Wahyu dalam Ajaran Kristen
 
Mengenai definisi wahyu dalam agama Kristen ada dua teori yang saling bertentangan, yakni teori dari segi bahasa dan dari segi istilah.

Teori Wahyu dari segi Bahasa

revelation.jpgDalam kitab Falsafe-ye Din (Filsafat Agama) terdapat penjelasan mengenai teori ini dalam bentuk ungkapan demikian, “Sebuah teori yang pada putaran abad-abad pertengahan sangat dominan dan kini diwakili oleh format-format lebih tradisional mazhab Katolik Roma (dan yang mencengangkan, keberadaannya juga dalam pertentangan-pertentangan mazhab Protestan konservatif), dapat dipandang sebagai alamat penerimaan wahyu dari segi bahasa. Berdasarkan teori ini, wahyu adalah sebuah kumpulan hakikat-hakikat yang dijelaskan dalam ahkâm (hukum-hukum) dan premis-premis. Wahyu mentransfer kepada manusia hakikat-hakikat murni Ilahi yang dapat dipercaya. Menurut tulisan ensiklopedia Katolik, “Wahyu dapat didefinisikan sebagai perpindahan sebagian hakikat-hakikat dari sisi Tuhan kepada maujud-maujud berakal melalui beberapa perantara yang ada di balik kejadian biasa alam”. Yang mirip dengan kesimpulan itu mengenai wahyu, sebuah pandangan dalam bab iman, yang didefinisikan dengan penerimaan hakikat-hakikat wahyu dari pihak manusia tanpa alasan dan sebab. Dari sinilah Majelis Syura Vatikan pada tahun 1870 mendefinisikan iman sebagai berikut, “Sebuah kualitas supra natural yang dengannya – sementara kasih Allah mengitari kondisi kita dan datang menolong kita -, kita meyakini bahwa hal-hal yang diwahyukan oleh Allah adalah memiliki realitas”. Atau sebagaimana seorang teolog Kristen modern Amerika menulis, “Bagi seorang Katolik, kata iman, akan terlintas di benak sejenis penerimaan rasional yang mengandung wahyu sebagai hakikat, dan ini dikarenakan oleh kemampuan kesaksian Allah yang mengirim wahyu. Iman adalah reaksi kaum Katolik terhadap sejenis pesan rasional yang disampaikan oleh Allah”.[1]

Dalam kitab ‘Ilm Wa Din (Ilmu Dan Agama) dikatakan, “Hakikat-hakikat wahyu, mencakup sebuah pesan yang dikirim oleh Allah melalui Isa Almasih dan seluruh nabi-nabi yang tercatat dalam kitab muqaddas (suci) dan sunah-sunah para wali agama.”[2]

Dalam Kamus “Kitab Muqaddas” juga terdapat yang demikian, “Firman Allah turun kepada para nabi dan rasul, di mana mereka juga berbicara atas dasar wahyu suci menurut terminologi bahasa manusia, sementara wahyu yang tertulis bisa jadi ditulis oleh nabi atau rasul sendiri atau dikembalikan kepada penulis lain.”[3]

Dalam teori ini, Isa adalah seorang manusia dan anak Maryam, hamba dan utusan Allah. Dia menjelaskan firman Allah kepada manusia dan menyebarkan syariat Taurat. Sebagaimana hal ini diakui sendiri oleh Isa dan orang-orang Kristen terdahulu juga berakidah seperti ini. Dari sebagian ayat-ayat Kitab-kitab Perjanjian Baru dapat disimpulkan yang demikian tersebut, seperti:

“Tuhan Ibrahim dan Ishak serta Ya’kub, Tuhan nenek moyang kita mengagungkan Isa hambanya sendiri.”[4]

“Pertama Allah mengutus hamba-Nya, Isa kepada kalian, sehingga Dia memberkati kalian dengan mengembalikan masing-masing kalian dari dosa-dosa”.[5]

Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.” “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri”.[6]

“Firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku”.[7]

“Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku”.[8]

“Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku”.[9]

Teori Wahyu dari segi Istilah

Dalam agama Kristen, mengenai penjelasan hakikat wahyu terdapat teori lain yang bertentangan jauh dengan teori pertama. Pandangan ini muncul dari kajian khusus tentang ajaran Kristen. Sebagian ayat dari kitab-kitab Injil tampaknya condong demikian dan Paulus yang bukan tergolong hawariyyun (para sahabat terdekat Isa) dan tidak pernah melihat Isa, berusaha keras dalam mempopulerkan dan menyebarkan pandangan ini. Akidah ini, meyakini bahwa Allah menjelma dalam diri Isa dan datang kepada manusia dalam bentuk jasad jasmani. Barangsiapa melihat Isa berarti melihat Allah. Isa adalah anak Allah sementara anak dan Bapa adalah satu hakikat. Berdasarkan hal ini, Isa sendiri adalah wahyu Allah yang menjasad.

Dalam kitab ‘Ilm Wa Din terdapat penjelasan demikian, “Akidah kita, wahyu yang murni adalah diri Isa Almasih sendiri, Kalimat Allah dalam figur manusia. Kitab suci hanyalah sebuah tulisan manusia yang bersaksi akan kejadian wahyu ini. Perbuatan Allah, berada dalam wujud Isa Almasih dan melalui dia, bukan dalam tulisan kitab suci. Oleh karena itu, apa saja yang dikatakan oleh kritik historis dan analisa bersanad, mengenai keterbatasan-keterbatasan manusiawi para penulis kitab suci dan efek-efek budaya yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran mereka, itu semua dapat diterima”.[10]

Dalam kitab Falsafe-ye Din (Filsafat Agama) ditulis, “Menurut akidah para reformis religius abad 16 (Luther – Kalon) wahyu bukanlah sekumpulan hakikat-hakikat tentang Tuhan, akan tetapi Allah masuk ke dalam area eksperimen manusia melalui jalan pemberian efek dalam sejarah. Menurut pandangan ini, ahkam (hukum-hukum) teologi tidak berdasarkan wahyu, akan tetapi tergolong sebagai penjelas terhadap usaha-usaha manusia untuk mengenal makna dan urgensi kejadian-kejadian seputar wahyu”.[11]

Dalam kitab ‘Ilm Wa Din disebutkan, “Luther dan bahkan Kalon, dalam tafsirannya tentang kitab suci, tergolong ahli elastis dan menyederhanakan masalah. Menurut pandangan mereka letak kepercayaan dan sumber validitas wahyu bukan berada dalam nash atau teks yang tertulis (kitab yang bisu), akan tetapi berada dalam diri Isa, yakni subyek wahyu dan letak wahyu. Kitab suci dari sudut pandang ini penting, karena sebagai saksi jujur atas kejadian-kejadian pembebasan yang di sela-selanya terjadi kasih dan ampunan Ilahi dalam kondisi dan keadaan individual mereka sendiri (dan seluruh kaum mukmin) yang menjelma dalam diri Isa Almasih. Menurut teori para reformis, kata wahyu (kalimat Allah) untuk pertama kalinya ditegaskan melalui inspirasi-inspirasi atau ilham-ilham yang diraih oleh setiap orang dari Ruhul kudus.”[12]

Dan pada tempat lain disebutkan, “Allah mengirim wahyu, akan tetapi bukan dengan mendiktekan sebuah kitab maksum (terpelihara dari penyelewengan dan kesalahan), namun dengan kehadiran-Nya dalam kehidupan Isa Almasih dan seluruh nabi serta Bani Israel. Dengan demikian, kitab suci bukanlah wahyu secara langsung namun kesaksian seorang atas refleksi wahyu dalam cerminan kondisi dan pengalaman manusia.”[13]

Di tempat lain kitab tersebut disebutkan, “Wahyu terjadi dalam insiden-insiden murni dan historis yang mana manusia berada di tengah-tengahnya dan juga melalui campur tangan Allah. Dari sisi manusiawi, insiden-insiden ini adalah simbol pengalaman manusia dari sisi Allah dalam detik-detik penting sejarahnya. Dari sisi Ilahiah, insiden-insiden ini membuka perbuatan Allah dalam penyingkapan diri-Nya kepada manusia dan langkah awal dari-Nya dalam kehidupan individual dan sosial. Oleh karena itu, pengalaman manusiawi dan penyingkapan Ilahiah adalah dua sisi dari sebuah realitas. Dalam sejarah Bani Israel, Allah menurunkan wahyu dalam beberapa insiden atau even dan menampakkan kehadiran-Nya. Juga dalam ungkapan ramalan insiden-insiden tersebut dalam ruanglingkup pengalaman religius para nabi, misalnya mengenai sebuah kemenangan atau kekalahan militer mereka dinisbatkan atau disandarkan kepada iradah atau kehendak Allah. Kalangan umum Kristen, menemukan Allah menjelma dalam diri dan prilaku Isa Almasih, yang dalam wujudnya berbaur aktifitas Ilahiah dan insani. Menurut ucapan Uskup Agung, Tanpal, “Wahyu dan ungkapannya, masing-masing terjadi dalam sebuah insiden atau kejadian. Dari sudut pandang ini, perhatian Allah bukan demikian bahwa Dia mendiktekan sebuah kitab maksum dengan lontaran ajaran-ajaran yang tidak menerima kesalahan, akan tetapi wadah penampakan beberapa insiden dan peristiwa dalam kehidupan individual dan sosial. Kitab suci itu sendiri secara keseluruhan adalah sebuah tulisan manusia, yang mengisahkan realitas-realitas wahyu”.[14]

Untuk lebih jelasnya mengenai definisi esensi wahyu dalam agama Kristen, kita nukilkan sebuah tema dari enseklopedia agama, “Para penyusun Perjanjian Baru membangun pemahaman dan kesimpulannya mengenai wahyu berdasarkan Perjanjian Lama, dan mereka menerima wahyu sebagai jelmaan zat Allah dalam diri Isa dan melalui Isa. Penjelmaan mereka ini yakini sebagai manifestasi keagungan diri, tidak berubah-rubah dan ketiadaan tandingan Tuhan dalam sejarah (Surat Paulus kepada kaum Ibrani, bab pertama). Manifestasi ini tiada tanding, karena sebagaimana yang dipahami oleh kaum Kristen, perantara, pelaku, dan kandungan wahyu (diri Isa, ajaran-ajaran dan usahanya dalam pembebasan kemanusiaan) dalam diri Isa, merupakan beberapa unsur yang seluruhnya adalah satu, yang memformat subyek daripada wahyu. Penjelasan dan tafsiran teologis atas “Perjanjian Baru” tentang wahyu, dapat ditemukan dalam surat Paulus dan Yohanes.

Paulus, untuk menjelaskan pengertian wahyu, sebelum kata lain, Paulus menggunakan kata apokaluptein yang bermakna menyingkap tirai, keluar dari kesamaran, dan juga memakai kata phaneroun yang berarti menampakkan dan menunjukkan. Dasar pembahasannya adalah penyingkapan tirai rahasia-rahasia yang sebelumnya tertutup bagi beberapa orang, dan sekarang menjadi jelas. (Surat Paulus kepada Efesus, bab pertama, ayat 9) dan (Surat Paulus kepada Kolose, bab pertama, ayat 26)

Oleh karena itu, wahyu bermakna penyingkapan tirai atau penemuan rencana dan manajemen Ilahi, dimana Allah mendamaikan ras manusia dalam diri Isa Almasih dengan-Nya. Wahyu adalah aktifitas Ilahi Sang Pencipta dan perbuatan yang membawa kepada keselamatan akhirat, bukan hanya proklamasi sebuah rangkaian misi-misi atau beberapa pengetahuan. Dalam kejadian wahyu, Tuhan benar-benar sangat aktif, dan Dialah yang sejak azal demikian sehingga muncul kepada ras manusia dari jalan kasih, melalui Anak-Nya. Penjasadan dan ingkarnasi Anak-Nya dalam rahim seorang wanita (Surat Paulus kepada Galatia, bab empat, ayat 4) dan kematian yang penuh pengorbanan Anak ini di atas tiang salib, pertumbuhan, kesempurnaan dan penyatuan alam wujud di bawah naungannya sebagai pemimpin dan penghulu orang-orang mati (Surat Paulus kepada penduduk Roma, bab tiga, ayat 25; Surat Kolose, bab pertama, ayat 14-19), seluruhnya dalam rangka pelaksanaan program rahasia Ilahi. Isa As sendiri dalam program ini adalah sesuatu yang terkirim sebagai wahyu. Kematian dan kebangkitan Isa, bahkan gereja sebagai badannya, membentuk unsur-unsur simbolik dan rahasia keselamatan serta kebahagiaan. Para sahabat dekat (hawariyyun) Isa, juga menyingkap keadilan Allah yang mengantar kepada keselamatan (maksudnya mereka juga dapat berbicara tentang wahyu) (Surat Paulus kepada penduduk Roma, bab pertama, ayat 17) dari sisi bahwa mereka mengumumkan kepada khalayak berita-berita gembira yang dibawa oleh Isa. (Surat kedua Paulus kepada Korintius, bab kedua, ayat 14)”.[15]

Wahyu Dalam Injil

Untuk mengenal esensi wahyu dalam agama Kristen lebih baik kita merujuk kepada kitab Injil sebagai kitab suci mereka. Yang disebutkan dalam Injil mengenai hal ini akan disinggung dalam beberapa topik:

Isa Dari Sudut Pandang Injil

Dalam Injil disebutkan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah . Firman itu telah menjadi Manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran “.[16]

“Dan dialah bentuk tuhan yang tidak terlihat. Anak pertama dari seluruh ciptaan, karena pada dirinya segala sesuatu tercipta, apapun yang ada di langit dan di permukaan bumi, mulai dari segala sesutu yang terlihat dan tidak terlihat, kekuasaan dan kerajaan serta seluruh kekuatan tercipta melalui perantaranya dan untuknya, dia ada sebelum segala sesuatu dan semuanya berada dalam dirinya”.[17]

“Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”[18]

“Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” [19]

“Akan tetapi kita dari satu Tuhan yakni Bapak yang segalanya dari-Nya dan kita adalah milik-Nya dan satu Tuhan yakni Isa Masih yang segalanya dari-Nya dan kita adalah dari-Nya”.[20]

“Karena Dia tidak pernah mengatakan kepada satupun dari malaikat bahwa engkau adalah puteraku, Aku hari ini menciptakanmu dan juga Dia disebut Bapak dan ia akan menjadi puteraku”.[21]

“Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”".[22]

“Masih adalah kekuasaan dan hikmah Tuhan”.[23] “Aku dan Bapa adalah satu”.[24]

Kata Filipus kepada-Nya: “Yesus, tunjukanlah Bapa itu kepada kamu, itu sudah cukup bagi kami.”

Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?”.[25]

Dalam kitab Kamus Kitab Muqaddas disebutkan, “Maksud dari firman Allah, kami adalah Isa Masih”.[26]

Tujuan Penciptaan dan Pengutusan Isa

Dalam Injil disebutkan dua tujuan dari penciptaan dan pengutusan Isa:

Tujuan pertama adalah menunjukkan dan memperkenalkan diri,“Bahwa Tuhan inginkan untuk memperkenalkan ia apa, wilayah keagungan putra ini di antara umat-umat, bahwa Masih itu di antara kalian dan adalah harapan keagungan.”[27]

“Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.”[28]

“Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”.[29]

Tujuan kedua adalah perantara ampunan dosa-dosa dan penebusan kemaksiatan-kemaksiatan orang-orang Kristen, “Dia mencintai kita dan mengutus putera-Nya untuk menjadi tebusan dosa-dosa kita.”[30] “Akan tetapi apabila kita melangkah dalam cahaya maka sedemikian rupa Dia berada dalam cahaya sehingga kita ikut serta dengan satu sama lain dan darah putera-Nya Isa Masih membersihkan kita dari dosa.”[31]

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”[32]

“Setiap kali Allah bersama kita maka siapa yang melawan kita, Dia yang tidak menyia-nyiakan putera-Nya bahkan menyerahkannya (putera) di jalan kita semua, bagaimana mungkin Dia tidak akan memberikan segalanya kepada kita.”[33]

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”[34]

“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”[35]

Turunnya Ruhul Kudus

Proklamasi kenabian Isa terjadi ketika Ruhul Kudus turun kepadanya,“Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit. Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”[36]

“Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”[37]

“Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. “[38]

“Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus.“[39]

“Maka tampaklah kepada Zakaria seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan… Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakaria, sebab doamu telah dikabulkan.”"[40] Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.”[41]

” Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret.”[42]

“Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”[43]

Isa mendengar Firman Allah dan mengajarkan kepada umat, “Isa berkata kepada mereka: “Ketika kalian mengangkat putera manusia pada saat itulah kalian akan mengetahui bahwa itulah Aku dan Aku tidak membuat-buat akan tetapi Aku berbicara dengan apa yang telah diajarkan Bapa kepadaKu”".[44]

“Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.”[45]

“Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku”.[46]

“Allah yang pada masa dahulu berbicara dengan nenek moyang kita dengan berbagai macam bentuk dan cara melalui perantara para nabi dalam hari-hari akhir ini Dia berbicara dengan kita melalui perantara puteraNya yang dijadikan sebagai pewaris dari seluruh keberadaan dan menciptakan dunia dengan melaluinya. Yang adalah penerangan keagungan dan penutup substansiNya serta mencakup seluruh keberadaan dengan firman kekuatanNya karena Dia telah menyempurnakan kesucian dosa-dosa maka Dia duduk di sebelah kanan zat Mahatinggi di tempat yang paling tinggi.”[47]

Wahyu Dari Sudut Pandang Penyusun Kamus Kitab Suci

Penyusun kamus kitab suci mengartikan wahyu dengan ilham atau inspirasi. Ia berkeyakinan bahwa, bahkan para penyusun kitab-kitab tertulis (tersusun) dalam kitab suci, telah menerima wahyu, dan seluruh kitab-kitab tersebut adalah ilham dari Allah. Dia menulis, “Pada umumnya yang dimaksud dari wahyu adalah ilham.”[48] Oleh karena itu, dikatakan, “Seluruh kitab adalah dari ilham Allah.”[49]

Dan wahyu dengan pengertian ini adalah hululnya maha suci Ilahi di dalam para penyusun kitab, dan ini juga memiliki beberapa bagian:

Pertama, pengetahuan dari hakikat-hakikat ruhaniah dan peristiwa serta kejadian akan datang dilontarkan kepada mereka, yang tanpa melalui ilham tidak akan pernah teraih sama sekali oleh mereka.

Kedua, memberikan petunjuk kepada mereka untuk menyusun peristiwa dan kejadian terkenal dengan hakikat-hakikat tertentu, yang tertulis dalam kitab dan disebutkan dalam ucapan yang terjaga dari kesalahan. Sebagaimana dikatakan dalam Surat kedua Petrus, bab pertama, ayat 21, “Orang-orang banyak berbicara dari sisi Allah dengan perantara ruhul kudus yang tertarik.”

Dan jelas bahwa, orang yang demikian sama sekali tidak berbicara mengada-ada, akan tetapi ruhul kuduslah yang berpengaruh dalam dirinya, dia menggunakan seluruh kekuatan dan karakter terpendamnya sesuai dengan petunjuk dan ruh maha suci Ilahi, dan dari sinilah tampak anugerah-anugerah alami dan metode serta bentuk penyusunan dan penulisan khusus pada masing-masing penyusun dan penulis mulia kitab suci, sementara ulama dan cendikiawan berbeda pendapat dalam menjelaskan matlab di atas, akan tetapi mayoritas kaum kristen berkeyakinan bahwa Allah mengilhami para penulis dan penyusun kitab suci supaya menggunakan kehendak suci Allah dalam kitab murni dan menuliskan iman dan keselamatan abadi anak manusia dengan tanpa salah, lupa dan lalai.”[50]

Demikian juga, dalam kamus kitab suci, di belakang kata “kitab suci” tertulis seperti ini, “Maksud dari seluruh kitab-kitab yang diilhamkan adalah membicarakan seputar penciptaan dunia, perbuatan pengorbanan, penyucian dan prilaku Allah kepada manusia. Dan seluruh kenabian-kenabian mendatang dan nasehat-nasehat religius dan literatur yang diperlukan dalam setiap tingkatan untuk anak manusia di setiap zaman dan tempat berada dalam diri mereka. Dan para penulis yang memperoleh ilham adalah 40 orang yang berasal dari seluruh tingkatan anak manusia mulai dari penggembala hingga pemimpin dan raja yang hidup dalam kurun waktu 1600 tahun dan seluruhnya dari bangsa Ibrani, kecuali Lukas yang juga menulis Injilnya dari sumber-sumber Yahudi, dan Lukas terkenal lantaran kebersamaan dan pertemanannya dengan Paulus”.[51]

Dalam kitab itu juga disebutkan demikian, “Firman Allah turun kepada para nabi dan rasul yang berbicara seputar wahyu suci sesuai dengan terminologi bahasa anak manusia dan wahyu yang tercantum di kitab telah ditulis oleh nabi dan rasul sendiri dan atau diserahkan kepada penulis lain.”[52]

Pada tempat lain dari kitab tersebut dicantumkan demikian, “Ilham yakni penyingkapan tabir dari sisi Allah. Efek penyingkapan tabir secara supra natural yang menguasai rasio-rasio para penulis kitab-kitab suci sehingga mereka menjelaskan kehendak suci Ilahi dengan tanpa kelalaian, kelupaan dan kesalahan.”[53]

Sebagaimana yang anda perhatikan, penyusun kitab suci dalam penafsiran wahyu mengumpulkan di antara dua pandangan (segi bahasa dan segi istilah). Dari sisi lain, wahyu diartikan sebagai ilham dan seluruh kitab-kitab suci diyakini berasal dari ilham-ilham Allah, sementara dari sisi lain lagi wahyu ditafsirkan sebagai hululnya ruh suci Ilahi dan ruhul kudus dalam diri para penyusun kitab.

Kesimpulan

Akidah orang-orang kristen tentang wahyu dapat disimpulkan dalam beberapa hal sebagai berikut:

1. Isa Almasih adalah firman Allah. Penyingkapan zat Allah dan rahasia kehidupan dia berada dalam penjelmaan firman Allah. Senantiasa bersama Allah bahkan Allah itu sendiri dan dalam penciptaan dunia memiliki andil. Zat Mahasuci Ilahi menjelma dan hulul (ingkarnasi) dalam dirinya dan Dia dipilih sebagai anak tunggal serta diutus kepada manusia dalam bentuk badan jasmani. Bapa dan anak adalah satu hakikat. Barangsiapa yang melihat dan mengenal Isa berarti melihat Allah. Dalam Allah, yang adalah Bapa, dan dalam firman zat-Nya, yang adalah anak, berdiri tegak sebuah kehidupan esensial, yang seperti (sama) ruh keduanya, dan itulah Ruhul kudus.

2. Makna wahyu ialah bukan misi atau surat serta penyampaian surat Isa, akan tetapi bermakna manifestasi dan ingkarnasi zat Mahatinggi Ilahi dalam diri Isa dan turun untuk umat manusia. Dalam wahyu Isa, Allah sendirilah yang turun kepada umat manusia dalam badan Isa dan firman Allah yakni penjelmaan dalam diri Isa dan penampakan untuk umat manusia. Isa Almasih melalui mukjizat-mukjizat dan hal-hal luar biasa mengabarkan akan keberadaan Allah dan menjelaskanNya. Singkatnya, Isa Masih adalah firman Allah yang menjasad (menjelma dalam bentuk jasad), perbuatan dan perkataannya adalah perbuatan dan perkataan Allah, bukan sebagai pembawa surat.

3. Dalam wahyu Isa terdapat dua tujuan, pertama adalah penyingkapan rahasia Ilahi dan penjelmaan serta penampakan keberadaan zat Mahasuci Allah dalam keberadaan Isa Masih.Tujuan kedua adalah keselamatan umat manusia dan pengampunan dosa mereka di dalam pengorbanan Isa yang menanggung pembunuhan di tiang salib.

Demikianlah ringkasan pandangan istilah orang-orang kristen seputar masalah wahyu. Pandangan ini bedasarkan kepada penerimaan ketuhanan Isa yang dinyatakan oleh ayat-ayat permulaan bab pertama Injil Yohanes, dan ayat-ayat lain dalam Injil-Injil lain serta surat-surat perjanjian baru. Paulus yang bukan termasuk sahabat dekat atau hawariyyun, dan sekalipun tidak pernah melihat Isa, setelah itu berusaha dengan sekuat tenaga dalam menyebarkan dan mempropagandakan ajaran kristen dalam bentuk ini, sehingga dia dianggap sebagai tokoh kedua kristen dan pendiri ajaran kristen Ilahiah. Dan pandangan ini adalah akidah trinitas, yakni kesatuan Allah, Isa, dan Ruhul kudus, atau kesatuan Bapa, anak, dan Ruhul kudus. Permasalahan trinitas muncul sebagai problem ilmiah. Umat kristen tidak mampu memberikan penafsiran rasional yang dapat dipahami atas keyakinan serta ajaran ini, dan mereka tidak dapat melontarkan jawaban yang memadai terhadap kontradiksi-kontradiksi yang ada. Kritik dan kajian pandangan ini tidak termasuk dalam pembahasan kita kali ini.