Al-Ans‚b, hal. 2.
Tadzkirah Al-Khaww‚sh, hal. 324.
T‚rÓkh Abi Al-Fid‚', jilid 2, hal. 48.
An-NujŻm Az-Z‚hirah, jilid 3, hal. 32.
Bahr Al-Ans‚b, hal. 2; Akhb‚r Ad-Duwal, hal. 167; Al-Ith‚f bin Hubb Al-Asyr‚f, hal. 86.
D‚'irah Al-Ma'‚rif, karya Al-Bust‚nÓ, jilid 7, hal. 45.
Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as., hal. 19.
Al-Ith‚f bin Hubb Al-Asyr‚f, hal. 86.
D‚'irah Al-Ma'‚rif, karya Al-Bust‚nÓ, jilid 7, hal. 45; Jawharah Al-Kal‚m fi Mad-h As-S‚dah Al-A'l‚m, hal. 155.
A'y‚n Asy-Syi'ah, jilid 4, hal. 295, bagian kedua.
Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as., hal. 40.
Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as., hal. 40.
Jabul adalah sebuah desa yang terletak di pesisir sungai Dajlah, Irak-pen.
SŻr‚' adalah sebuah daerah di Irak yang terletak di kota Babylion. Daerah ini adalah tempat kediaman bangsa Sury‚nÓ-pen.
Kasyf Al-Ghummah, jilid 3, hal. 300.
Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as., hal. 38.
Kasyf Al-Ghummah, jilid 3, hal. 2.
Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as., hal. 42.
Tuhaf Al-'UqŻl, hal. 519.
Ibid.
Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as., hal. 99.
Bih‚r Al-Anw‚r, jilid 5, hal. 299.
Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as., hal. 98.
Tuhaf Al-'UqŻl, hal. 518.
NŻr Al-Absh‚r, hal. 153.
I'l‚m Al-War‚, hal. 372.
NŻr Al-Absh‚r, hal. 152.
Ibid.
Man‚qib Al Abi Thalib, jilid 4, hal. 435.
I'l‚m Al-War‚, hal. 375; Al-Man‚qib, jilid 4, hal. 437.
Rawdh‚t Al-Jann‚t, jilid 4, hal. 273-274.
Ibid., hal. 276.
MurŻj Adz-Dzahab, jilid 4, hal. 43.
Baina Al-Khulaf‚' wa Al-Khula'‚' fi Al-'Ashr Al-Abb‚sÓ, hal. 115.
Tsim‚r Al-QulŻb, hal. 123.
Mir'‚h Az-Zam‚n, jilid 6, hal. 69.
D‚'irah Ma'‚rif Al-Qarn Al-'Isyrin, jilid 10, hal. 964.
Zuhar Al-Adab, jilid 4, hal. 3.
Baina Al-Khulaf‚' wa Al-Khula'‚' fi Al-'Ashr Al-Abb‚sÓ, hal. 108.
Mir'‚h Az-Zam‚n, jilid 6, hal. 169.
Maq‚til Ath-Th‚libiyyÓn, hal. 579.
Ibid., hal. 599.
Hay‚h Al-Imam Hasan Al-'AskarÓ as., hal. 202.
Jawharah Al-Kal‚m, hal. 155.
Muhaj Ad-Da'aw‚t, hal. 273.
Al-Ghaibah, karya Syaikh Thusi, hal. 632.
T‚rÓkh Al-Khulaf‚', hal. 36.
T‚rÓkh Ibn Al-AtsÓr, jilid 5, hal. 544.
MurŻj Adz-Dzahab, jilid 4, hal. 124.
Muhaj Ad-Da'aw‚t, hal. 274.
MurŻj Adz-Dzahab, jilid 4, hal. 127.
Ibid., hal. 128.
Ibid.
Muhaj Ad-Da'aw‚t, hal. 274.
Al-Irsy‚d, hal. 383.
Ibid.
Ibid.