91. Apakah Hakikat Malaikat itu?

Di dalam Al-Qur'an sangat banyak ayat yang menjelaskan keberadaan malaikat. Ayat-ayat itu menjelaskan sifat-sifat, kriteria, tugas, dan kewajiban para malaikat. Bahkan, Al-Qur'an meletakkan iman kepada malaikat ke dalam jajaran iman kepada Allah swt., iman kepada para nabi dan kitab-kitab langit, dan ini merupakan dalil atas pentingnya permasalahan ini.
Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang telah diturunkan kepadanya dari Tuhannya. Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 285)
Tak syak lagi bahwa wujud malaikat merupakan sebuah wujud gaib yang -untuk membuktikannya berikut sifat-sifat dan kriteria-kriterianya itu- tidak ada jalan lain kecuali dalil-dalil tekstual. San sebagai konsekuensi keimanan pada hal-hal gaib, kita harus menerima keberadaan mereka.
Al-Qur'an menyebutkan kriteria-kriteria mereka di dalam ayat-ayatnya, antara lain:
1. Para malaikat adalah makhluk yang berakal, mempunyai inteligensi, dan hamba-hamba Allah yang dimuliakan.
... sebenarnya [malaikat-malaikat itu] adalah hamba-hamba yang dimuliakan. (QS. Al-Anbiya' [21]: 26)
2. Mereka sangat menaati perintah-perintah Tuhan, dan sama sekali tidak pernah melakukan maksiat.
Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. (QS. Al-Anbiya' [21]: 27)
3. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan kewajiban-kewajiban yang begitu penting dan beragam dari sisi Allah swt.
a. Sebagian mereka adalah penyangga 'Arsy Ilahi.
"... dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas [kepala-kepala] mereka. (QS. Al-Haqqah [69]: 17)
b. Sebagian mereka adalah penanggung jawab perintah Ilahi.
"Dan [malaikat-malaikat] yang mengatur urusan [dunia]. (QS. An-Nazi'at [79]: 5)
c. Sebagian malaikat bertugas untuk mengambil nyawa.
... hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami [malaikat] untuk mengambil nyawanya .... (QS. Al-A'raf [7]: 37)
d. Dan sebagian yang lain mengawasi perbuatan-perbuatan manusia.
Padahal sesungguhnya bagi kamu sekalian ada [malaikat-malaikat] yang mengawasi [pekerjaan]mu-yang mulia [di sisi Allah swt.] dan yang mencatat [pekerjaan-pekerjaan itu]-mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Infithar [82]: 10-12)
e. Sebagian malaikat bertugas untuk menjaga manusia dari bahaya-bahaya dan kecelakaan.
... dan diutus-Nya kepada kamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antaramu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak akan pernah melalaikan kewajibannya. (QS. Al-An'am [6]: 61)
f. Sebagian lainnya bertugas untuk memberi azab dan siksa kepada kaum yang membangkang.
Dan tatkala datang utusan-utusan Kami [para malaikat] itu kepada Luth, ia merasa susah dan sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan ia berkata, "Ini adalah hari yang amat sulit". (QS. Hud [11]: 77)
g. Tterdapat pula sekelompok malaikat yang melalui mereka Allah swt. menolong kaum mukmin dalam peperangan.
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah [yang telah dikaruniakan] kepadamu ketika telah datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan angin topan dan tentara yang tidak bisa kamu lihat .... (QS. Al-Ahzab [33]: 9)
h. Dan akhirnya, ada sekelompok malaikat yang menyampaikan wahyu dan pembawa kitab-kitab langit untuk para nabi.
Ia menurunkan malaikat dengan [membawa] wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa pun yang Ia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya .... (QS. An-Nahl [16]: ayat 2)
Demikianlah, apabila kita ingin menghitung kewajiban-kewajiban para malaikat ini satu demi satu, maka hal ini akan sangat menyita waktu.
4. Mereka senantiasa sibuk bertasbih kepada Allah swt., sebagaimana disebutkan dalam sebuah ayat, "... dan para malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang berada di bumi ...." (QS. Asy-Syura [42]: 5)
5. Dengan kedudukan mulia malaikuat yang demikian itu, manusia masih mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari dikarenakan potensi kesempurnaan yang dimilikinya, sehingga karena hal ini, semua malaikat tanpa terkecuali bersujud setelah selesainya penciptaan Adam, dan mereka menganggap Adam sebagai guru mereka.
6. Mereka kadang-kadang mengubah dirinya dalam bentuk manusia, dan menampakkan dirinya di hadapan para nabi atau bahkan selain nabi, sebagaimana dalam surat Maryam; dimana kita membaca bahwa seorang malaikat mulia Ilahi telah mengubah dirinya di hadapan Maryam dalam bentuk manusia.
.... lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya [Maryam], maka ia menjelma di hadapannya [dalam bentuk] manusia yang sempurna. (QS. Maryam [19]: 17)
Di tempat yang lain, malaikat menampakkan diri dalam bentuk manusia di hadapan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Luth a.s.
Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami [malaikat-malaikat] telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira. Mereka mengucapkan, "Selamat." Ibrahim menjawab, "Selamatlah." Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, "Janganlah kamu takut, sesungguhnya kami adalah [malaikat-malaikat] yang diutus kepada kaum Luth. (QS. Hud [11]: 69-70)
Demikian juga dalam surat yang sama, ayat 77, Dia berfirman, "Dan tatkala datang- utusan-utusan Kami [para malaikat] itu kepada Luth, ia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan ia berkata, 'Ini adalah hari yang amat sulit.'" (QS. Hud [11]: 77)
Bahkan dari kelanjutan ayat ini bisa dipahami bahwa kaum Luth pun melihat mereka dalam bentuknya sebagai manusia.
Dan datanglah kepadanya kaumnya [Luth] dengan tergesa-gesa .... (QS. Hud [11]: 78)
Apakah kemunculan mereka dalam bentuk manusia merupakan realitas yang obyektif? Ataukah hanya dalam bentuk permisalan dan semacam pengelabuan terhadap pengindaraan manusia? Secara dzahir, ayat-ayat Al-Qur'an menunjukkan asumsi pertama, walaupun sebagian mufassir besar memilih asumsi kedua.
7. Dari riwayat-riwayat bisa diketahui bahwa jumlah mereka sangatlah banyak, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan jumlah manusia. Dalam sebuah hadis, ketika Imam Ash-Shadiq a.s. ditanya; apakah jumlah malaikat lebih banyak ataukah jumlah manusia yang lebih banyak, beliau berkata: "Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Jumlah malaikat Allah di langit lebih banyak dari jumlah butiran-butiran tanah yang ada di bumi. Di langit, tidak ada tempat jejakan kaki kecuali di sana terdapat seorang malaikat yang senantiasa memuji dan menyucikan Allah swt."
8. Mereka tidak makan dan tidak minum. Begitu juga mereka tidak menikah. Dalam sebuah hadis dari Imam Ash-Shadiq a.s., "Para malaikat tidak makan, tidak pula minum. Mereka pun tidak menikah. Mereka hidup dengan angin lembut 'Arsy Ilahi."
9. Mereka tidak mengantuk, tidak lelah, dan tidak lupa, sebagaimana ditegaskan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. dalam sebuah hadis, "Tidak ada kelelahan dan kelalaian di dalam diri mereka, serta tidak pula ada penentangan ... Rasa kantuk tidak pernah terlihat pada wajah-wajah mereka, dan akal mereka tidak akan pernah berada dalam kekuasaan hawa nafsu dan kelalaian. Badan mereka tidak pernah diselimuti oleh rasa lelah, dan mereka pun tidak pernah berada dalam sulbi seorang ayah dan rahim seorang ibu."
10. Mereka mempunyai derajat yang berbeda-beda. Sebagian mereka senantiasa berada dalam keadaan ruku', dan sebagian yang lain senantiasa berada dalam keadaan sujud.
Tiada seorang pun di antara kami [malaikat] melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya kami benar-benar bershaf-shaf [dalam menunaikan ibadah Allah] dan kami benar-benar bertasbih. (QS. Ash-Saffat [37]: 164-166)
Imam Ash-Shadiq a.s. berkata, "Allah swt. mempunyai malaikat-malaikat yang hingga Hari Kiamat senantiasa berada dalam keadaan ruku', dan malaikat-malaikat yang hingga Hari Kiamat senantiasa berada dalam keadaan sujud."
Untuk mendapatkan keterangan yang lebih banyak tentang sifat-sifat para malaikat ini, Anda bisa merujuk ke kitab As-Sam‚' wa Al-'?lam, Bih‚r Al-Anw‚r, Bab-bab Malaikat, jilid 59, hal. 144-326. Demikian juga, Nahjul Balaghah, khutbah-khutbah no. 1, 91, 109, 171, dan khutbah Al-Asyb‚h.
Dengan memperhatikan sifat-sifat malaikat yang telah disebutkan di atas, lalu apakah mereka itu makhluk yang abstrak ataukah materi kongkret?
Tentu bahwa berdasarkan sifat-sifat ini, malaikat tidak mungkin berupa unsur dari substansi yang kotor. Akan tetapi, tidak mustahil apabila mereka tercipta dari jasmani yang lembut, jasmani yang berada di atas substansi yang biasa kita kenal.
Pembuktian keabstrakan mutlak para malaikat bukanlah merupakan sebuah pekerjaan yang mudah hatta dari sisi zaman, tempat, dan bagian-bagiannya. Dan penelitian dalam masalah ini pun tidak begitu bermanfaat. Yang penting adalah, bahwa kita mengenal para malaikat dengan sifat-sifat yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an dan riwayat-riwayat. Dan kita mengetahui mereka sebagai spesis agung dari makhluk-makhluk tinggi dan pilihan Allah swt. Kita tidak menisbahkan kepada mereka selain kedudukan sebagai hamba, tidak pula menganggap mereka sebagai sekutu Allah swt. dalam penciptaan atau ibadah, karena yang demikian ini adalah syirik yang jelas.
Pada topik ini, kami mencukupkan pembahasan hanya sampai di sini, dan untuk perincian yang lebih mendalam, kami akan merujukkannya kepada kitab-kitab yang mengkhususkan pembahasan tentang malaikat.
Dalam banyak ibarat yang tercantum pada kitab Taurat tentang malaikat, terdapat ungkapan "tuhan-tuhan" yang tentu saja merupakan ungkapan yang bercampur dengan syirik, dan itu merupakan sebagian tanda dari perubahan Taurat saat ini. Akan tetapi, Al-Qur'an bersih dari ungkapan semacam ini. Karena, menurut Al-Qur'an, tidak ada kedudukan lain bagi para malaikat ini selain kedudukan penghambaan dan ibadah, serta sebagai pengemban perintah-perintah Ilahi. Bahkan dalam berbagai ayat ditegaskan bahwa kedudukan insan kamil (manusia sempurna) adalah lebih tinggi dan mulia dari kedudukan para malaikat.

92. Apakah Hakikat Tawakal dan apa Falsafahnya?

Pada dasarnya, tawakal berasal dari akar kata "wakalah" yang berarti memilih wakil. Dan kita mengetahui bahwa kredibilitas seorang wakil yang baik bisa dilihat -paling tidak- dari empat sifat, yaitu pengetahuan yang cukup, terpercaya, mempunyai kemampuan, dan penuh perhatian.
Jelas bahwa memilih seorang wakil untuk sebuah pekerjaan dilakukan ketika seseorang tidak mempunyai kemampuan lagi untuk bertahan sendirian. Pada saat inilah ia bisa mengunakan kekuatan orang lain untuk membantunya dalam menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.
Oleh karena itu, tawakal kepada Alah swt. tidak mempunyai arti lain kecuali bahwa manusia menjadikan Allah sebagai wakilnya dalam menghadapi persoalan, musibah-musibah kehidupan, musuh, para penentang, dan masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Dan ketika seseorang -biasanya- telah sampai pada jalan buntu dalam upaya mencapai tujuan dan tidak mempunyai kemampuan lagi untuk menyelesaikan dan memecahkan persoalannya, ia akan menyandarkan diri kepada-Nya dengan tanpa menghentikan upayanya. Bahkan, tatkala ia sendiri mempuyai kemampuan untuk melakukan pekerjaannya, ia tetap menganggap bahwa faktor utama semua itu hanyalah Allah swt., karena menurut pandangan seorang mukmin, sumber segenap kekuatan adalah Allah swt.
Kebalikan dari tawakal kepada Allah adalah menyandarkan diri kepada selain-Nya. Yaitu, hidup secara bergantung (seperti sebuah parasit); menggantungkan diri pada orang lain, dan tidak mempunyai kemandirian. Para ulama akhlak berkata, "Tawakal merupakan sikap yang dihasilan secar langsung dari tauhid Fi'liyah Allah swt., karena -sebagaimana yang telah kami jelaskan- dilihat dari visi seorang mukmin, setiap gerak, usaha dan fenomena yang ada di dunia ini -pada akhirnya- mempunyai keterkaitan dengan penyebab pertama dunia ini, yaitu Allah. Oleh karena itu, manusia mukmin akan menganggap bahwa seluruh kekuatan yang ada berasal dari-Nya.


Falsafah Tawakal

Dengan memperhatikan apa yang telah kami sebutkan di atas, maka kita akan bisa mengetahui bahwa:
Pertama, tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri kepada sebuah sumber kekuatan yang abdi, dapat meningkatkan ketahanan manusia dalam menghadapi persoalan dan kesulitan hidup. Dengan dalil ini, ketika muslimin yang tengah mengalami pukulan berat di medan perang Uhud, lalu mendengar berita bahwa para musuh yang telah meninggalkan medan perang akan kembali ke medan untuk melakukan pukulan akhir terhadap pasukan muslim, Al-Qur'an mengatakan bahwa orang-orang beriman pada saat-saat yang sangat genting dan berbahaya ini di mana bagian penting kekuatan juang mereka telah hilang, bukannya tidak hanya merasa takut, melainkan rasa tawakal kepada Allah swt. dan bersandar kepada kekuatan iman telah membuat pertahanan mereka bertambah sehingga para musuh yang hampir menang itu -begitu mendengar berita adanya persiapan ini- segera mengundurkan diri dari siasat tersebut.
[Yaitu] orang-orang [yang menaati Allah dan Rasul] yang masyarakat [sekitar] berkata kepada mereka, "Sesungguhnya mereka telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang Kamu. Oleh karena itu, takutlah pada mereka." Maka, perkataan itu menambah keimanan mereka, dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali 'Imran [3]: 173)
Contoh dari ketangguhan di bawah naungan tawakal kepada-Nya banyak terdapat di dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Salah satunya adalah sebuah ayat dalam surat Ali 'Imran yang berfirman, "Ketika dua golongan dari Kamu ingin [mengundurkan diri] karena takut, padahal Allah adalah Penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 122)
Dalam salah satu ayat surat Ibrahim disebutkan, "Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Ia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang Kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang bertawakal akan berserah diri." (QS. Ibrahim [14]: 12)
Dan dalam salah satu ayat surat Ali 'Imran yang lain disebutkan, "... kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)
Bahkan, Al-Qur'an mengatakan ketika berhadapan dengan godaan setan, orang-orang yang akan mampu bertahan dan bisa keluar dari godaan setan ini hanyalah orang-orang yang beriman dan bertawakal. Ia berfirman, "Sesungguhnya setan itu tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya." (QS. an-Nahl [16]: 99)
Dari kumpulan ayat-ayat ini bisa diketahui bahwa maksud dari tawakal adalah hendaklah seseorang tidak merasa lemah dalam menghadapi beratnya persoalan kehidupan. Bahkan, dengan bersandar dan menggantungkan diri kepada kekuatan Allah yang tak terbatas, ia menyatakan dirinya selalu menang. Dengan demikian, tawakal merupakan sumber harapan yang akan memberikan kekuatan dan menjadi dasar ketahanan dan kekokohan seseorang.
Apabila arti tawakal diinterpretasikan dengan berdiam diri di sudut kamar dengan menengadahkan tangan, ini justru menghilangkan arti segala perjuangan dan jerih payah yang dilakukan oleh manusia.
Dan apabila terdapat sebagian kelompok yang mengatakan bahwa peduli terhadap alam materi dan faktor-faktor alam tidak ada relevansinya dengan tawakal, sebenarnya mereka berada dalam kesalahan yang sangat besar, karena memisahkan faktor-aktor alam dari kehendak Allah merupakan sebuah kesyirikan. Bukankah komponen-komponen alam apa pun berasal dari-Nya dan seluruhnya berada di bawah kehendak dan perintah-Nya?
Ya! Apabila kita menganggap faktor-faktor ini sebagai sebuah sistem yang independen dari kehendak dan iradah-Nya, jelas hal ini tidak sejalan dengan substansi tawakal. (Perhatikan baik-baik!).
Bagaimana mungkin interpretasi semacam ini dinisbahkan kepada tawakal, sedangkan Rasulullah saw. sendiri sebagai seorang figur yang berada di atas kaum mutawakilin, ketika ingin mencapai tujuannya, beliau tidak pernah lalai dari rencana dan siasat yang jitu, taktik yang cermat dan berbagai peralatan dan sarana perlengkapan eksternal. Semua ini membuktikan bahwa tawakal tidak mempunyai arti negatif sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.
Kedua, bertawakal kepada Allah swt. dapat menyelamatkan manusia dari segala bentuk ketergantungan yang merupakan sumber kehinaan dan keterkungkungan, serta memberikan kebebasan dan kepercayaan diri kepadanya.
Tawakal dan qan‚'ah (mencukupkan diri dengan apa yang ada) keduanya mempunyai satu akar yang sama. Pada prinsipnya, filsafat dari keduanya mempunyai kemiripan apabila dilihat dari satu sisi. Dan pada saat yang sama, terdapat pula perbedaan di antara keduanya. Di sini, beberapa riwayat tentang masalah tawakal akan kami utarakan sebagai sebuah refleksi dari arti aslinya:
Imam Ash-Shadiq a.s. berkata, "Sesungguhnya qan‚'ah dan kehormatan diri selalu bergerak. Ketika ia menemukan tempat tawakal, maka di sanalah ia akan menetap."
Dalam hadis ini, tempat tinggal asli qana'ah dan kehormatan diri adalah tawakal.
Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Malaikat Jibril, penyampai wahyu Allah, "Apakah tawakal itu?" Ia menjawab, "Tawakal adalah yakin pada realita bahwa makhluk bukanlah pembawa keuntungan, bukan pula pembawa kerugian, tidak memberi, tidak pula menghalangi, dan tidak menggantungkan harapan kepada makhluk apapun. Ketika seorang hamba telah yakin demikian, ia tidak melakukan pekerjaan kecuali untuk Allah, dan tidak mempunyai harapan kecuali dari-Nya. Inilah hakikat dari tawakal."
Seseorang bertanya kepada Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s., "Sebatas manakah tawakal itu?" Beliau menjawab, "Hendaknya engkau tidak takut kepada siapapun dengan bersandar kepada Allah swt."

93. Apakah Falsafah Doa?

Mereka yang tidak mengenal hakikat doa dan dampak edukatif dan sikologis yang dihasilkannya akan senantiasa melontarkan berbagai macam sanggahan terhadap masalah ini.
Terkadang mereka mengatakan bahwa doa merupakan faktor yang melumpuhkan manusia, karena tatkala mereka seharusnya melakukan usaha, memanfaatkan sains dan tekhnologi, serta mengisi kesuksesan yang dicapai, doa malah membuat orang menengadahkan tangan dan meninggalkan semua usahanya.
Terkadang pula mereka mengatakan, "Pada prinsipnya, apakah berdoa bukan berarti ikut campur dalam pekerjaan-pekerjaan Allah? Padahal kita mengetahui bahwa apapun yang menurut Allah baik untuk dilakukan, maka Dia pasti akan melakukannya. Dia mempunyai rasa kasih sayang kepada kita. Dia lebih mengetahui kebaikan untuk diri kita dibanding diri kita sendiri. Oleh karena itu, mengapa kita harus menginginkan sesuatu dari-Nya setiap saat?"
Di saat lain mereka mengatakan, "Selain dari semua yang telah tersebut di atas, bukankah doa justru bertentangan dengan keridhaan dan penyerahan diri pada kehendak Allah?"
Mereka yang melontarkan kritikan dan sanggahan semacam ini sebenarnya telah lalai dengan kenyataan sikologis, sosial, budaya, pendidikan, dan aspek spiritual doa dan ibadah. Karena pada dasarnya, untuk meningkatkan kemauan dan menghilangkan segala kegelisahan, manusia membutuhkan kehadiran sebuah tempat yang bisa dijadikan media untuk menyandarkan dan menggantungkan kepercayaannya. Dan doalah yang akan menyalakan pelita harapan ini dalam dirinya.
Masyarakat yang melupakan doa dan ibadah, pastilah akan berhadapan dengan reaksi yang tidak sesuai dengan psikologi sosial.
Dan sebagaimana yang dilontarkan oleh salah satu psikolog terkenal, "Ketidaaan ibadah dan doa di tengah-tengah suatu bangsa sama artinya dengan kehancuran dan keruntuhan bangsa tersebut. Sebuah masyarakat yang telah membunuh rasa butuh kepada doa dan ibadah biasanya tidak akan pernah terlepas dari keruntuhan dan kemaksiatan. Tentu saja, jangan kita lupakan bahwa beribadah hanya di pagi hari dan menjalani sisa waktu yang ada seperti seekor binatang liar yang membunuh sana-sini tidak ada manfaatnya sedikitpun. Ibadah dan doa harus dilakukan secara terus-menerus, berkesinambungan, pada setiap kondisi, dan melakukannya dengan penuh khidmat sehingga manusia tidak akan kehilangan pengaruh kuat dari ibadah dan doa ini."
Mereka yang setuju dengan dampak negatif yang ditimbulkan oleh doa, tidak memahami hakikatnya. Karena doa bukanlah berarti kita menyingkirkan dan melepaskan tangan dari segala media eksternal dan faktor-faktor alami, lalu menggantikannya dengan berdoa. Maksud dari doa adalah setelah melakukan segala usaha dalam mengunakan seluruh fasilitas yang ada, lalu ketika kita telah menemukan jalan buntu dan tangan kita tidak memiliki kemampuan lagi, barulah kita berdoa untuk menghidupkan semangat harapan dan gerak dalam diri kita dengan memberikan perhatian dan menyandarkan diri kepada Allah swt. Lalu kita memohon bantuan dari Sebab Utama Yang Tak Tebatas ini.
Oleh karena itu, doa dikhususkan pada persoalan-persoalan yang menemui jalan buntu, bukan sebagai sebuah faktor yang menggantikan faktor-faktor natural.
"Selain akan memberikan ketenangan, doa juga akan menghidupkan gairah batin dalam aktifitas otak manusia, dan terkadang pula akan menggerakkan hakikat kepahlawanan dan keperkasaan. Doa akan menampakkan karakternya dengan indikasi-indikasi yang sangat khas dan terbatas dalam diri setiap orang. Doa akan menampakkan kejernihan pandangan, keteguhan perbuatan, kelapangan dan kebahagiaan batin, wajah yang penuh keyakinan, dan potensi hidayah. Demikian juga, ia menceritakan tentang bagaimana menyambut sebuah peristiwa. Ini semua merupakan wujud sebuah hazanah harta karun yang tersembunyi di kedalaman ruh kita. Dan di bawah kekuatan ini, hatta orang-orang yang mempunyai keterbelakangan mental dan minim bakat sekalipun, akan mampu menggunakan kekuatan akal dan moralnya dan mengambil manfaat yang lebih banyak darinya. Ironisnya, di dunia kita ini sangatlah sedikit orang-orang yang mengenal hakikat doa."
Dari penjelasan di atas, menjadi jelas pula jawaban atas sanggahan yang mengatakan bahwa doa tidaklah sejalan dengan ridha (kerelaan) dan pasrah kepada kehendak Allah swt. Karena sebagaimana yang telah kami jelaskan, doa merupakan usaha untuk mencari kemampuan mendapatkan berkah yang lebih banyak dari-Nya.
Dengan kata lain, dengan perantara doa, manusia akan menemukan perhatian yang lebih banyak untuk memahami berkah Allah swt. Jelas bahwa usaha untuk mencapai kesempurnaan yang lebih banyak adalah penyerahan diri pada hukum-hukum penciptaan itu sendiri, bukan malah menjadi satu hal yang bertentangan dengannya.
Selain itu semua, doa merupakan ibadah, kerendahan hati, dan penghambaan. Dengan perantara doa, manusia akan menemukan perhatian baru terhadap Dzat Allah. Sebagaimana seluruh ibadah mempunyai pengaruh yang mendidik, doa pun mempunyai pengaruh yang demikian pula.
Dan apabila dipertanyakan, "Doa berarti campur tangan di dalam pekerjaan Allah. Padahal, Allah akan melakukan apapun yang menurut-Nya bermaslahat", mereka tidak memperhatikan bahwa karunia Ilahi akan berikan berdasarkan kelayakan yang dimiliki oleh setiap orang. Semakin besar kelayakan seseorang, maka ia akan mendapatkan karunia Allah secara lebih banyak pula.
Oleh karena itu, kita melihat Imam Ash-Shadiq a.s. dalam salah satu hadis berkata, "Di sisi Allah swt. terdapat sebuah kedudukan di mana seseorang tidak akan sampai ke sana tanpa melakukan doa."
Salah seorang ilmuwan mengatakan, "Ketika kita melakukan doa, maka -sebenarnya- kita menciptakan hubungan dan interaksi dengan sebuah kekuatan tak terbatas tempat bergantungnya seluruh makhluk."
Ia melanjutkan, "Saat ini, di dalam psycomedis yang merupakan ilmu modern, segala sesuatu diajarkan sebagaimana para Nabi telah mengajarkannya. Mengapa? Karena di dalam psycomedis ini telah ditemukan bahwa doa, shalat, dan iman yang kuat terhadap agama akan menghilangkan kegelisahan, ketegangan, dan ketakutan-ketakutan yang merupakan penyebab dari separuh kegundahan-kegundahan yang ada."

94. Mengapa Doa Kita Kadang-kadang tidak Dikabulkan?

Perhatian terhadap kualitas syarat-syarat terkabulnya doa merupakan petunjuk akan realitas lain dari persoalan keterkabulan sebuah doa, dan akan memperjelas dampak positifnya. Dalam literatur-literatur Islam, kita menemukan syarat-syarat terkabulnya sebuah doa, antara lain:
a. Sebelum segala sesuatu, hendaknya berusaha mencapai kesucian kalbu dan ruh, bertaubah dari dosa-dosa, membersihkan jiwa, dan menjalani kehidupan dengan mengambil ilham dari kehidupan para pemimpin Ilahi.
Imam Sh-Shadiq a.s. berkata, "Janganlah salah satu dari kamu meminta kepada Allah swt. kecuali mengucapkan pujian terhada-Nya terlebih dahulu dan menyampaikan shalawat atas Rasulullah saw. dan keturunan sucinya, kemudian mengakui segala dosa di hadapan-Nya (dan bertaubah), barulah setelah itu memanjatkan doa."
b. Hendaknya berusaha untuk menyucikan kehidupan dari kekayaan hasil rampasan (ghasab), kezaliman dan kekejian, dan menghindarkan diri dari makanan yang haram.
Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa menginginkan doanya terkabul, maka ia harus menyucikan makanan dan usahanya."
c. Hendaknya tidak melepaskan diri dari amar makruf dan nahi munkar, karena orang yang meninggalkan amar makruf dan nahi munkar, doa-doanya tidak akan dikabulkan. Rasulullah saw. bersabda, "Lakukanlah amar makruf dan nahi munkar, karena kalau tidak, maka Allah swt. akan menempatkan keburukan-keburukan di atas kebaikan-kebaikan yang kamu miliki, dan tidak akan pernah mengabulkan doamu, betapapun kamu sering berdoa."
Pada hakikatnya, meninggalkan kewajiban besar (amar makruf dan nahi munkar) ini akan mewujudkan ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang dampaknya adalah tersedianya kesempatan bagi para pembuat kerusakan di dalam masyarakat, dan doa tidak akan mempunyai pengaruh lagi untuk menanggulangi dampak tersebut, karena keadaan ini merupakan akibat yang nyata dari perbuatan-perbuatan manusia itu sendiri.
d. Hendaknya mengamalkan perjanjian Ilahi. Iman, amal salih, amanah dan kejujuran merupakan syarat lain dari terkabulnya doa, karena seseorang yang tidak setia terhadap janjinya sendiri di hadapan Allah swt., tidak selayaknya pula ia menunggu janji keterkabulan doa dari-Nya.
Seseorang datang kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. untuk mengadukan doanya yang tidak dikabulkan oleh Allah swt. Ia berkata, "Allah sendiri telah berfirman, 'Berdoalah kamu, niscaya Aku akan mengabulkannya.' Lalu, mengapa Dia tidak mengabulkan doaku padahal aku telah berdoa kepada-Nya?"
Imam Ali bin Abi Thalib a.s. menjawab, "Hati dan pikiran kamu telah mengkhianati delapan hal, (Oleh karena itu, doa kamu tidak dikabulkan):
- Kamu telah mengenal siapa Allah itu, akan tetapi tidak memenuhi hak-Nya. Oleh karena itu, pengenalan semacam ini tidak memberikan manfaat kepadamu.
- Kamu beriman kepada orang yang telah diutus oleh-Nya, akan tetapi kamu bangkit untuk menentang sunahnya. Lalu, ke manakah hasil dari keimananmu?
- Kamu membaca kitab-Nya, akan tetapi kamu tidak mengamalkannya. Kamu mengatakan bahwa kamu mendengar dan menaatinya, akan tetapi kamu bangkit untuk menentangnya.
- Kamu mengatakan bahwa kamu takut kepada hukuman dan siksaan Allah, akan tetapi perbuatan-perbuatanmu senantiasa mendekatkan dirimu kepadanya.
- Kamu mengatakan bahwa kamu menyukai pahala Ilahi, akan tetapi perbuatan-perbuatanmu semakin menjauhkanmu dari pahala-Nya.
- Kamu memakan nikmat Allah, akan tetapi kamu tidak mensyukurinya.
- Ia memerintahkanku untuk menjadi musuh setan (dan kamu malah menjalin persahabatan dengannya). Kamu mengklaim bahwa kamu memiliki permusuhan dengan setan, akan tetapi pada praktiknya kamu tidak pernah menentangnya.
- Kamu selalu memperhatikan cela-cela orang lain, sementara kamu menyembunyikan cela-celamu.
Dengan semua ini, bagaimana kamu menginginkan doamu akan terkabul? Perbaikilah perbuatan-perbuatanmu, lakukanlah amar makruf dan nahi munkar supaya doamu dikabulkan oleh-Nya."
Hadis yang penuh makna ini menegaskan bahwa janji Allah untuk mengabulkan doamu adalah sebuah janji yang bersyarat, bukan janji yang mutlak. Dan syaratnya adalah pengamalan terhadap janji dan sumpahmu sendiri. Sementara, yang terjadi adalah kamu mengingkari kedelapan janji di atas. Apabila kamu menghentikan penghianatan ini, maka doamu akan menjadi dikabulkan.
Mengamalkan kedelapan syarat-syarat di atas -yang pada hakikatnya merupakan syarat-syarat terkabulnya sebuah doa- telah memadai apabila digunakan untuk mendidik manusia dan memanfaatkan kekuatannya dalam satu usaha yang membuahkan hasil.
e. Syarat lain dari terkabulnya doa adalah adanya korelasi antara doa dan usaha.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. pernah berkata, "Orang-orang yang berdoa tanpa amal dan usaha bak orang-orang yang memanah tanpa busur."
Busur adalah faktor penggerak dan alat untuk melemparkan panah ke arah sasaran. Dengan demikian, peran amal dalam terkabulnya sebuah doa menjadi begitu jelas.
Rangkaian delapan syarat di atas merupakan penjelas dari sebuah realita bahwa doa bukan saja tidak berfungsi sebagai alternatif dari faktor-faktor alami dan syarat-syarat eksternal yang biasa digunakan untuk menghasilkan sebuah tujuan, melainkan untuk terkabulnya sebuah doa, pendoa harus melakukan perubahan total dalam cara hidupnya, menciptakan keadaan baru pada jiwanya dan merenungkan kembali perbuatan yang telah dilakukan pada masa lalu. Bukankah menganggap doa sebagai sesuatu faktor pelumpuh dengan adanya syarat-syarat semacam ini menandakan ketidaktahuan pengklaimnya atau sebuah perbuatan yang tak berdasar?!

95. Apakah Hakikat Mimpi itu?

Di sini perlu kiranya menuangkan pandangan-pandangan yang berbeda dalam menanggapi hakikat mimpi secara ringkas. Terdapat interpretasi yang sangat beragam tentang realitas mimpi ini. Semua interpretasi itu dapat diklasifikaskan dalam dua bagian:
a. Intepretasi materi.
b. Intepretasi nonmateri.
Para penganut Materialisme mengatakan bahwa mimpi bisa terjadi karena beberapa sebab:
Pertama, mungkin saja mimpi merupakan hasil langsung dari pekerjaan-pekerjaan harian manusia. Yaitu, kejadian yang menimpa seseorang pada hari sebelumnya dan tercerap di dalam pikirannya pada saat tidur.
Kedua, mungkin juga mimpi merupakan sebuah rangkaian sugesti dan harapan yang tak tergapai. Seseorang yang tertidur dalam keadaan haus, ia akan melihat air di dalam tidurnya, dan seseorang yang sedang menunggu keberangkatan untuk suatu perjalanan, ia akan melihat kedatangannya dalam mimpinya.
Ketiga, mungkin juga ketakutan terhadap sesuatu telah menyebabkan seseorang mengalami ketakutan tersebut di dalam mimpinya. Hal ini telah terulang beberapa kali pada orang-orang yang takut kepada pencuri dan ia malah melihat kehadiran pencuri di dalam mimpinya. (Kata pepatah terkenal yang mengatakan, "Tidurlah jauh dari unta, dan janganlah bermimpi yang menegangkan" adalah isyarat terhadap hakikat ini).
Freud dan para penganut ajarannya mempunyai interpretasi materi yang lain terhadap mimpi. Melalui sebuah pengantar yang detail, mereka menegaskan bahwa tidur dan mimpi merupakan sebuah pemuasan terhadap hasrat dan keinginan-keinginan yang tak terpenuhi dan tertindas yang senantiasa hadir di alam sadar seseorang dengan perubahan-perubahan (tertentu) untuk mengelabuhi diri (aku)nya.


Penjelasan

Setelah mengakui statemen bahwa jiwa manusia meliputi dua bagian, yaitu alam sadar (bagian yang mempunyai korelasi dengan pemikiran-pemikiran harian dan pengetahuan terhadap kehendak dan ikhtiyarnya), dan alam bawah sadar (bagian yang masih tersembunyi di dalam batinnya dalam bentuk sebuah hasrat yang belum terpuaskan), mereka mengatakan, "Seringkali terjadi hasrat yang terdapat dalam diri kita dan -karena satu dan lain hal- kita tidak mampu menenuhinya, serta telah tersimpan di dalam batin kita, ketika kita tidur dan sistem alam sadar kita tidak aktif, hasrat tersebut -demi sebuah pemuasan yang bersifat imajinatif- datang menghampiri alam sadar kita. Kadang-kadang hasrat itu menjelma tanpa sedikit pun perubahan, seperti mimpi seorang yang jatuh yang melihat kekasihnya di dalam mimpinya, dan kadang-kadang ia berubah wujud dan menjelma dalam bentuk-bentuk yang sesuai yang -dalam hal ini- mimpi itu perlu penta'biran.
Atas dasar ini, mimpi senantiasa mempunyai interaksi dengan masa lalu, dan sama sekali tidak menyampaikan berita tentang masa yang akan datang. Mimpi hanya bisa digunakan untuk membaca rasio bawah sadar. Dan oleh karena itu, tidur para pasien bisa digunakan sebagai sebuah alat bantu penyembuhan penyakit-penyakit kejiwaan dengan berdasarkan pada penemuan rasio bawah sadar."
Sebagian dari para ahli nutrisi mengklaim adanya hubungan antara mimpi dan kebutuhan badan pada gizi, dan meyakini - misalnya- apabila seseorang bermimpi giginya mengeluarkan darah, ini berarti ia kekurangan vitamin C, dan apabila bermimpi rambutnya menjadi beruban, dapat diketahui bahwa ia telah mengalami kekurangan vitamin B.
Akan tetapi, filsuf idealis mempunyai interpretasi yang lain tentang mimpi. Mereka mengatakan bahwa mimpi bisa dibagi dalam beberapa bagian:
a. Mimpi yang mempunyai hubungan dengan kehidupan, hasrat, dan harapan masa lalu. Hal ini merupakan bagian penting yang membentuk mimpi manusia.
b. Mimpi menakutkan dan tak bermakna yang merupakan akibat dari aktifitas imajinasi dan khayalan, (meskipun hal itu bisa jadi mempunyai motif psikologis).
c. Mimpi yang berkaitan dengan masa yang akan datang dan memberikan kesaksian tentangnya.
Tanpa ragu lagi bahwa mimpi yang mempunyai hubungan dengan kehidupan masa lalu dan merupakan cerapan kejadian-kejadian yang telah dialami oleh manusia pada sepanjang kehidupannya, tidaklah mempunyai makna yang khas. Demikian juga dengan tidur yang tidak tenang dan tidur mengigau yang merupakan hasil dari pikiran yang tidak tenang, sebagaimana juga mimpi yang biasa dialami oleh orang yang memiliki penyakit panas tinggi dan mengigau tidaklah mempunyai makna dan ta'bir yang khusus mengenai kejadian hidup di masa mendatang, meskipun para psikolog dan psikiater menggunakannya sebagai sebuah peluang untuk menemukan akal bawah sadar manusia dan menggunakannya sebagai kunci untuk penyembuhan penyakit psikologis. Dari sini diketahui bahwa ta'bir mimpi mereka ditujukan untuk menemukan rahasia-rahasia kejiwaan dan sumber penyakit, bukannya untuk mengetahui kejadian hidup di masa mendatang.
Akan tetapi, mimpi yang berhubungan dengan masa mendatang juga mempunyai dua bagian:
Pertama, mimpi yang merupakan pengungkap kejadian masa datang yang sangat jelas sehingga tidak membutuhkan ta'bir lagi, dan terkadang tanpa terdapat sedikit pun perbedaan dan sangat menakjubkan; hal ini betul-betul menjadi kenyataan di masa datang, baik dalam waktu dekat maupun jauh.
Kedua, mimpi yang selain merupakan ungkapan dari kejadian masa datang, juga telah mengalami perubahan dan membutuhkan ta'bir, karena adanya faktor-faktor inteligensi dan spiritual yang khas.
Untuk setiap mimpi tersebut terdapat contoh yang begitu banyak yang secara keseluruhannya tidak bisa dipungkiri. Hal ini tidak hanya telah disebutkan dalam literatur agama maupun kitab-kitab sejarah, bahkan sering pula terjadi dalam kehidupan kita dan orang-orang yang kita kenal dengan sedemikian jelasnya, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa semua itu merupakan sebuah akibat yang terjadi secara kebetulan.

96. Apakah yang Dimaksud dengan Sunnatullah?

Di dalam surat Al-Ahzab [33], ayat 62, Al-Qur'an mengemukakan bahwa salah satu dari sunah-sunah Ilahi yang tidak pernah mengalami perubahan adalah masalah penghancuran kaum munafik dengan sebuah serangan umum. Dan hal ini pernah terjadi pula pada umat-umat sebelumnya.
Sebagai sunah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum[mu], dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunah Allah.
Ta'bir-ta'bir semacam ini ditemukan pula di dalam Al-Qur'an dalam masalah-masalah yang lainnya. Salah satu di antaranya, dalam surat Al-Ahzab [33], ayat ke 38, setelah turun izin untuk menghancurkan kebiasaan salah jahiliyah mengenai pengharaman (memperistri istri anak angkat yang telah ditalak), Allah berfirman, "[Allah telah menetapkan yang demikian] sebagai sunah-Nya pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku."
Dalam surat Fathir [35], ayat ke 43, setelah mengancam kaum-kaum kafir dan pembuat kerusakan dengan kematian, Allah berfirman, "Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan [berlakunya] sunah [Allah yang telah berlaku] bagi orang-orang yang terdahulu. Maka, sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan pada sunah Allah dan sekali-kali tidak akan [pula] menemui penyimpangan dalam sunah Allah ini."
Dalam surat Al-Ghafir [40], ayat 85, setelah menegaskan bahwa keimanan orang-orang kafir yang keras kepala dan pembangkang dari kaum-kaum sebelumnya -setelah menyaksikan turunnya azab dari Allah swt.- tidaklah akan memberikan manfaat yang berarti, Dia menambahkan dengan firman-Nya, "Itulah sunah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan pada waktu itu, binasalah orang-orang kafir."
Dan dalam surat Al-Fath [48], ayat 23, setelah mengemukakan kemenangan kaum mukmin dan kehancuran orang-orang kafir, serta terputusnya persahabatan di antara mereka dalam peperangan, Allah menambahkan dengan firman-Nya, "Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada sunatullah ini."
Demikian juga dalam surat Al-Isra' [17], ayat 77, ketika menceritakan siasat orang-orang kafir dalam mengasingkan dan menghancurkan Rasulullah saw., Allah menambahkan, "Apabila terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak akan tinggal kecuali hanya sebentar saja. [Kami menetapkan yang demikian] sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu, dan tidak akan kamu dapati perubahan pada ketetapan Kami ini."
Dari rangkaian seluruh ayat di atas bisa diambil kesimpulan bahwa maksud dari sunah dalam masalah semacam ini adalah hukum-hukum yang konstan dan merupakan prinsip takwÓnÓ atau tasyrÓ'Ó Ilahi yang tidak akan pernah mengalami perubahan di dalamnya. Dengan kata lain, Allah swt. mempunyai hukum-hukum paten di alam takwÓnÓ (cipta) dan tasyrÓ'Ó (tinta)-Nya. Tidak sebagaimana hukum-hukum prinsip dan norma budaya dalam masyarakat dunia yang bisa direduksi, hukum-hukum Allah ini berlaku atas kaum-kaum masa lalu, saat ini dan juga atas kaum-kaum di masa datang.
Pertolongan para nabi, kekalahan orang-orang kafir, kelaziman mengamalkan perintah-perintah Ilahi sekalipun tidak menyenangkan bagi lingkungan, dan ketiadaan manfaat dari taubah pada saat turunnya azab Ilahi, semuanya ini merupakan sunah Ilahi yang abadi.

97. Apakah Hukum Qishash Bertentangan dengan Akal dan Naluri Manusia?

Sebagian golongan telah mengkritik hukum-hukum Islam tanpa perenungan terlebih dahulu, dan khususnya tentang masalah hukum qishash, mereka ramai melontarkan berbagai kecaman dan sanggahan. Mereka mengatakan:
a. Sebenarnya, kejahatan yang telah dilakukan oleh seorang pembunuh tidak lebih dari sebuah kejahatan yang hanya menghilangkan nyawa seorang manusia. Akan tetapi, ketika kamu melakukan qishash terhadapnya, kamu malah mengulangi perbuatan yang sama sekali lagi.
b. Qishash tidak lebih dari sebuah balas dendam dan kekerasan hati. Sifat tercela ini harus dihilangkan dari kalangan masyarakat dengan memberikan pendidikan yang benar. Sementara itu, para pendukung qishash, setiap hari malah memberikan ruh baru kepada sifat tercela ini. Yaitu, balas dendam.
c. Membunuh manusia bukan merupakan sebuah dosa yang dilakukan oleh orang-orang biasa yang berada dalam keadaan sehat. Sudah tentu, dari sisi psikologi, seorang pembunuh pastilah orang yang mengidap penyakit kejiwaan yang membutuhkan pertolongan pengobatan dan penyembuhan. Sementara itu, qishash tidak akan pernah bisa mengobati penyakit semacam ini.
d. Masalah-masalah yang berkaitan dengan sistem kemasyarakatan haruslah disesuaikan dengan perkembangan masyarakat yang ada. Oleh karena itu, sebuah hukum yang telah diterapkan pada seribu empat ratus tahun yang lalu tidak mungkin bisa diterapkan pada sistem masyarakat yang ada saat ini.
e. Apakah tidak lebih baik, sebagai pengganti dari qishash, kita penjarakan saja para pelaku pembunuhan ini. Kemudian, kita berlakukan kerja paksa untuk memanfaatkan mereka sehingga menghasilkan keuntungan bagi masyarakat. Dengan demikian, selain masyarakat akan terjaga dari kejahatan mereka, keberadaan mereka pun -paling tidak- akan memberikan manfaat pula bagi masyarakat.
Hal-hal di atas adalah ringkasan dari kecaman yang mereka lontarkan dalam persoalan qishash.
Dengan memperhatikan ayat-ayat qishash yang ada di dalam Al-Qur'an secara cermat, maka jawaban dari persoalan ini akan menjadi jelas.
Di dalam qishah itu terdapat kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal.
Karena, menyingkirkan para pembejat dan orang-orang perusak merupakan metode yang paling efektif untuk tercapainya pertumbuhan dan kesempurnaan masyarakat. Dalam hal ini, qishash merupakan sebuah jaminan kehidupan untuk kelestarian sebuah komunitas. Mungkin karena itulah qishash ditanamkan di dalam naluri manusia.
Sistem kedokteran, pertanian, dan perhewanan, semuanya dilandaskan pada prinsip rasionalitas metode ini (menghilangkan makhluk pengganggu yang membahayakan). Oleh karena itu, sering kita saksikan pemotongan anggota-anggota badan yang telah rusak atau pemangkasan dahan-dahan pengganggu dan yang membahayakan untuk memberikan pertumbuhan maksimal pada suatu pohon. Dari sini, orang-orang yang mengetahui bahwa membunuh seorang pembunuh merupakan sebuah peniadaan seorang insan yang lain, sungguh mereka hanya mengedepankan pandangan individualistik. Karena, apabila mereka mengarahkan pandangan pada rekonstruksi dan regenerasi masyarakat dan mengetahui apa fungsi qishash ini dalam menjaga dan mendidik keseluruhan individu, maka mereka akan berpikir kembali terhadap kata-kata yang mereka lontarkan. Karena pada hakikatnya, menyingkirkan pribadi pelaku pembunuhan dari masyarakat sebagaimana logisnya adalah memotong anggota badan dan memangkas dahan benalu, yang hingga sekarang tidak kita temukan seorang pun yang memperlihatkan keberatannya atas metode pemotongan anggota badan ataupun pemangkasan dahan pohon yang rusak ini. Dan ini merupakan jawaban dari persoalan yang pertama.
Tentang kritikan mereka yang kedua, harus diperhatikan bahwa pada prinsipnya, diwajibkannya qishash tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan persoalan balas dendam. Karena, balas dendam mempunyai makna memadamkan api kemarahan yang muncul karena satu masalah pribadi, sementara qishash dilakukan dengan maksud untuk mencari keadilan dan keperdulian terhadap seluruh orang yang tidak berdosa, dan untuk mengantisipasi terulangnya kembali kejahatan serupa di dalam masyarakat.
Tentang kritikan yang ketiga bahwa pelaku pembunuhan pastilah terjangkit suatu penyakit kejiwaan, karena kejahatan semacam ini tidak mungkin ditemukan pada orang-orang biasa yang berada dalam keadaan sehat, harus ditegaskan bahwa pada sebagian persoalan, perkataan ini benar adanya dan Islam pun tidak akan pernah mengeluarkan hukuman qishash dalam keadaan di mana pelaku pembunuhan adalah orang yang tidak waras atau sepertimya.
Akan tetapi, apabila alasan adanya penyakit kejiwaan pada diri pelaku pembunuhan telah dijadikan sebagai sebuah hukum untuk menghamparkan amnesti dan jalan kebebasan di hadapan mereka, maka hal ini tidak akan bisa diterima, karena kerusakan yang akan ditimbulkan oleh pelaksanaan cara semacam ini tentu akan sangat menyulitkan dan tidak syak lagi dapat mengakibatkan semakin tingginya tingkat keberanian para pelaku kejahatan di dalam masyarakat.
Dan apabila pembelaan atas diri pelaku pembunuhan itu adalah benar, maka hal ini pun secara mutlak benar juga berkenaan dengan para pelanggar dan perampas hak-hak orang lain. Karena, orang-orang yang mempunyai akal yang sehat sama sekali tidak akan melanggar hak-hak orang lain. Dengan demikian, seluruh hukum harus dihapus dan para pelanggar serta para pembuat kerusakan -secara keseluruhan tanpa terkecuali- harus dimasukkan ke rumah-rumah sakit jiwa sebagai ganti dari penjara atau hukuman.
Adapun kritikan yang menekankan bahwa masyarakat dewasa ini tidak menerima lagi hukum qishash, karena qishash hanyalah berperan efektif di dalam kehidupan masyarakat primitif saja, dan sekarang mereka menganggap bahwa qishash merupakan sebuah hukum yang harus segera dihapuskan, karena hal itu kontradiksi dengan akal. Jawabannya, bahwa sanggahan yang mereka lontarkan di atas merupakan sebuah klaim yang tidak ada harganya sama sekali, dan lebih mirip dengan khayalan ketika dihadapkan dengan meluasnya kejahatan-kejahatan yang semakin mengerikan di dunia kita saat ini, dan juga dengan tingginya angka tindak pembunuhan yang terjadi di medan-medan perang.
Jika diasumsikan bahwa dunia sekarang ini akan terwujud dan Islam juga menetapkan pengampunan dan amnesti, serta tidak memperkenalkan qishash sebagai satu-satunya hukuman, maka jelas dalam lingkungan yang demikian ini, masyarakat akan lebih mengutamakan pengampunan atas pelaku pembunuhan. Akan tetapi, di dunia masa kini di mana kejahatan telah lebih banyak dan lebih buas di bawah motif dan modus yang beragam daripada yang terjadi pada masa lampau, maka penghapusan hukum ini tidak akan memberikan pengaruh sedikit pun selain hanya akan menambah ekspansi kejahatan itu sendiri di dalam lingkungan masyarakat.
Mengenai kritikan kelima, harus kita perhatikan bahwa tujuan dari qishash -seperti telah dijelaskan dalam Al-Qur'an- adalah untuk menjaga kehidupan global masyarakat dan mengantisipasi terulangnya kembali pembunuhan dan kejahatan serupa. Tentu saja, penjara tidak akan mampu menangai secara mumpuni, (terutama dengan memperhatikan kondisi penjara saat ini yang lebih baik dari tempat tinggal para penjahat itu sendiri). Dengan demikian, di negara-negara yang telah meniadakan hukum gantung tampak bahwa dalam waktu yang relatif pendek, data dan angka pembunuhan, serta tindak kriminalitas yang terjadi mengalami kenaikan yang menguatirkan, khususnya apabila hukum penjara orang-orang itu -sebagaimana biasanya-memberikan harapan pengampunan. Oleh karena itu, para penjahat akan melakukan kejahatannya tanpa beban pikiran dan perasaan.

98. Tidakkah Hukuman Potong Tangan Mengandung Kekejaman?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu kiranya kami jelaskan terlebih dahulu syarat-syarat pelaksanaan hukuman potong tangan seorang pencuri.
Hal-hal yang bisa disimpulkan dari rangkaian riwayat-riwayat Islam adalah, bahwa pelaksanaan hukum potong tangan mempunyai syarat-syarat yang begitu banyak sehingga dengan tidak terpenuhinya syarat-syarat tersebut, tidak boleh kita melaksanakan hukuman ini. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
a. Minimalnya, barang curian harus bernilai seharga seperempat Dinar.
b. Barang tersebut dicuri dari tempat yang terjaga, seperti rumah, toko, atau dari saku-saku bagian dalam sebuah pakaian.
c. Pencurian tidak terjadi pada musim paceklik di mana penduduk berada dalam kelaparan dan menghadapi jalan buntu.
d. Pencuri adalah orang yang berakal, telah berusia baligh, dan melakukan pencurian atas kemauannya sendiri.
e. Hukum ini tidak berlaku pada pencurian yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap kekayaan anak atau pencurian yang dilakukan oleh teman usaha terhadap kekayaan milik usaha bersama.
f. Pencurian buah-buahan dari pepohonannya di kebun buah, pun dikecualikan dari hukum ini.
g. Seluruh hal yang di dalamnya terdapat kemungkinan terjadinya kekeliruan bagi pencuri antara kekayaannya sendiri dengan kekayaan orang lain juga dikecualikan dari hukum ini.
Dan sebagian syarat-syarat lain yang telah dijelaskan di dalam kitab-kitab fiqih.
Jangan sampai ada kesalahan interpretasi bahwa maksud dari penyebutan syarat-syarat di atas berarti bahwa pencurian hanya akan bisa menjadi haram ketika seluruh syarat tersebut telah terpenuhi. Namun maksudnya adalah bahwa pelaksanaan hukuman di atas hanya dikhususkan pada perkara-perkara tersebut. Dan apabila tidak demikian, maka pencurian -bagaimanapun bentuk, keadaan, ukuran, dan cara pelaksanaannya- di dalam Islam merupakan suatu perbuatan yang diharamkan.


Kadar Pemotongan Tangan Pencuri

Berdasarkan pada serangkaian riwayat-riwayat yang berasal dari Ahlulbait a.s., telah masyhur di kalangan fuqaha bahwa pemotongan tangan pencuri hanya berlaku atas empat jari tangan kanan saja dan tidak lebih dari itu, meskipun fuqaha Ahli Sunnah berpendapat lebih dari itu.


Apakah Hukum Islam ini Mengandung Kekejaman?

Berulang kali telah terlontar kritikan dari para penentang Islam atau muslimin yang miskin informasi bahwa hukum Islam ini sangat keras, dan apabila ditetapkan bahwa hukum ini akan dilaksanakan pada dunia saat ini, maka akan begitu banyak tangan-tangan yang terpotong karenanya. Lebih dari itu, hukuman ini akan menyebabkan seseorang -selain harus kehilangan anggota badannya yang paling peka- harus menjadi orang yang "istimewa" hingga akhir hayatnya.
Untuk menjawab sanggahan ini, harus kita perhatikan hal-hal berikut ini:
Pertama, memperhatikan syarat-syarat pelaksanaan hukuman ini, bisa dipastikan tidak semua pencuri akan mengalami hukuman ini. Bahkan, hanya para pencuri kelas kakap yang berbahaya yang akan menerima hukuman tersebut.
Kedua, dengan metode yang harus dilakukan untuk membuktikan suatu hukuman dalam Islam yang memerlukan syarat-syarat tertentu, tentu hal itu akan menyebabkan obyek sasaran yang ditemukan pun akan menjadi semakin sedikit.
Ketiga, sebagian besar sanggahan yang dilontarkan dalam menanggapi hukum Islam muncul dikarenakan mereka mengkaji sebuah hukum secara partikular; tanpa memandang hukum-hukum secara menyeluruh. Dengan kata lain, mereka mengasumsikan pelaksanaan hukum tersebut dalam sebuah masyarakat yang seratus persen bukan masyarakat islami. Akan tetapi, apabila kita memperhatikan bahwa Islam bukan hanya mempunyai satu hukum ini saja, melainkan ia terdiri dari serangkaian hukum-hukum lain yang dengan melaksanakannya di dalam sebuah lingkungan sosial akan menciptakan keadilan masyarakat, menekan kemiskinan, membangun sistem pengajaran dan metode pendidikan yang benar, berkembangnya pengetahuan, kesadaran dan takwa, maka jelaslah betapa sedikitnya yang akan terkena hukum ini. Jangan disalahartikan! Maksud dari ucapan di atas tidak berarti bahwa hukum ini tidak perlu dilaksanakan di dalam masyarakat saat ini. Akan tetapi maksudnya adalah bahwa ketika kita hendak menilai sebuah hukum, hendaklah terlebih dahulu melihat dan mempertimbangkan seluruh aspek yang ada.
Konklusinya, pemerintahan Islam berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer kehidupan bangsanya sendiri, memberikan pengajaran yang diwajibkan kepada mereka, dan mendidik moral mereka. Dengan demikian, jelas bahwa dalam lingkungan semacam ini akan sangat sedikit ditemukan orang-orang yang melakukan pelanggaran.
Keempat, apabila kita memperhatikan betapa saat ini pencuri begitu merajalela, ini disebabkan karena tidak terlaksananya hukum ini. Oleh karena itu, dalam lingkungan yang melaksanakan hukum ini, (seperti negara Saudi Arabia yang tetap melaksanakan hukuman ini hingga tahun-tahun terakhir ini) akan ditemukan keamanan yang luar biasa telah menguasai semua tempat, khususnya dari sisi keamanan harta milik. Mayoritas peziarah rumah Allah melihat dengan mata kepala mereka sendiri betapa tidak ada seorang pun yang berani menyentuh koper-koper atau tas-tas uang yang ada di gang-gang dan pinggiran jalan Hijaz hingga para petugas dari kantor pengumpulan barang-barang hilang datang untuk membawa barang-barang tersebut ke kantor yang bersangkutan untuk menemukan pemiliknya dengan memperlihatkan tanda pengenal, lalu mengambilnya. Tak jarang juga terjadi pada malam hari banyak toko yang tak tertutup dan tak berpenjaga. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang berani untuk datang mengusik dan mencuri sesuatu dari dalamnya.
Menariknya, hukum Islam yang telah dilaksanakan selama berabad-abad ini dan muslimin di permulaan Islam telah hidup dalam keamanan dan kesejahteraan di bawah naungannya, membuktikan bahwa selama sekian abad pelaksanaan hukum ini, orang-orang terhukum hanya menduduki jumlah yang sangat sedikit.


Apakah Pemotongan Tangan Pelaku Kriminal untuk Keamanan Sebuah Bangsa Selama Beberapa Abad adalah Harga Mahal yang harus Dibayar?

Sebagian orang mempertanyakan bahwa pelaksanaan hukuman potong tangan atas pencuri yang hanya mencuri seperempat dinar sama sekali tidak relevan dengan semua kehormatan yang diberikan oleh Islam kepada jiwa seorang muslim dan kewajiban untuk menjaga nyawa mereka dari segala bahaya sehingga ia telah menentukan diyah dengan harga sangat mahal hanya karena memotong empat jari tangannya?
Kebetulan, pertanyaan seperti ini -sebagaimana terdapat dalam sebagian bukub-buku sejarah- telah dipertanyakan kepada seorang alim besar Islam, Sayid Murtadha 'Alamul Huda sekitar seribu tahun yang lalu. Penanya melontarkan pertanyaannya dalam bentuk sebuah syair sebagai berikut:
Tangan yang diyah-nya adalah lima ratus dinar,
mengapa harus terpotong dengan seperempat dinar?
Sayid Murtadha menjawab pertanyaan tersebut dengan syair berikut:
Kemuliaan amanat telah meninggikan nilai tangan,
dan kehinaan khianat telah menurunkan nilai tangan.
Ketahuilah, inilah hikmah Tuhan.