Menengok Tarbiyah para Ma'shum As
 

Oleh; Habri Zen

Dunia sebagai tempat hidup kita memiliki peranan penting dalam proses pembentukan jatidiri manusia, sehingga sudah menjadi lazim bahwa kehidupan memerlukan suatu pola pembentukan diri dari generasi ke generasi berikutnya.

Tarbiah bagian dari kehidupan manusia

Tarbiah sering digunakan dalam istilah organisasi, dakwah, tabligh dan juga pendidikan. Dalam kehidupan manusia, tarbiah merupakan bagian yang menyatu dalam dimensi manusia itu sendiri. Dimana ada manusia maka disana mereka melakukan proses yang dinamai “tarbiah”. Manusia terhadap dirinya pun melakukan tarbiah, misalnya dengan membentuk pribadi yang baik dan pemberani dengan cara melatih diri sendiri, dan menjadikan dirinya menjadi objek yang ditarbiati. Dalam keluarga misalnya kita sering mendengar tarbiah keluarga dan rumah tangga serta anak kecil. Bahkan yang lebih luas lagi dalam ruang lingkup masyarakat.

Tarbiah memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam menentukan bentuk prilaku serta nasib generasi berikutnya. Dan hal ini menjadi kunci akan cita-cita Islam menuju kejayaan di masa yang akan datang.

Tarbiah Dalam Terminologi

Ibnu Atsir berpendapat bahwa tarbiah berasal dari kata "rabb” yakni:

“Dikatakan bahwa hal itu (tarbiah) berasal dari kata rabb dengan makna tarbiah yakni menambahkan kepada para “muta’allim" dari ilmu yang sedikit sampai ilmu yang banyak”.(1)

Adapun Raghib Isfahani berpendapat :

“Aslinya kata Rabb adalah “Tarbiat” yakni terbentuknya sesuatu dari suatu keadaan ke keadaan lainnya sampai sempurna”(2)

Kedua pendefinisian tersebut mengandung makna bahwa tarbiah berjalan secara bertahap. Secara umum tarbiah berasal dari kata “rabawa” yang bermakna bertambah, berkembang. Dalam terminologinya banyak sekali para mutafakkirin menulis dengan terminologi yang khusus, salah satunya adalah :

“Kumpulan dari perbuatan atau pengamalan yang disengaja, dan yang memiliki tujuan akan tarbiat tersebut (Murabbi) dengan maksud untuk memberikan pengaruh dengan pengetahuan, keyakinan, perasaan, kelembutan, pada prilaku manusia atau manusia yang lainnya (mutarabbi/mutarabbiyan) dengan berdasarkan program yang terlatih yang terukur.”(3)

Definisi murabbi disana bukan hanya diperuntukkan untuk “mu’allim” atau dosen universitas, atau guru-guru sekolah, tetapi setiap orang dengan dasar program yang terukur dan terlatih yang dilaksanakannya, sampai tujuan tersebut tercapai.

Selain dari pada itu ruang lingkup tarbiat bukan hanya pada madrasah, sekolah, atau universitas saja, tetapi setiap lingkungan yang menyediakan keadaan tersebut dapat juga dilaksanakan.

Kesempurnaan Sebagai Tujuan Tarbiah

Dalam terminologi tarbiah diatas telah disinggung masalah tujuan secara umum dari tarbiah itu sendiri. Adapun tujuan hakiki dari tarbiah tersebut dapat kita lihat dari objek atau isinya. Secara umum memang seluruh bidang kehidupan manusia dapat dijadikan objek tarbiah. Tetapi ada titik yang dimana menjadi permulaan dan juga tujuan utama serta yang paling penting dari proses tarbiah itu sendiri yaitu penyadaran fitrah menuju kesempurnaan, maksudnya penggugahan fitrah sebagai modal untuk mencapai kesempurnaan, tentunya dalam hal ini kesempurnaan takkan dicapai kalau tidak dengan jalan proses tarbiat pengetahuan. Dan pengetahuan menuju kesempurnaan takkan dapat dicapai tanpa jalan “tazkiah” atau pembersihan diri, sehingga pembersihan diri juga merupakan isi dari tarbiah itu sendiri.

“Kami telah mengutus kepadamu seorang rasul dari kalangan kamu (sendiri) yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikanmu, mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, dan mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.”(4)

Siapakah Murabbi?

Tugas untuk mentarbiah memanglah berat, selain dari pada bekal ilmu yang mumpuni harus juga memiliki syarat-syarat kesempurnaan lainnya sehingga tujuan tarbiah dapat tercapai. Adapun “Murabbi” pertama yang menjadi tolak ukur seluruh makhluk di alam ini adalah Allah Swt. Sebab Allah-lah yang memiliki seluruh kesempurnaan tak terbatas. Allah-lah Rabb semesta alam ini, Allah-lah yang memberikan tarbiah kepada seluruh makhluknya dengan Rahman dan RahimNya dan kasih sayangNya. Adapun Pengejawantahan dari tarbiat Allah Swt adalah dengan diutusnya Rasulullah Saw, dan untuk melanjutkan dari “kemurabbian” Rasullullah Saw adalah dengan diutusnya para imam maksum as.

Seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.”(5)

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab (Al-Qur’an) dan hikmah, meskipun mereka sebelum itu benar-benar terjerumus dalam jurang kesesatan yang nyata.”(6)

Dan Juga Imam Ali bersabda:

“Kami lah hasil tarbiahnya Allah Swt dan manusia hasil tarbiahnya kami”(7)

“Wahai Kumail sesungguhnya Allah Swt mentarbiah Rasulullah Saw dan dia (rasul) mentarbiahku dan saya mentarbiah mukminin dan yang mewarisi adab yang terhormat.(8)

Seseorang yang menjadi murabbi memang tidak terbatas hanya pada Allah, rasul dan para imam maksum saja tetapi kepada seluruh manusia yang memiliki syarat-syarat kesempurnaan tersebut, minimal mendekati kesempurnaan tersebut, misalnya para alim ulama, di zaman sekarang ini. Adapun yang menjadi ukuran dan dasar rujukan adab dan cara tarbiah tentunya para maksumin tersebut. Sehingga Maksumin As sebagai Murabbi di muka bumi ini yang merupakan tajalliat dari kemurabian Tuhan serta memiliki kewenangan secara mutlak mentarbiah manusia. Akal kita dapat memahaminya bahwa kemurabbian para maksumin merupakan wujud dari kasih sayang Tuhan untuk membina makhluk menuju-Nya.

Pandangan Mengenai Pola Maksumin Mentarbiah Ummat

Pandangan mengenai pola maksumin dalam mentarbiah umat berbeda-beda, dan sangat banyak sekali, tergantung dari sudut pandang para ahli sejarah dan ulama dalam masalah tersebut. Jikalau kita melihat sejarah para nabi as dan para Imam Ahlulbait As kita akan memahami bahwa zaman dan medan tarbiah mereka berbeda-beda, sehingga cara yang ditempuhpun berbeda pula. Misalnya Imam Zainal Abidin As yang dengan lembutnya mentarbiah umat melalui doa, yang dimana didalam doa tersebut mengandung banyak pelajaran yang dibutuhkan oleh umat, baik itu pelajaran agama, ketuhanan, akhlaq, bahkan kehidupan manusia melalui “Shahifah Sajjadiah”. Adapun Imam Ja’far Shadiq As yang pada saat itu mempunyai kesempatan untuk membuka hauzah besar, sehingga proses tarbiah umat lebih luas pola geraknya. Walaupun demikian dari seluruh pola tarbiah para maksumin tersebut terdapat ciri-ciri kesamaan yang menjadi tolak ukur bagi kita semua. Pola-pola tersebut diantaranya mau’idzah, targhib dan tarhib, irsyad, tadzakur, amr dan nahi(9)

1. Pola Mau’izhah, yakni menuntun manusia kepada ketaatan dan menjauhkan mereka dari perbuatan dosa baik dengan memberitakan khabar yang menakutkan akan siksa ataupun dengan memberikan harapan kebahagiaan akhirat atau dengan memberikan bekal pengetahuan.(10)

Kalau merujuk pada asal katanya “mau’izhah” berasal dari kata "wa’azha" dengan makna yang berbeda beda, ada yang memaknai dengan mencegah dan menjauhi bersamaan dengan menakuti-nakuti, ada juga dengan makna mengingatkan dengan pahala dan balasan dimana dapat mempengaruhi kondisi hati, ada juga dengan makna nasihat dan mengingatkan dari akibat-akibat yang akan terjadi. Atau dengan kata yang lebih umum adalah Khutbah dimana kata tersebut sering kita gunakan. Dan Mau’izhah itu sendiri menjadi cara yang paling umum dari pola lainnya.

Kita dapat melihat pola ini dalam hadits atau riwayat , misalnya diceritakan dalam Nahj Al-Balaghah ketika sahabat Imam Ali as menginginkan penjelasan dari beliau mengenai orang mukmin, dan Imam Ali As memberikan penjelasan yang singkat, tetapi sahabat tersebut terus menerus menginginkan penjelasan lebih luas lagi , dan pada akhirnya sang Imam memberikan penjelasan yang panjang lebar, setelah mendengar hal itu sahabat Imam as tersebut meninggal dunia. Dan Imam Ali As bersabda: “Seperti itulah akibat dari “mau’izhah"”(11). Disinilah contoh mau’izhah yang terbaik dan mengandung nilai yang tinggi kepada pendengarnya. Dimana seorang Imam As memiliki kemampuan untuk membuka tabir hakikat orang mukmin dengan mau’izhah yang tepat, sehingga fitrah manusia terbang mengikuti maknawiah dari mau’izhah yang digambarkannya.

Dalam riwayat lain misalnya ketika Imam Ali As melihat rumah salah satu pengikutnya yang besar Imam As menasihatinya dan bersabda: “Dengan rumah luas ini di dunia apa yang kamu perbuat? Lebih dari seperti rumah ini di dunia kamu akan membutuhkannya di akhirat, kalau kamu menginginkan dengan rumah ini dapat membangun rumahmu di akhirat, di rumah ini terimalah para tamu, dan jalinlah silaturahmi dan laksanakan haknya, dalam hal ini kamu telah mempersiapkan rumahmu di akhirat.(12)

Contoh diatas merupakan mau’izhah yang menggugah manusia untuk melaksanakan amal yang lebih baik tanpa menjauhi apa-apa yang manusia telah miliki di dunia. Contoh diatas merupakan contoh kecil saja dari sekian banyak contoh mau’izhah yang dilakukan oleh Maksumin As.

Dalam mencapai melaksanakan pola mau’izhah disini diperlukan beberapa syarat yang harus dipenuhi baik bagi wa’izh (pelaku), mutta’izh )pendengar nasihat) dan wa’zhu (nasihat) itu sendiri.

Adapun syarat-syarat dari wa’izh diantaranya :

1. Iman yang kuat disertai dengan amal.

“Setiap alim jika tidak beramal dengan ilmunya mau’izhahnya akan berlalu dari hatinya (tak akan sampai pada pendengar), seperti berlalunya air hujan pada tempat licin” (13)

2. Pengetahuan agama yang luas.

Pernah suatu ketika ketika Imam Shadiq As mengenakan pakaian putih yang bagus, dan pengikutnya memprotes kepada beliau dan beliau menjelaskan bahwa memang rasul tidak menggunakan pakaian ini, tetapi bukan berarti tidak boleh , sebab pada zaman rasul taraf ekonomi masyarakat tidak seperti pada zamannya, yang dimana pakaian tersebut sudah biasa dipakai (14) Bagaimana mungkin jikalau pengetahuan yang tidak luas bisa memberikan pencerahan kepada orang lain.

3. Menjadi hujjah pagi kaumnya, karena apabila seorang tak dianggap hujjah, maka bagaimana nasihat bisa diterima oleh orang lain.

Syarat-syarat dari pendengar nasihat diantaranya:

1. Kondisi awal keimanan pendengar, misalnya kita dapat melihat pada latar belakang pendengar tersebut berbeda-beda keimanannya, serta pengetahuan akan keberagamaan juga berbeda-beda. Sudah tentu tingkat keimanan yang lebih baik lebih mudah untuk menerima nasihat.

2. Kemungkinan penerimaan dari pendengar. Disini kita bisa memahami tingkat keefektifan dari nasihat yang akan didengar oleh pendengar. Bukan berarti kita menghukum terlebih dahulu bahwa orang ini atau itu tak mungkin menerima nasihat, tetapi kita juga sebaiknya melihat dari sisi diri kita juga, apakah kita sudah menjadi hujjah bagi mereka, apakah juga mereka itu siap dalam mendengar nasihat kita. Mungkin saja terjadi ketidakcocokan keadaan atau kondisi sang pendengar yang tak kondusif dengan nasihat yang akan disampaikan.

Syarat-syarat isi dari nasihat tersebut :

1. Memperhatikan sensitifitas pemikiran dan perasaan sang pendengar. Bisa jadi kita sudah menjadi hujjah atau ilmu sudah cukup tetapi isi dari nasihat tersebut menyinggung perasaan sang pendengar, hal ini bisa berakibat fatal. Dalam sebuah riwayat diceritakan mengenai seorang majikan yang memiliki budak yang banyak dan para budak setiap harinya sibuk untuk melayani sang majikan dalam pekerjaan rumahnya, sedangkan Islam telah menganjurkan untuk membebaskan budak dan beramal dengan kekayaan yang lebih. Ketika itu Imam Kazhim As lewat sebuah rumah yang dimana disana terdapat barang-barang mewah dan penuh dengan hidup senang-senang dan para budak disana sedang membersihkan rumah yang ada di sana, setelah itu Imam As bertanya kepada seorang budak, siapakah yang memiliki ini semua, budak atau orang merdeka, budak tersebut menjawab, orang merdeka, Imam As bersabda tentunya adalah orang merdeka, sebab jikalau budak tak mungkin melawan perintah Tuhannya, setelah mendengar tersebut dari budaknya majikan tersebut bertaubat.(15)

2. Berhubungan langsung dengan kondisi kehidupan sang pendengar. Dalam masalah khusus kadang maksumin menasihati secara khusus, misalnya Rasul Saw menasihati masalah kewanitaan khusus bagi wanita pada zaman itu dipisahkan dengan pria.(16)

3. Mempersiapkan kondisinya, baik itu tempatnya maupun waktunya. Ketika Rasul saw bersama sahabatnya dalam perjalanan di padang pasir yang kering, lalu Rasul Saw memerintahkan kepada sahabatnya untuk mengumpulkan kayu bakar. Sahabat Rasul berkata bahwa di padang pasir ini tak ada kayu bakar, kalaupun ada mungkin sedikit, lalu Rasul Saw memerintahkan mereka untuk mencarinya dan mengumpulkan di satu tempat walaupun sedikit. Setelah terkumpul dan semua berkumpul dekat Rasul Saw, beliau menasihati sahabatnya akan dosa kecil jikalau ditumpuk dan dibiarkan maka akan menjadi besar (seperti kayu bakar ini), karena Tuhan merekam semua perbuatan kita.(17)

4. Kadang menggunakan nasihat pribadi kepada seseorang ataupun secara tersembunyi tidak diketahui orang lain.

5. Mengulang-ulang isi dari nasihat tersebut

6. Menggunakan bahasa yang tidak menghina tetapi menggunakan bahasa yang dapat mengikat hati orang lain.

2. Targhib dan Tarhib

“Targhib” yang berasal dari kata rughbah dan “tarhib” yang berasal dari kata rahbah atau ruhb. Rughbah mengandung makna rasa ingin (ketertarikan) dan rahbat mengandung makna rasa takut. Secara terminologi Targhib adalah menumbuhkan keinginan dan kesukaan yang dinisbahkan kepada sesuatu atau orang tertentu, sedangkan Tarhib adalah menumbuhkan rasa takut yang dinisbahkan pada sesuatu atau orang tertentu. (18)

Metode ini sangatlah penting bagi proses tarbiah, karena isi tarbiah akan lebih sesuai dengan keadaan manusia pada umumnya, dan juga memperkecil jurang pemisah antara tujuan dari tarbiah dan keinginan manusia itu sendiri. Jikalau kita lihat secara umum manusia memiliki kebutuhan dalam kehidupannya baik itu kebutuhan jasmani maupun kebutuhan maknawi, jasmani maupun rohani. Kita sering menemukan kebutuhan jasmani manusia jauh dari kebutuhan tarbiah itu sendiri, apalagi jikalau proses tarbiah yang terlalu kaku tanpa memperhatikan kondisi tersebut. Tetapi keseimbangan diperlukan juga, proses targhib harus diseimbangkan dengan proses tarhib, sebab jikalau tidak diseimbangkan maka justru tujuan dari tarbiah itu sediri akan hilang.

Riwayat yang memberikan contoh Targhib dimana menceritakan ketika Rasulullah saww melewati sebuah perkebunan tanaman , dan pemiliknya sedang menanamnya, Rasul Saw berdiri dan bersabda : Apakah kamu menginginkan saya tunjukkan kepada suatu tanaman dimana lebih kuat dan lebih rindang serta berbuah banyak , dia menjawab : iya, bimbinglah saya. Rasul bersabda : bacalah “subhanallahi wal hamdulillahi walaailaahaillallahu allahu akbar” dan jikalau dzikir ini kamu ucapkan maka setiap tasbih tersebut sebanding dengan sepuluh tanaman buah secara permanen di surga yang akan diberikan kepadamu. Pemuda tersebut berkata : ya Rasulullah (Saw) andalah menjadi saksi bahwa perkebunan ini saya wakafkan kepada para fuqara.(19)

Riwayat lain yang memberikan contoh Tarhib dimana setelah kembali dari perang tabuk Amru ibnu Ma’di Karb salah seorang pemuda yang pemberani di kaum arab datang kepada Rasullullah Saw , dan Rasul Saw mengajaknya kepada Islam, bersabda Rasul Saw:

“Masuklah kamu pada Islam wahai Amru sampai Tuhan menjaga kamu dari ketakutan yang besar (neraka)”. Lalu Amru berkata : apakah ketakutan itu? Setelah itu Rasulullah menceritakan tentang keadaan neraka dan keadaan hari kiamat yang sangat mengerikan, selepas setelah selesai menceritakan hal itu Amru menyatakan dirinya muslim.(20)

Pelaksanaan dari Pola Targhib dan Tarhib ini dapat dilaksanakan diantaranya dengan:

1. Memberitakan berita gembira berupa pahala dan syurga dan memberikan berita ancaman neraka.

2. Memberikan janji kebaikan berupa pahala tentunya dengan janji Tuhan yang menjanjikan kebaikan yang berlimpah bagi orang-orang yang beramal saleh, dan juga mengancam kepada orang-orang yang beramal buruk. Ancaman disini tergantung dari tingkatan keburukan yang dilakukannya. Tentunya ancaman tak mungkin diberikan jikalau khabar gembira dan khabar ancaman murka Allah Swt dan neraka belum diberikan.

3. Menggambarkan tentang baik buruknya suatu amal secara lengkap baik itu manfaat dan mudharat suatu amal, ataupun menceritakan tentang kedudukan suatu amal didepan Allah Swt serta memberitakan hakikat dari suatu amal baik yang biasanya bisa dipandang dengan tinjauan falsafi.

4. Memperhatikan kapan pola ini digunakan kapan pula tidak digunakan

5. Memperhatikan keseimbangan antara targhib dan tarhib.

3. Irsyad

Irsyad mengandung makna memberikan bimbingan menuju arah tertentu atau memberikan pengetahuan dan hidayah kepada seseorang untuk melaksanakan amal yang benar dan baik. Perbedaannya disini dengan sebelumnya selain daripada memberikan pengetahuan yang lebih disertai juga dengan membimbing dalam arti membawa bersama-sama menuju tujuan kesempurnaan tersebut.

Memang kenyataannya dalam memberikan pengetahuan merupakan suatu proses yang berat dibandingkan dengan yang lainnya, sebab disini diperlukan suatu tahapan pengetahuan. Dalam hal ini Maksumin As membuat suatu kumpulan ataupun masyarakat ilmu yang membentuk suatu madrasah ilmiah di Madinah seperti pada zaman Rasul Saw dan yang tercatat dalam sejarah adalah madrasah di zaman Imam Ja’far Shadiq As. Proses inipun menjadi ciri yang khas dalam penyebaran tarbiah islamiah, sebab tarbiah islamiah merupakan transformasi, dan regenerasi ajaran islam itu sendiri dan manusia tak akan mengenal Islam secara sempurna jikalau tidak mengenal ilmu-ilmu islam.

Dalam pola Irsyad disertai dengan tadzakur dan Amr ma’ruf nahi munkar yag akan dijelaskan selanjutnya, memiliki keuntungan yang besar dalam perkembangan syiar dalam kehidupan masyarakat diantaranya:

1. Dapat menumbuhkan suatu komunitas atau kumpulan yang sangat bernilai bagi perkembangan syiar. Pembinaan dan bimbingan yang kontinyu bersama-sama akan melahirkan ikatan kebersamaan saling memahami satu sama lainnya dan bertukar pikiran.

2. Memunculkan kebutuhan untuk menyatu dalam satu bendera dalam kehidupan siasat. Kenapa tidak , kemunculan suatu tempat menuntut ilmu bersama-sama dalam masyarakat dan bimbingan yang berkesinambungan dari sang murabbi, akan menemukan pola pikir yang cenderung sama tujuan dan arahnya.

3. Melahirkan kewaspadaan bersama dengan segala yang membahayakan kehidupan masyarakat berupa keyakinan, kepercayaan serta penghidupan baik itu dari dalam ataupun dari luar. Seperti yang bisa kita lihat pada kehidupan Rasulullah Saw di Madinah.

4. Tadzakkur

Tadzakkur mengandung makna mengingatkan dan juga dekat dengan makna menggugah dengan cara memberikan “pelajaran”. Tadzakkur sebenarnya lebih dari sekedar mengingatkan atas perbuatan salah, dan tidak lebih dari suatu penggugah dengan memberikan “pelajaran”. Sehingga Tadzakkur ada diantara mengingatkan dan memberikan “pelajaran”.

Ada beberapa cara dalam memberikan pelajaran kepada orang lain jikalau kita merujuk pada perkataan dan perbuatan Maksumin As, diantaranya:

1. Dengan perkataan: Artinya ketika seseorang berbuat salah maka baik secara langsung ataupun tidak langsung disampaikan kepadanya dan diberikan penjelasan mengenai yang benar.

2. Dengan Perbuatan: Tidak selalu tadzakur bisa diselesaikan dengan perkataan bahkan lebih banyak memberikan perubahan adalah dengan perbuatan. Dimana dengan perbuatan yang memberikan gambaran hal yang benar maka orang yang berbuat salah tersebut dapat menerimanya secara tidak langsung, seperti halnya Imam Husein dan Imam Hasan As ketika ingin menyalahkan dan memberikan solusi kepada orang tua yang salah dalam wudhu.

5. Amr dan Nahi

Amr dan Nahi adalah perintah dan larangan, yakni memerintahkan untuk berbuat kebaikan dan melarang dari perbuatan buruk. Bedanya dengan pola sebelumnya adalah disini kita perlu memperhatikan adanya suatu ketegasan dalam perintah dan ketegasan dalam larangan. Larangan dan perintah inipun harus disesuaikan dengan perintah dan larangan Tuhan. Tentunya perintah dan larangan merupakan bagian yang tak terpisah dari pola-pola sebelumnya.

Pada dasarnya kelima pola tersebut memberikan cara dan efek yang berbeda-beda akan tetapi hal tersebut bisa disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada. Dan hal-hal yang menjadi syarat Murabbi dan orang-orang yang akan diberikan tarbiah pada umumnya kembali kepada poin-poin yang tertulis pada pola Mau’izhah.

Sumber Bacaan

1. Tarikh Falsafah , jilid-1, hal ke-13

2. Tarikh Falsafah, bagian fadhilah ilmu

3. Merujuk ke “Sireye Tarbiyatie Payambar va Ahlulbait”, jilid ke-2, hal ke-22

4. Qs. Al-Baqarah : 181

5. Qs. Al-’Alaq : 1-4

6. Qs. Al-Jumu’ah : 2

7. Nahjul Balaghah, surat ke-28

8. Bihar Al-Anwar, jilid-77, hal ke-268

9. Sireye Tarbiyatie Payambar va Ahlulbait, jilid ke-2, hal ke-160

10. Sireye Tarbiyatie Payambar va Ahlulbait, jilid ke-2, hal ke-191

11. Nahj Al-Balaghah, khutbah ke-193

12. Bihar Al-Anwar, Jilid ke-4, hal ke-334, riwayat ke-19

13. Bihar Al-Anwar, Jilid ke-2, hal ke-39, riwayat ke-68

14. Al-Kafi, jilid ke-5, hal ke- 65, riwayat ke-1

15. Alkania wa Al-‘Uqbah, Syeikh Abbas, hal ke-168

16. Sahih Bukhari, jilid ke-1, hal ke-34

17. Al-Kafi, jilid ke-2, hal ke-218, riwayat ke-3

18. Mujma’ Al-Washith, bagian Raghb

19. Al-Kafi, Jilid ke-2, hal-368, riwayat ke-4

20. Bihar Al-Anwar, jilid ke-21, hal ke-354, riwayat ke-1