PERANAN AKIDAH DALAM MEMBINA MANUSIA
 

PENGARANG: MARKAZ AL RISALAH


PRAKATA PENERBIT

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan kesejahteraan semoga dilimpahkan keharibaan Nabi yang terpilih dan terpercaya, Muhammad saww serta keluarganya yang suci.

Sesungguhnya pandangan manusia terhadap kehidupan dan alam semesta, pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya berkenaan dengan berbagai bidang dan bahkan naluri dan perasaan-perasaannya, semua itu bersumber dari akidah yang diyakininya. Di samping itu, akidah tersebut juga memiliki peranan penting dalam membina dan membangun pemikiran, etika dan tata cara hidup sosialnya, serta dalam mengarahkan kemampuan-kemampuannya ke arah membangun dan perubahan.

Meskipun lembaga-lembaga pemikiran hasil rekayasa manusia (al-madaris al-wadh段yyah) telah berhasil mencapai kesuksesan dalam berbagai bidang peradaban materialis, tapi lembaga-lembaga pemikiran tersebut mengalami kegagalan fatal dalam membina dan membangun sebuah kehidupan idaman yang bebas dari belenggu kebejadan dan kejahatan. Dekadensi moral, retaknya kehidupan rumah tangga dan kevakuman ideologi adalah contoh riil dari kegagalan fatal itu sebagai persembahan peradaban materialis tersebut (kepada dunia) akibat rekayasa manusia sendiri.

Dengan berlandaskan kepada fitrah suci - sebagai anugerah Allah Yang Maha Pencipta - yang senantiasa menuntun manusia menuju cahaya akidah Islam yang dapat menerangi segala yang berada di sekitarnya, hikmah dan kebijaksanaan-Nya menuntut-Nya untuk memberikan petunjuk kepada manusia demi memahami akar dan dasar-dasar akidah sebagai landasan utama bagi pengetahuan manusia akan hakekat wujud ini. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat mencapai keyakinan dan kepercayaan yang benar, selamat dari cacat dan jauh dari segala penyelewengan.

Ketika manusia mau menggunakan akalnya, ia akan memahami bahwa akidah Islam meliputi undang-undang yang sempurna bagi setiap sisi dan dimensi kehidupannya, menunjukkan jalan baginya demi berkreasi dalam kehidupan tersebut, sejalan dengan fitrah setiap insan dan dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ruhani dan materi setiap individu secara seimbang dan cermat. Di samping itu, akidah tersebut juga dapat menjamin terjaganya kehormatan dan kepribadiannya.

Hanya dengan formulasi-formulasi akidah inilah akan terealisasikan pembinaan kepribadian manusia, baik kepribadian setiap individu, masyarakat maupun negara Islam. Dan hanya dengan formulasi-formulasi tersebut juga akan terjalin hubungan dan ikatan (antar sesama manusia), diketahui hak-hak dan kewajiban, terealisasikan keadilan dan persamaan, terstabilkan keamanan dan keselamatan, terwujudkan rasa solidaritas, memasyarakat keutamaan dan kemuliaan, dan akan terwujudkan pembinaan kepribadian manusia dalam setiap sisi dan dimensi kehidupannya.

Dalam sisi pemikiran, akidah Islam telah berhasil mengeluarkan manusia dari alam takhayul dan kebodohan dengan menganjurkannya untuk mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya demi merenungkan tanda-tanda keagungan Allah sehingga ia mampu mencapai kehidupan yang terhiasi dengan cahaya ilmu. Atas dasar ini, Islam melarang pengikutnya bertaklid dalam ruang lingkup akidah, dan sebaliknya, ia mendasari iman dengan ilmu dan pengetahuan.

Dalam sisi kehidupan sosial, akidah Islam telah berhasil merubah corak kehidupan masyarakat yang sebelumnya dilandasi oleh fanatisme suku, warna kulit dan harta benda dengan corak baru yang dilandasi oleh tolok ukur-tolok ukur spiritual (ma地awiyah) yang teraktualkan dalam konsep takwa, fadhilah dan persaudaraan insani. Dengan ini, terbentuklah sebuah umat muslim ideal yang hidup di tengan-tengah masyarakat manusia, yang sebelumnya mereka berpecah belah dan menjalani kehidupan ini atas dasar balas dendam.

Dalam sisi etika dan akhlak, akidah Islam telah berhasil menumbuhkan kesadaran diri (al-wa段z adz-dzati) yang mempercayai bahwa Sang Pencipta Yang Maha Tinggi nan Agung selalu memperhatikan segala tingkah laku manusia, dan setiap sepak terjangnya pasti memiliki pahala dan dosa. Hal ini akan menyebabkan keseimbangan naluri (gharizah) dan tumbuhnya akhlak yang mulia (dalam dirinya); satu unsur yang dapat kita temukan dalam seluruh hukum Islam.

Begitu juga akidah Islam memiliki peranan penting dalam membangun masyarakat di bidang ekonomi, politik dan pendidikan. Dengan demikian, akidah Islam adalah simbol kekuatan dalam sejarah peradaban Islam.

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan manusia muslim dari kondisi rohani yang lemah dan terjerumus ke dalam glamour materi, kita harus mengingatkannya dengan bahasa dan metode yang sesuai dengan tuntutan zaman modern dan perkembangan pemikiran atas segala persembahan yang telah diberikan oleh akidah tersebut (kepadanya) dan meyakinkannya bahwa akidah yang dimiliki itu memiliki validitas untuk diterapkan di setiap era dan periode.

Pembahasan ini akan membuktikan realita-realita di atas kepada anda dengan menggunakan metode pembahasan ilmiah yang menarik dan sekaligus kokoh.

Harapan kami, semoga buku ini mampu menyelamatkan cara berpikir (umat manusia) dari kesesatan dan mengantarkannya menuju kenyataan dan hakikat yang cemerlang.

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah memberikan ni知at dan taufik kepada kita. Dia adalah sebaik-baiknya penolong.

Markaz Ar-Risalah


PENDAHULUAN

Pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghantui manusia dalam hidupnya adalah dari manakah ia berada (di dunia ini), kemanakah ia akan dikembalikan kelak dan apakah tujuan dari keberadaannya ini?

Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan manusia kepada dirinya sepanjang masa ini memerlukan jawaban yang jitu dan memuaskan, supaya ia, berdasarkan jawaban tersebut, dapat mengambil sikap yang tegas dalam kehidupannya, meluruskan perilakunya dan menegakkan undang-undang ideal yang diminati oleh masyarakatnya.

Dengan asumsi-asumsi hampa dan tidak memuaskan rasa haus manusia akan hakekat dan realitas hidup, akidah-akidah hasil rekayasa manusia (al-誕qa`id al-wadl段yah) mengalami kegagalan fatal dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh akidah-akidah tersebut dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu antara lain;僧anusia ditemukan dengan sendirinya, 僧anusia ditemukan akibat perkembangan materi dan lain sebagainya.

Dan kegagalan akidah-akidah itu tidak sampai di sini saja. Mereka juga gagal dalam menciptakan formulasi-formulasi undang-undang kemasyarakatan yang dapat membina manusia dan merealisasikan kebahagiannya.

Di saat akidah dan kepercayaan-kepercayaan agama yang tidak orisinil itu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan jawaban-jawaban yang palsu dan membingungkan dengan asumsinya bahwa manusia memiliki pencipta, akan tetapi pencipta yang serupa dengan makhluknya, akidah Islam telah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jitu dan memuaskan. Akidah Islam mengakui bahwa manusia memiliki Pencipta Yang Maha Bijaksana lagi Kuasa yang tidak dapat dicapai dengan indra dan tidak bisa disamakan dengan manusia. Akidah Islam menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk sebuah tujuan yang tinggi, yaitu menyembah Allah yang konsekuensinya, ia akan dapat mencapai tingkat kesempurnaan dan keabadian yang tertinggi.

Di samping itu, akidah ini juga mewujudkan naluri ideal (dalam diri manusia) yang Islam menganjurkan agar naluri tersebut selalu dikembangkan demi terwujudnya manusia sempurna di bidang pemikiran, sosial dan perilaku. Begitu juga demi terwujudnya kepribadian berakidah yang berjalan sesuai dengan akal yang terarah, perilaku yang lurus dan siap mengemban missi, tidak seperti kepribadian yang mengalami kevakuman akidah, yang seluruh perhatiannya tercurahkan kepada egoisme dan kemaslahatan dirinya. Kepribadian semacam ini akan mengalami kevakuman akal, kemelut jiwa dan kehilangan tujuan dalam hidup.

Patut untuk diingat di sini bahwa akidah Islam bukan seperti akidah (yang didefinisikan oleh) para filsuf yang tidak lebih dari sekedar teori pemikiran yang tersembunyi di sudut-sudut otak manusia. Akan tetapi akidah Islam adalah sebuah power yang (bersemayam dan) bergerak di dalam hati dan berpengaruh secara positif pada jiwa dan anggota badan. Dengan ini, orang yang memiliki akidah akan terdorong untuk berkiprah di medan jihad dan amal. Atas dasar ini, akidah Islam (pada masa kejayaan Islam) telah menjadi sebuah kekuatan yang aktif dan motor penggerak (bagi muslimin) yang telah mampu mengubah perjalanan sejarah, merombak kebudayaan-kebudayaan (yang berlaku kala itu), meletuskan revolusi-revolusi agung dalam kehidupan manusia, baik di bidang tatanan hidup sosial maupun pemikiran dan menciptakan kemenangan militer. Telah kita ketahui bersama bahwa kelompok minoritas (muslim) Makkah yang tertindas telah mampu bertahan selama tiga belas tahun menghadapi kelaliman yang melanda mereka bagai topan dengan akidah tersebut.

Akidah inilah yang telah berhasil mengumpulkan tentara sebanyak sepuluh ribu orang untuk berkhidmat kepada Rasulullah saww yang sebelumnya beliau tidak memiliki kekuatan militer dan lari dari Makkah secara sembunyi-sembunyi karena diusir oleh orang-orang kafir Makkah -. Dan orang-orang yang memerangi beliau sepanjang masa itu tidak mampu bertahan menghadapi kekuatan iman yang kokoh ini. Oleh karena itu, mereka menyerah dan menyatakan keislaman mereka di hadapan beliau atau membayar jizyah.

Muslimin kala itu memiliki sarana kemenangan yang paling kuat, yaitu akidah Islam yang telah mampu menciptakan hal-hal yang tidak dipercayai oleh manusia biasa. Akidah ini telah memberanikan Hamzah untuk memimpin Sariyah pertama Islam yang hanya berkekuatan tiga puluh pasukan berkuda ketika menghadapi tiga ratus pasukan berkuda Quraisy di pinggiran Laut Merah. Sariyah Islam ini tidak keluar ke medan laga hanya demi memamerkan kekekaran tubuh. Sariyah ini memiliki semangat juang tinggi yang hanya ingin bertujuan menumpas musuh yang kekuatannya lebih besar sepuluh kali lipat dari kekuatan dirinya.

Dan belum pernah terjadi dalam sejarah pertempuran-pertempuran Islam yang selalu menghasilkan kemenangan-kemenangan gemilang itu, kekuatan muslimin secara materi setara dengan kekuatan musuh. Akan tetapi, dari sisi jumlah dan prasarana, kekuatan mereka terkadang hanya seperlima lebih kecil dari kekuatan musuh. Kemenangan yang mereka peroleh itu bersumber dari kekuatan spiritual yang terpancar dari akidah dan kekuatan-kekuatan ghaib yang turun kepada mereka secara kontinyu. Sarana dan prasarana materi hanyalah pelengkap kemenangan tersebut.

Dengan ini, akidah adalah kekuatan yang fundamental dalam setiap pertempuran (yang pernah terjadi pada masa kejayaan) Islam dan faktor utama terwujudnya kemenangan di segala bidang.

Dan supaya kita mampu mewujudkan sebuah kebangkitan peradaban di dalam diri setiap individu muslim, (salah satu cara yang efektif adalah) kita mengingatkannya akan persembahan-persembahan yang telah dianugerahkan oleh akidah Islam ini kepada masyarakat muslim masa lampau.

Betul, bahwa seorang muslim tidak akan melucuti akidahnya dari sanubarinya. Akan tetapi, dikarenakan adanya perang pemikiran yang menyerang akidah tersebut dan faktor-faktor dekadensi moral yang menyerang masyarakatnya sebagai akibat dari jauhnya mereka dari kultur dan ajaran-ajaran langit, akidah tersebut akan kehilangan fungsi, dan ia akan kehilangan rasa solidaritas sosial dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah :

Pertama, mengenalkan setiap individu muslim dengan akidah yang benar lewat sumber-sumbernya yang bersih dan suci.

Kedua, meyakinkannya akan kebenaran akidah yang dimiliki, validitas akidah tersebut untuk dipromosikan di zaman modern ini dan keunggulannya secara mutlak atas akidah-akidah yang lain.

Ketiga, berusaha untuk memulihkan kembali peran akidah dalam membina manusia muslim supaya akidah tersebut merasuk ke dalam sanubarinya berbentuk sebuah iman yang kokoh, perilaku yang baik dan akhlak yang terpuji dalam perangainya sehari-hari, sebagaimana akidah tersebut telah mempengaruhi cara hidup muslimin terdahulu dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka.

Untuk merealisasikan tujuan ini, kami angkat pembahasan yang meliputi peranan akidah dalam membina manusia, baik secara pemikiran, tata cara kehidupan sosial dan kejiwaan, dan refleksi-refleksinya terhadap etika dan perilaku seorang muslim ini ke permukaan. Dan di dalam buku ini kami juga memaparkan peran Ahlul Bayt a.s. yang besar dalam memelihara akidah dan memerangi usaha-usaha (sebagian orang) yang ingin melupakan muslimin (terhadap arti hidup) yang sedang menimpa masyarakat muslim dalam dunia politik di masa kini.

Patut disinggung di sini, dalam pembahasan ini kami mengikuti metode naqli dan bersandarkan kepada referensi-referensi Islam.

Dari Allahlah kami memohon bantuan dan taufik.